Terikat Dusta

Terikat Dusta
Cinta Kamu


__ADS_3

Happy reading ❤️


Kini mereka duduk berdua saling berhadapan dalam diam sembari menanti pesanan nya yang belum datang.


"Tadi kamu mau menagih sesuatu dariku. Apa itu Bi ?" Tanya Renata tak sadar.


Jamie tersenyum kecut mendengar itu.


"Sepertinya tak usah ku tagih pun aku sudah tahu jawabannya," jawab dokter Jamie dengan wajah nya yang terlihat kecewa.


Jamie berniat menagih jawaban Renata atas pernyataan cintanya yang telah lalu namun dirinya sadar tak ada sedikitpun celah baginya untuk memasuki hati Renata.


"Hah ?" Renata berkerut alis tidak mengerti.


"Sadarkah kamu Renata ? Dari tadi kamu selalu memanggilku dengan panggilan  Bi ?"  Tanya Jamie dengan tersenyum kecut. Senyuman yang mewakili perasaan hatinya saat ini.


"Oh ya ? Maafkan aku Jamie.... Ha.. hanya saja Fabian sedang mengalami sedikit masalah dengan polisi dan dokter Bima sehingga aku mencemaskan nya." Jawab Renata tak berbohong namun pernyataan rasa Rindu Fabian juga begitu mempengaruhinya.


"Kenapa aku harus menunggu jawaban dari seseorang yang tak peduli padaku," batin Jamie dalam hatinya yang terasa begitu nyeri menerima kenyataan bahwa wanita yang ia cintai ternyata mencintai orang lain, bukan dirinya.


Jamie tersenyum tertahan, mentertawakan dirinya sendiri.


"Tak adakah sedikit tempat di hatimu untuk aku tinggal ?" Tanya dokter Jamie seraya membawa tangan Renata pada genggaman nya.


Renata tersentak kaget dengan pertanyaan yang Jamie lontarkan.


"Maaf... Maafkan aku Jamie... Tapi aku selalu menganggap mu hanya sebagai teman," jawab Renata seraya menarik tangannya dari genggaman Jamie.


"Apakah ciuman kita waktu itu tak berarti bagimu ?"


Renata merasa gelombang panas menghantam wajahnya ketika Jamie bertanya itu.


"Aku bahkan merasa bersalah karena telah melakukan itu," jawab Renata tertunduk.


"Merasa bersalah pada Fabian ?"


Renata menganggukan kepalanya sebagai jawaban.


"Hal itu yang selalu membuatku takut jika Fabian mengetahuinya," ucap Renata seraya menitikkan air bening di pelupuk matanya. Ia benar-benar telah menyesal melakukan itu terlebih lagi dirinya masih berstatus istri Fabian ketika melakukan itu.


"Itu akan menjadi rahasia kita kalau begitu." Ucap Jamie penuh dengan rasa kecewa.


"Maaf.. maafkan aku Jamie. Aku menganggap mu sebagai teman saja tak lebih. Kamu seseorang yang baik hati pasti akan mendapatkan wanita yang baik pula dan yang terjadi waktu itu adalah kesalahanku,"


"Bukannya Fabian mengkhianati mu? Apa kamu tak merasa kecewa Re ?" Tanya Jamie yang masih mencari jalan untuk memasuki hati Renata.


"Ya Fabian telah berdusta padaku, tentu saja sebagai wanita biasa aku kecewa. Namun setelah resmi berpisah dengannya membuatku sadar bahwa rasa cintaku mengalahkan rasa kecewa. Betapa aku kehilangan dirinya setelah perpisahan itu terjadi," jawab Renata di sela isakkan tangisnya.


Jamie mengerti dan paham apa yang Renata rasakan, dirinya pun mengalami hal yang sama. Begitu merasa kehilangan ketika mendiang istrinya meninggalkan dirinya untuk selamanya. Apa yang dikatakan Renata juga benar adanya, berarti nya seseorang akan terasa ketika ia telah meninggalkan kita.


"Beruntunglah dirimu karena masih bisa mendapatkan nya Kembali,"


"Hah ?" Tanya Renata tak mengerti.


"Ya kamu masih bisa mendapatkan Fabian kembali, masih ada kesempatan untuk memperbaiki semua,"


"Maaf... Maafkan aku Jamie karena membuatmu menunggu dan berharap, tapi sungguh aku tak bermaksud melakukan itu," ucap Renata yang memberanikan diri menggenggam tangan Jamie.


"Jangan meminta maaf, karena aku lah yang bersalah. Bersalah karena terus berharap akan cintamu padahal sudah jelas kamu mencintai Fabian bukan aku,"


Ucap Jamie dengan memaksakan senyumnya.


Hening untuk beberapa saat...

__ADS_1


"Semoga kamu dan Fabian bisa kembali bersama dan berbahagia. Tentunya Celia pun akan bahagia,"


"Kamu juga... Semoga kamu bahagia Jamie," ucap Renata dengan terisak.


Renata hendak beranjak pergi karena sepertinya tak ada yang harus dibicarakan lagi, namun tangan Jamie menahan lengannya untuk pergi.


"Jangan pergi, tinggal lah sebentar saja, temani aku makan malam. Mungkin ini akan menjadi yang terakhir bagi kita untuk bertemu hanya berdua."


"Jamie..." Lirih Renata.


"Kita akan selalu berteman Re. Temani aku makan sebagai teman." Ucap Jamie bersikeras agar Renata tinggal.


Renata pun menurutinya, mereka menikmati makan malam dalam sunyi, sesekali Jamie berbicara dan ditanggapi singkat oleh Renata. 


Renata merasa bersalah juga sedih telah membuat Jamie kecewa karena Jamie seorang yang sangat baik, tapi hati dan perasaan tak dapat diatur. Hatinya telah tertambat hanya pada Fabian.


"Semoga kamu bahagia," ucap Jamie ketika ia mengantarkan Renata hingga pintu rumahnya.


"Kamu juga... Semoga kamu bertemu seseorang yang akan mencintaimu dengan tulus dan membuatmu bahagia," ucap Renata tulus.


"Terima kasih, aku pamit pulang ya Re,"


Renata menganggukan kepalanya dan kemudian Jamie berjalan menjauhi Renata menuju mobilnya terparkir.


Renata memasuki rumahnya ketika mobil Jamie telah beranjak pergi.


"Belum tidur sayang ?" Tanya Renata pada Celia yang masih menonton TV padahal waktu telah menunjukkan hampir jam 10 malam.


"Aku nunggu telpon Daddy, kemarin pun Daddy gak telpon aku," jawab Celia dengan wajah yang diliputi rasa sedih.


Renata segera mengambil benda pipih itu dari shoulder bag nya. Teringat ia merubah profil nya menjadi model silent.


Benar saja ada beberapa panggilan dari Fabian juga pesan chat yang ia terima.


Fabian : Re, kamu dimana ?


Renata menggigit bibir bawahnya cemas. Apa yang harus ia katakan pada Fabian?


Renata mendudukkan dirinya di dekat Celia dan masih berpikir apa yang harus ia katakan.


Jari jemari lentik Renata pun mulai mengetikkan kata.


Renata : maaf Bi, aku baru pulang makan malam dengan teman.


Tak membutuhkan waktu lama, Fabian langsung membalas pesan itu.


Fabian : makan malam ?


Belum juga Renata menuliskan balasan chatnya, namun Fabian lebih dulu melakukan panggilan video. Seketika wajah lelah Fabian memenuhi layar ponselnya. Dapat Renata lihat Fabian masih mengenakan kemeja kerjanya yang digulung sebatas siku.


Renata : kamu baru pulang Bi ?


Fabian : hhm iya, tadi dari kantor polisi aku kembali dulu ke kantor karena banyak kerjaan yang tertunda. Maaf jarang menelpon dan mengirim pesan.


Renata : gak apa-apa Bi, kita ngerti kok.


Fabian : Celia ada ?


Renata : ada, dia selalu menunggumu


Dan Renata pun menyerahkan benda pipih itu pada anaknya.


Celia tampak antusias menerima panggilan video itu, sesekali terdengar tertawa renyah Celia yang tengah berbicara dengan Daddy nya.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berbicara dengan Fabian, Celia menyerahkan kembali benda pipih itu pada Renata.


Fabian : kamu makan malam ma siapa Re ?


Terlihat kecemasan pada wajah Fabian ketika menanyakan hal itu.


Renata : Jamie, dia mengajakku makan malam.


Jawab Renata, meskipun mungkin akan menimbulkan rasa sakit namun berkata jujur bukankah lebih baik ?


Fabian : Oh...


Terlihat wajah Fabian yang diliputi rasa kecewa.


Renata : Nothing happen Bi, cuma makan .


Fabian : its ok, aku akhiri dulu ya mau cuci muka dan ganti baju. Night Re..


Renata : iya, selamat beristirahat Bi.


Fabian ingin sekali protes menunjukkan rasa cemburunya namun hubungan nya dengan Renata yang masih abu-abu membuat Fabian mengurungkan niatnya.


***


Waktu bergulir begitu cepat, akhir pekan pun telah tiba. Waktunya Celia menghabiskan waktu dengan Daddy nya Fabian.


Renata tiba di rumahnya ketika hari berganti gelap.


"Bi, Celia udah di jemput ?" Tanyanya pada bi Sumi yang telah kembali dari kampung halamannya.


"Sudah Bu, tadi sore" jawab bi Sumi yang sedang memasak untuk makan malam di dapur.


Rasa kecewa menyusup dalam hati Renata karena dirinya melewatkan kesempatan bertemu Fabian. Setelah ciuman panas waktu itu Renata merasa perasaan nya digantung Fabian.


Renata membersihkan dirinya dan berganti baju dengan dress rumahannya. Mencoba menghabiskan waktu dengan menonton TV tetapi hati dan pikirannya begitu kacau.


Tak lama terdengar bel pintu berbunyi tanda seseorang tengah berada di luar rumahnya.


"Bi... Bi Sumi tolong bukain pintu," ucap Renata dengan nada suara sedikit meninggi namun sepertinya Bi Sumi tak mendengarnya.


Dengan langkah malas Renata berjalan ke arah pintu dan membukanya.


Berdirilah seorang lelaki yang akhir-akhir ini mengisi hati dan pikiran nya dengan sebuah buket bunga mawar putih yang di hiasi bunga Forget Me Not di tangannya.



"Aku cinta kamu Re... Cinta banget sama kamu...


Izinkan aku mengejar cintamu lagi. Kali ini dengan cara yang benar.


Tanpa dusta, tanpa rahasia...


Hanya aku dan segenap rasa cinta ku padamu..." Ucap lelaki itu dengan tatapannya yang penuh rasa cinta dan meneduhkan.


Tbc....


Thank you for reading ❤️


Like dan komen ya 😘😘


Terimakasih yang sudah memberikan vote juga hadiah...


Aku pada kalian gak ada obat pokonya

__ADS_1


❤️❤️❤️


__ADS_2