Terikat Dusta

Terikat Dusta
Sarapan Pagi


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Oh, kamu sungguh beruntung Re," ucap Fabian seraya berdiri dan berjalan menuju tempat dimana ia tadi membuat salad dan mulai membersihkannya.


Dapat Renata lihat air muka Fabian yang berubah sendu dan Renata sungguh merasa tak enak hati karenanya.


Renata pun berdiri menghampiri Fabian yang tengah membersihkan sisa-sisa potongan buah.


"Aku bantu ya Bi,"


"Gak usah sayang, kamu duduk istirahat ya" jawab Fabian.


Sayang ? Renata bernafas lega, sepertinya Fabian tak marah.


Fabian memasukkan sisa buah segar kembali kedalam kulkas yang letaknya tak jauh dari sana. Sementara Renata terus memperhatikan.


"Mau makan sekarang ?" Tanya Fabian.


Renata menggelengkan kepalanya.


"Re, aku gak akan pulang kalau kamu gak makan. Apa gak kasihan ma Celia ? Dia udah nunggu aku. Jadi makan ya?"


"Makan bareng kamu ?" Renata balik bertanya.


Fabian tersenyum, Renata mulai memperlihatkan sisi manjanya dan itu membuat Fabian sangat gemas.


" Iya ayok aku temani makan," jawab Fabian sembari mengecup bibir mantan istrinya itu sekilas membuat Renata kembali merona.


"Kamu duduk, Re. Tiap gak nurut aku hukum, nih," ucap Fabian dengan senyum jahilnya.


"Try me!" ucap Renata menantang Fabian dengan mengangkat dagunya. Membalas kejahilan mantan suaminya itu.


Pandangan mereka saling beradu. Fabian  tak menyangka Renata akan menantangnya. Bukannya takut, wanita itu lebih mendekati Fabian, lebih tampak sedang menggoda daripada menantang. Hingga membuatnya tak dapat menahan lagi.


Sedetik...


Dua detik...


Pandangan mereka masih terpaku satu sama lain. Dengan sekejap mata bibir Fabian menyambar bibir  ranum Renata. Memberi kecupan-kecupan ringan hingga dengan tak sabarnya pria itu memagut lembut dan menuntut, mengulumnya bergantian dengan penuh penghayatan. Fabian yang sudah diselimuti kabut gairah, semakin memperdalam ciumannya. Tangannya menahan kepala Renata agar tak menjauh.


Tak Fabian sangka ternyata Renata membalas ciuman itu. Membuatnya semakin bersemangat memberikan sesapan -sesapan panas di bibir mantan istrinya itu.


Suara decapan terdengar begitu nyata padahal tak hanya mereka berdua yang berada di rumah itu.


Tangan Fabian mulai membuka kancing baju piyama Renata satu persatu. Seolah tak mau kalah kini  tangan Renata juga mulai membuka kancing kemeja Fabian tanpa memisahkan tautan bibir mereka. Keduanya melakukan dengan cepat. Mereka membuang kemeja mereka asal. Kini tubuh bagian atas mereka sama-sama terbuka, hanya menyisakan kain berenda penutup bagian atas Renata.


Kegiatan keduanya membuat tubuh mereka bergerak tak menentu, beberapa kursi berderit tergeser tak beraturan.

__ADS_1


Mereka terus bergerak tanpa memisahkan tautan bibir mereka hingga pada akhirnya tubuh Fabian memenjarakan tubuh Renata di salah satu dinding dapur.


Tangannya menahan kedua tangan Renata di atas kepala,  bibir Fabian yang basah dan kenyal  bergerak turun. Menyusuri leher dan tulang selangka Renata, meninggalkan jejak kemerahan di tubuh mulus wanita itu.


Suara desah manja lolos dari bibir wanita itu. "Eeuughh Bi...." Suara itu terdengar indah di telinga Fabian. Pria itu menyeringai, dengan semangat menggebu, Fabian melanjutkan aksinya dengan penuh semangat.


Hingga suara benda terjatuh yang begitu nyaring menyadarkan mereka.


"Maaf.. Pak.. Bu... Saya kira tak ada siapa-siapa," ucap Wulan yang menundukkan wajahnya karena teramat sangat malu.


Baru saja Wulan menjatuhkan keranjang cucian yang ia gunakan untuk membawa cucian yang telah selesai ia jemur. Oleh karena itulah ia berjalan menuju dapur dan begitu kaget melihat kedua majikannya sedang bermesraan.


Fabian membalikkan badannya dan menutupi tubuh setengah telanjang Renata di balik tubuhnya yang kekar. Dapat Fabian rasakan hembusan nafas Renata yang terengah-engah di punggung polosnya.


"Ah kami yang meminta maaf, " ucap Fabian dengan suara seraknya.


Sedangkan Renata terdiam seribu bahasa.


"Sekali lagi maafkan saya ya Pak, Bu." Ucap Wulan yang merasa benar-benar bersalah dengan terus menundukkan kepalanya dan mengambil keranjang yang terjatuh.


"Mmm sudahlah kamu gak salah," jawab Fabian lagi.


"Kita mau sarapan. Kamu udah makan belum ?" Tanya Fabian memecahkan kecanggungan.


"Saya kesini untuk mengambil sisa cucian yang akan di jemur tapi biar nanti saya kembali lagi," jawab Wulan yang tak sesuai dengan pertanyaan Fabian dan pergi menjauhi mereka.


Renata pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Fabian.


"Sebaiknya kita segera makan," ucap Fabian pada Renata seraya merapikan rambut Renata yang terlihat tak beraturan karena ulahnya.


"Hmm i.. iya" jawab Renata terbata.


Renata mengambil 2 piring nasi goreng yang telah disiapkan sedangkan Fabian merapihkan kursi-kursi yang letaknya tak beraturan.


Kini mereka duduk berhadapan menikmati sarapan mereka dengan perasaan yang begitu campur aduk.


"What the hell is that ?? Apa yang baru saja terjadi," batin Renata dalam hatinya begitu juga Fabian yang tengah berpikiran sama. Keduanya saling curi pandang satu sama lain. Apa yang telah terjadi mungkin dorongan primitif dari diri mereka atau akumulasi rindu yang terpendam dan tak terungkapkan.


Tak lama notifikasi telepon masuk berbunyi, ternyata Celia yang melakukan panggilan.


Celia menelpon menayangkan kapan Fabian akan menjemput dan Fabian mengatakan ia akan menjemput Celia sekarang juga.


"Re, aku harus pergi sekarang. Celia sudah tak sabaran," ucap Fabian sembari meminum segelas air untuk mendinginkan kepalanya yang terasa panas.


"Oh o..oke," jawab Renata masih dengan kegugupan nya.


Fabian berdiri dan berjalan menuju pintu  depan, namun sebelumnya mengambil beberapa benda pribadi miliknya yang berada di ruang tv sementara Renata mengekori di belakang.

__ADS_1


"Aku pulang Re," ucap Fabian


"Dan kurasa kita harus bicara," lanjutnya lagi seraya mengelus halus pipi Renata dengan salah satu telapak tangannya.


Renata tahu dan mengerti tentunya tentang kegiatan panas yang baru saja terjadi.


"Iya," jawab Renata patuh.


Fabian menatap dalam mata mantan istrinya itu, ingin sekali mengulang kegiatan tadi namun putrinya sudah tak sabar menanti kedatangannya.


Fabian membuka pintu hendak keluar namun begitu terkejut mendapati Jamie dan anaknya tengah berdiri di depan pintu.


Keduanya sama-sama terkejut, begitu pun Renata.


"Baru saja mau aku ketuk pintu nya," ucap Jamie yang tersenyum ramah pada Fabian juga Renata.


"Collin ingin sekali bertemu dan bermain dengan Celia," lanjut Jamie.


"Tapi Celia tak ada di rumah, setiap weekend adalah waktunya denganku." Jawab Fabian.


"Oh kamu lagi jemput Celia ?"


"Nggak, Celia udah dari malam sama omanya. Aku kemari hanya untuk menemani Renata yang terkena demam."


"Oooh,"


"Oke Re, aku pulang ya. Terimakasih sarapannya," ucap Fabian pada Renata dan mencium bibirnya sekilas.


Dokter Jamie bisa melihatnya dengan begitu jelas.


"Eemm Bi, bisakah kita berbicara?" Tanya dokter Jamie ketika Fabian keluar dari pintu rumah Renata.


"Tentu Kak, tapi maaf hari ini jadwal aku dengan putriku. Bagaimana besok malam ? Aku free," jawab Fabian.


"Oke, besok aku kabari kita bertemu dimana," jawab dokter Jamie.


"Baiklah Kak, aku tunggu kabar darimu,". Ucap Fabian seraya pergi menuju mobilnya terparkir.


Dokter Jamie terus memperhatikan arah pandangan Renata yang hanya tertuju pada mantan suaminya itu meskipun kini mobil Fabian mulai beranjak pergi, Renata tak jua mengalihkan pandangannya.


Tbc...


Thanks you for reading ❤️


Jangan lupa like dan komen yaaa


Terimakasih atas hadiah dan vote nya 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2