Terikat Dusta

Terikat Dusta
Apalah Aku Tanpamu


__ADS_3

Happy Reading ❤️


Belum juga Renata mencapai pintu toilet, orang berhoodie itu mengeluarkan sebuah benda mengkilat dari sakunya. Fabian berlari dan menutup tubuh Renata dengan tubuhnya seraya berteriak " Re, awas !"


"Mati kau jal*ng !" Teriak orang berhoodie hitam itu dan menancapkan sebilah pisau yang ternyata mengenai punggung Fabian.


Sraakkkkk


Benda tajam itu mengoyak kain jas Fabian hingga menembus ke dalam kulitnya.


"Aaarrrgggggghhhh," Fabian meringis menahan nyeri dan perih di bagian punggung nya.


"Bi... Bi... Bi..." Lirih Renata seraya menjatuhkan air bening di pipinya dan tatapan mata penuh rasa takut.


Secara refleks Fabian segera memutar badannya dan dengan sigap menangkap lengan orang itu sebelum dia melarikan diri. Dengan satu tangan, Fabian mencekik leher orang itu yang ternyata seorang wanita. Sehingga tubuhnya terangkat dari lantai dan kakinya menendang-nendang karena tak dapat bernafas.


Seketika semua orang berkerumun melihat kejadian itu. "Lepaskan dia Bi, kita akan langsung menangkapnya," ucap Sakti mengingatkan Fabian yang tengah gelap mata.


"Turun kan dia Fabian, Om mohon kendalikan dirimu,"


Begitu pun yang lain mengingatkan Fabian untuk tidak berbuat bodoh karena membunuh wanita itu.


Dengan kasar Fabian menghempaskan tubuh wanita itu ke atas lantai.


Terbukalah hoodie yang menutupi kepalanya dan wajah Sarah yang pucat berada dibaliknya. Sarah terbatuk-batuk karena nafasnya yang hampir habis.


Seketika para petugas menahan Sarah yang mencoba mendekati Fabian lagi.


"Aku cinta kamu Fabian, aku cinta kamu !!! Seharusnya kita bisa bersama dan menjadi pemimpin perusahaan. Kita bisa kaya raya bersama" Teriak Sarah yang di tahan beberapa orang karena terus berontak berusaha melepaskan diri.


Sedangkan Renata begitu terlihat pucat pasi bukan karena penyerangan yang hampir menjadikannya korban, namun rembesan bau amis yang keluar dari jas Fabian yang berdiri di hadapannya.


"Bi... Kamu berdarah ! Kamu berdarah !!" Teriak Renata panik.


***


"Hiks hiks hiks," Renata terus terisak menangis dengan wajah yang memerah dan mata yang sembab.


"Bi... Gara-gara aku, kamu jadi celaka," lirih Renata di sela isakkan nya.


Fabian meringis nyeri karena punggung nya kini tengah di jahit seorang dokter di sebuah Rumah Sakit ternama di pusat kota Jakarta.


Selain mengobati lukanya, Fabian juga melakukan visum sebagai bukti kejahatan yang dilakukan Sarah.


Untungnya luka Fabian tidak terlalu dalam karena mata pisau itu menusuk menyamping  terhalang jasnya sehingga mengharuskan dirinya mendapatkan beberapa jahitan dan pisau yang digunakan hanya pisau dapur yang didapatkan sarah dengan cara mengendap-endap ke dalam dapur di kantor polisi itu, namun Renata menanggapi nya dengan berlebihan mungkin karena merasa bersalah dan keadaannya yang masih syok karena kejadian penyerangan itu.


"Re, aku gak apa-apa. Kamu jangan nangis terus, akan aku lakukan apa saja untuk melindungi mu,"


"A... Aku harusnya dengerin kamu ya Bi, nurut ma kamu pas bilang tunggu dulu. Mungkin kejadian ini gak akan terjadi,"


Renata masih terisak-isak.


"Gak apa-apa lah Re, aku jadi keliatan keren kan kaya di film-film jagoan ngelindungin wanita yang sangat dicintai pemerannya," Fabian masih bisa berkelakar.


"Bi, aku serius ini." Ucap Renata kesal seraya mencubit tangan suaminya.


Fabian meringis menahan nyeri


Sakti datang ketika mereka tengah berdebat kecil.

__ADS_1


"Semua udah gue urus Bi. Lo tenang aja, Sarah dan ayahnya akan mendapatkan balasan yang setimpal."


"Gue sih yang penting kasus gue beres, dan Renata aman. Makasih banget Kak,"


"Iya sama-sama. Papi syok denger kamu kaya gini."


"Bi, kamu kenapa sih dikejar perempuan sakit melulu," ucap Mami Fabian yang tiba-tiba masuk dengan wajahnya yang penuh rasa khawatir namun begitu kesal.


Tak habis pikir anak bungsunya selalu menjadi bahan obsesi para wanita yang nekad. Padahal Fabian cenderung lebih pendiam dan tak suka tebar pesona.


"Mungkin karena Biang ganteng Mi," jawabnya asal. Tanpa ia sadar seseorang tengah cemburu ketika Fabian mengucapkan itu.


"Tapi cintanya tetep cuma sama kamu Re," Fabian segera menenangkan wanitanya yang terlihat menekuk muka.


Mami Fabian sedikit terkejut melihat kehadiran Renata dengan wajahnya yang sembab.


Renata menghampiri mantan mertuanya itu dan menyalami nya.


"Si Bian ada-ada aja ya Re," ucap Mami Fabian sembari menghela nafas.


"Makanya Bian maunya cepet nikah lagi lah Mi, biar gak ada yang ngejar," ucap Fabian seraya melirik Renata dan sukses membuat wajah wanita itu merona.


"Kalian ?" Tanya Mami Fabian penuh tanya.


"Mereka reunian melulu Mi," ucap Sakti mendahului.


Mami Fabian memandang mereka dengan mata berbinar. Dalam hatinya merasa begitu senang anak dan mantan menantu nya kembali bersama, yang tentunya akan membuat cucunya kembali mempunyai orang tua yang utuh.


"Mami ingin bicara pada kalian berdua, tapi nanti ketika Bian udah sembuh,"


"Malam ini pak Fabian sebaiknya menginap dulu satu malam karena ada antibiotik yang harus masuk ke dalam tubuh melalui infusan," ucap salah satu suster yang tiba-tiba masuk ke ruangan gawat darurat tersebut.


"Baiklah lakukan yang terbaik, dan tolong rawat di ruangan yang terbaik juga" ucap Sakti.


"Aku akan meminta beberapa petugas polisi untuk berjaga takutnya Markus masih nekad mencelakai Fabian." Ucap Sakti.


"Tapi Kak, biarkan aku yang menemani Fabian di Rumah Sakit malam ini," Renata memotong pembicaraan Sakti.


"Tentu boleh, tapi bagaimana Celia ?" Tanya Sakti.


"Celia biar sama Mami aja," jawab Mami Fabian cepat.


Mata Fabian berbinar bahagia mendengar Renata akan menemani nya malam ini. Wajahnya berseri dan matanya terus memandangi wajah mantan istrinya itu.


"Yank... Ayank... Aku pengen minum," ucapnya manja pada Renata. Membuat yang mendengarnya merasa geli.


Renata menyerahkan satu gelas air putih dengan sedotan di dalamnya dengan wajah merona merah karena kini menjadi pusat perhatian.


" Yank, nanti kamu juga yang bantu aku kalau pengen pipis atau mandi kan ?" Tanya Fabian tanpa malu.


"Aku gak mau perawat yang melakukan nya. Gak nyaman aja," Fabian melanjutkan ucapannya.


Renata hanya menganggukkan kepalanya.


"Lo yang sakit cuma punggung. Masih bisa jalan dan tangan yang satu masih berguna. Jangan cari kesempatan," ucap Sakti dengan tertawa mengejek.


Fabian mendelik pada kakaknya itu tanda tak suka. Renata yang semakin merona berusaha menghindar dari situasi itu.


"Mi, titip Bian ya. Aku mau menelpon dulu ke rumah biar Wulan menyiapkan kebutuhan Celia"

__ADS_1


"Iya Re,"


Renata pun keluar dari ruangan itu.


"Bi, awas kamu bikin skandal lagi. Mami udah pusing," ucap Mami Fabian dengan memasang wajah galak.


"Skandal apaan ?" Tanya Fabian sembari memasukkan sedotan air minum pada mulutnya.


"Skandal menghamili mantan istri di luar nikah," jawab Mami Fabian dengan memelototkan matanya.


"Pffftttt" Fabian menyemburkan air yang baru saja diminumnya.


Sakti tertawa terbahak-bahak mendengar itu.


***


Semalaman Fabian terserang demam mungkin karena luka akibat goresan pisau di punggungnya. Renata menjaganya penuh kasih sayang. Fabian yang manja tak mau sekalipun ditinggalkan membuat Renata terus berada disampingnya.


Telah lama Renata tak menghabiskan waktu selama ini dengan Fabian. Ia pandangi wajah lelaki yang tak pernah berhenti mencintai nya itu.


"Terimakasih telah melindungi ku, Bi. Terimakasih selalu mencintai aku" Lirih Renata di dekat Fabian. "Apalah aku tanpamu" Renata menitikkan air matanya.


Beberapa kali Renata mengecek keadaan Fabian, menandakan wanita itu tak cukup tidur semalaman.


Fabian membuka matanya di pagi hari dan mendapati Renata tertidur disebelahnya sembari terduduk. Padahal disana ada sebuah sofa besar untuk Renata berbaring nyaman.


Melihat itu hati Fabian menghangat.


Fabian kini dapat memandang wajah wanita yang sangat ia cintai ketika ia terbangun di pagi hari.


Satu lagi rindunya terobati.


Fabian membelai lembut rambut panjang Renata. Memperhatikan wajah cantik yang hampir setiap waktu mengisi hati dan pikirannya.


"Aku cinta banget ma kamu Re, aku butuh kamu... Apalah aku tanpamu Renata," lirih Fabian menahan genangan air bening di pelupuk matanya.


Ya Fabian membutuhkan Renata dalam hidupnya.


Renata pun terbangun karena sentuhan-sentuhan halus di kepalanya. Mengerjapkan matanya dan terkejut melihat Fabian telah terbangun.


"Masih demam gak ?" Tanya Renata seraya menyentuh dahi Fabian.


"Ah syukurlah udah turun," Renata terlihat lega.


Hati Fabian berdegup kencang ketika Renata melakukan itu. Ada perasaan dalam hatinya yang siap meledak karena terpendam.


"Aku cuci muka dulu, tunggu ya."


"Aku pengen minum Re,"


Renata pun memberikan segelas air putih pada Fabian sebelum ia pergi.


Fabian tengah memikirkan sesuatu yang membuatnya berkerut alis. Dirinya tak sabar untuk bisa hidup bersama seperti dahulu.


"Kapan waktu yang tepat untuk melamarnya?" Tanya Fabian dalam hati.


Tbc...


Thank you for reading ❤️

__ADS_1


Terimakasih yang sudah like dan komen ❤️


Terimakasih yang sudah memberikan vote dan hadiah 😘😘


__ADS_2