Terikat Dusta

Terikat Dusta
KS : Mencari


__ADS_3

Happy reading ❤️


"Jangan tinggalin aku, Ki. Aku mohon... Aku bersalah, aku sangat bersalah... Maafkan aku, Sayang... Maafkan aku..." Ucapnya lagi seraya meluruhkan tubuhnya di atas lantai dan meraup wajahnya frustasi.


Sakti sadar, dirinya tak bisa seperti ini. Ia segera bangkit dan memandang cincin pernikahan Kirana yang berada di telapak tangannya. Cincin yang hampir tak pernah Kirana tanggalkan.


"Ini akan selalu jadi milikmu, aku akan menyematkannya pada jari manismu lagi. Tunggu aku," ucap Sakti seraya memasukkan cincin itu kedalam saku jasnya.


Sakti berjalan dengan tergesa menuju mobilnya terparkir dan dengan kecepatan tinggi ia memacukan mobilnya padahal malam mulai larut.


Tempat yang pertama ia datangi adalah rumah orang tua Kirana yang berada di Jakarta. Meskipun tak ditempati orang tua Kirana tapi ada asisten rumah tangga yang mengurusnya.


Rumah itu tampak sepi, Sakti pun menekan bell di pagar berkali-kali hingga datanglah seorang pekerja yang menghampiri Sakti.


Setelah bertanya dan meminta izin, Sakti pun memasuki rumah itu untuk memastikan keberadaan Kirana tapi ternyata istri dan  anaknya itu tak berada disana. Dengan perasaan kecewa Sakti pun meninggalkan rumah itu.


Sakti terus berusaha menghubungi Kirana namun tetap tak bisa. Lalu ia menghubungi kakak iparnya namun sama juga tak bisa dihubungi. Tak mungkin ia menghubungi orang tua Kirana selarut ini, ia akan menunggu hingga esok pagi.


Berkendara tak tentu arah, Sakti pun mulai kelelahan. Ia mulai melonggarkan dasinya yang tadi pagi Kirana pasangkan.


Sakti tersenyum kecut mengingat itu.


Akhirnya Sakti menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung apartemen mewah. Tak ingin sendirian, ia putuskan untuk bermalam di apartemen adiknya Fabian.


Fabian mengerjapkan matanya ketika membuka pintu, sepertinya ia telah tertidur.


"Kak ? Lo mab*k apa gimana ?" Tanya Fabian yang heran akan kedatangan kakaknya pada waktu tengah malam seperti ini.


Tanpa dipersilahkan, Sakti menerobos masuk ke dalam apartemen Fabian.


"Lo berantem ma bini ? Diusir kak Kirana ? Tumben banget istri Lo marah sampai kaya begini," ucap Fabian beruntun.


"Berisik, Bi ! Gue cuma mau ikut tidur," jawab Sakti yang langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Fabian berjalan ke dalam kamar dan kembali dengan sebuah selimut di tangannya.


"Lo ganti baju dulu kek, jorok amat." Ucap Fabian, tapi Sakti diam dengan memejamkan matanya.


Sebenarnya kepala Sakti begitu berat dengan berbagai macam pikiran, namun ia bingung harus bercerita dari mana.


Melihat Sakti yang sepertinya belum siap berbicara, Fabian memutuskan kembali ke dalam kamarnya.


Sakti memejamkan matanya mencoba untuk tertidur. Matanya memang terpejam, namun ia tak terlelap. Setiap suara masih dapat ia dengar, bahkan suara gerakan jam setiap detiknya dapat ia dengar dengan jelas dan itu terjadi hingga pagi menyapa.


Ia bangkit untuk duduk, kepalanya terasa berdenyut hebat. Sakti meraup wajahnya dengan kedua tangan.


Hal pertama yang ia lakukan adalah mencoba menghubungi Kirana lagi, namun tetap sama seperti hari sebelumnya masih tak dapat dihubungi. Dengan takut-takut, Sakti mencoba menghubungi mertuanya namun sama halnya dengan Kirana. Mereka tak dapat dihubungi.


Fabian keluar dari kamarnya dan datang menghampiri.


"Sebenarnya Lo kenapa? Kata Renata kamu juga nelpon dia semalam nanyain kak Kirana,"


"Ceritanya panjang," jawab Sakti dengan tatapan kosong ke sembarang arah.


"Gue dengerin walaupun panjang," jawab Fabian.


Sakti hendak bercerita ketika ponsel Fabian berdering.


"Bentar gue terima telpon dulu," ucap Fabian seraya berdiri dan berjalan sedikit menjauhi.


"Ya, sayang aku udah bangun. Sarapan roti atau cereal aja kayanya. Love you sayang," ucap Fabian pada lawan bicaranya yaitu Renata.


Sakti menatapnya dengan iri.


Dulu...


Kirana pun selalu memperlakukannya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

__ADS_1


"Bodoh !" Sakti engumpat dirinya sendiri.


"Lo bodoh Sakti !" Umpatnya lagi.


"Jadi gimana ceritanya?" Tanya Fabian.


"Tar aja deh. Gue pinjem baju Lo, Bi. Mau mandi terus pergi." Jawab Sakti.


"Ke kantor ? Barengan aja."


"Gak, gue mau ke Singapura," jawab Sakti .


***


Sakti tiba di Singapura pada siang hari, tujuan pertamanya adalah kediaman orang tua Kirana.


Setelah menunggu beberapa saat, pelayan di rumah orang tua Kirana datang menghampirinya. Namun pil kekecewaan harus Sakti telan kembali. Orang tua Kirana tidak ada di tempat. Menurut pelayannya, kedua orang tua Kirana sedang berlibur ke luar negeri.


Sakti pergi dengan rasa kecewa. Kali ini ia akan mengunjungi kantor kakak iparnya. Sakti kembali menunggu dengan cemas.


Tidak sesuai dengan harapan, yang menemui dirinya bukan lah Robby namun asistennya dan mengatakan bahwa kakak ipar Sakti tengah melakukan perjalanan bisnis ke Shanghai China untuk 2 Minggu ke depan.


Sakti mulai merasa cemas, pikiran buruk menghantuinya. Ia begitu mengkhawatirkan Kirana juga kedua anaknya.


Ponsel dalam saku celananya bergetar. Dengan tergesa Sakti mengambil benda pipih itu, dan kecewa ketika bukan nama Kirana yang tertera di sana.


Sakti : halo


Papi Sakti : kamu dimana?


Sakti : mmm, aku ada janji ketemu klien


Dengan terpaksa Sakti berbohong.


Papi Sakti : kamu di Singapura ? Mencari Kirana ?


Sakti terdiam tak menjawab.


Papi Sakti memutuskan panggilan itu lebih dulu, dan meninggalkan Sakti yang terdiam membeku.


***


Sementara itu Kirana tengah menemani kedua anaknya berenang di salah satu apartemen mewah dengan ayah dan ibunya yang juga menemani disana.


Mereka tahu Sakti akan menyusul, sehingga untuk sementara Kirana bersembunyi dulu.


"Sakti mendatangi rumah dan kantor kakakmu," ucap ayah Kirana.


Kirana menanggapinya dengan tak acuh.


"Maafkan ayah karena menjodohkan mu dengannya. Ayah kira Sakti akan menjadi suami yang baik," ucap ayah Kirana penuh sesal.


Melihat wajah ayahnya yang menirus dan terlihat lelah, Kirana pun tak ingin menambah beban pikiran ayahnya itu.


"Ayah tidak bersalah. Kami sendiri yang menyetujui perjodohan itu hanya saja jodoh kami berakhir sampai disini. Aku juga gak menyesal menikah dengan Sakti, karena pernah melalui masa-masa bahagia dan karenanya aku mempunyai 2 anak yang luar biasa membuat ku bahagia. Jadi Kirana mohon, ayah dan ibu jangan menyalahkan diri kalian." Jawab Kirana berusaha menenangkan.


"Ibu berharap kamu bahagia, Nak." Ucap ibunya seraya memberikan usapan-usapan lembut di punggung Kirana.


"Tentu saja aku akan kembali bahagia. Ibu jangan khawatir," jawab Kirana.


Kirana memandang kedua anaknya dari kejauhan. Apa yang ia ucapkan kepada orangtuanya adalah hal yang benar.


Ia pernah merasakan masa-masa paling bahagia dalam hidupnya ketika masih bersama Sakti sehingga membuat dirinya jatuh cinta pada suaminya itu meskipun kata cinta tak pernah terucapkan dan kehadiran kedua anaknya adalah hal yang paling membuatnya bahagia.


Pikiran Kirana melayang, membayangkan kembali ketika ia harus melepaskan cincin pernikahannya. Itu adalah pergulatan batin yang paling berat yang pernah Kirana rasakan. Hatinya terasa ngilu ketika harus melepaskan cincin itu. Bayangan Sakti ketika menyematkan ke jari manisnya terlihat jelas dalam pikiran Kirana.


Kirana melepas cincin itu dengan bayangan kilas balik hidupnya. Masa bahagia dan pahit terbayang begitu jelas dalam benaknya hingga dengan mantap Kirana melepaskan cincin itu dan mengembalikan pada Sakti sebagai tanda terputusnya hubungan mereka.

__ADS_1


Tak terasa, air bening di pelupuk matanya membasahi pipi. Dengan cepat Kirana menghapusnya dengan punggung tangan.


Kirana tak ingin kedua orangtuanya melihat ia menangis. Kirana tak ingin ayah dan ibunya merasa bersalah dengan hal yang tengah menimpa dirinya.


***


Sakti tiba di Jakarta pada sore hari. Ia langsung menuju kediaman orangtuanya yang telah menunggu kedatangannya.


"Duduk !"


Sakti pun menuruti perintah itu.


"Kami tahu apa yang terjadi antara kamu dan Kirana. Papi juga sudah menghubungi kedua orang tua Kirana untuk membahas masalah ini. Apa yang kami lakukan pada kalian memang salah. Tak seharusnya kami melakukan perjodohan." Ucap ayah Sakti.


Sakti terdiam, berusaha menelaah setiap ucapan ayahnya.


"Apa Papi tahu kalau Kirana gugat cerai aku ?"


Ayah Sakti menganggukkan kepalanya.


"Kenapa Papi gak bilang ?" Tanya Sakti dengan suara sedikit meninggi.


"Apa untungnya ? Kirana tetap akan menceraikan mu."


Sakti terdiam tak dapat berkata apapun. Apa yang dikatakan ayahnya memang ada benarnya. Kesalahan yang dia lakukan begitu fatal, dan Kirana memang pantas menceraikannya.


Namun Sakti sadar, ia tak ingin ditinggalkan. Ia ingin Kirana kembali dengan kedua anaknya. Ada perasaan kosong dalam hatinya ketika Kirana pergi.


"Lagian kamu gak berkaca dari pengalaman adikmu sih. Mami heran sama kalian. Dikasih istri baik masih nyari diluar. Mending kalo perempuan yang kalian pacari itu perempuan baik-baik," omel maminya kesal.


"Mending lah si Bian gak sengaja terlibat dengan perempuan itu. Tapi kamu Sakti ? Malah lebih parah dari adikmu," geram maminya menahan amarah.


Sakti hanya menundukkan kepala menghindari omelan ibunya.


Ingin Sakti mengatakan bahwa itu ia lakukan untuk membalas Kirana tapi pasti ia sendiri yang akan disudutkan.


"Bereskan masalah mu. Papi dan Mami sudah tua, ingin hidup tenang. Sementara ini Kirana dan anak-anakmu dalam keadaan baik-baik saja tapi mereka belum siap bertemu dengan mu." Jelas ayah Sakti.


"Apa mereka di Singapura?" Tanya sakti.


Papi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


***


Malam itu Sakti bertekad untuk menyelesaikan masalahnya. Hal pertama yang ia lakukan adalah tidak lagi berhubungan dengan Vanya. Ia akan memutuskan kerjasama mereka.


Sakti mendatangi mantan kekasihnya itu di apartemennya.


"Apa ini Mas ?" Tanya Vanya terheran ketika menerima sebuah map dari Sakti.


"Kerjasama kita batal ! Gue gak mau kerjasama bareng Lo ! Udah gue bilang gue bakal bikin perhitungan," geram Sakti.


Vanya menerima map itu dan membukanya.


"Tak masalah," jawab Vanya dingin.


"Tapi aku ingin tetap jadi kekasihmu," ucap Vanya dengan senyuman iblisnya. Ia masih merasa tertantang untuk menaklukkan hati Sakti.


"Apa kamu gila ?" Tanya sakti Sakti gusar.


"Kekasih gila mu ini mempunyai banyak photo mesra dengan mu. Apa jadinya bila aku mengirimkan photo-photo ini pada orang terdekat mu. Atau pada wartawan mungkin. Pasti akan jadi berita yang menarik," ucap Vanya penuh ancaman.


To be continued....


Thank you for reading ❤️


Terimakasih banyak yang sudah membaca, like dan komen ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terimakasih banyak untuk yang memberikan hadiah dan vote ❤️❤️❤️


Tons of love for u guys 😚


__ADS_2