
Happy reading ❤️
"Tak terbayangkan jika kamu benar benar menikah dengan lelaki lain mungkin Fabian akan jatuh se-jatuh jatuhnya," ucap Johan.
"Tapi jangan berkecil hati Re. Fabian telah melalui banyak hal sulit dalam hidupnya. Om yakin pasti dia akan kuat,"
Renata terdiam tak dapat berkata apapun.
***
Renata kembali dengan perasaan hampa hatinya terasa kosong. Dari semua persyaratan yang Fabian ajukan masih bisa Renata rasakan Fabian masih berusaha melindungi nya.
"Sebesar itukah cintamu padaku Bi ?" Lirih Renata menahan tangisnya.
Tapi tetap apa yang telah Fabian lakukan tak bisa dibenarkan.
"Bila kita masih berjodoh pasti akan bersatu lagi," ucap Renata sembari menghapus air mata dengan punggung tangannya.
2 pekan mendatang sidang perceraian nya akan dimulai. Agar tak ada kendala apapun Renata menerima persyaratan yang Fabian ajukan.
Kini Renata hanya berusaha kuat dan tegar menghadapinya.
Lalu bagaimana dengan Fabian ? Fabian berusaha menerima itu semuanya dengan lapang dada. Karena apa yang telah ia lakukan memang tak termaafkan.
Fabian tak pernah menampakkan batang hidungnya lagi setelah ia menyetujui untuk melepaskan Renata. Karena Fabian yakin bila ia menemui Renata, dirinya akan kembali memohon dan mengiba agar tak berpisah padahal dia sudah berjanji bahwa kebahagiaan Renata diatas segalanya. Namun meskipun begitu Fabian masih menghubungi Renata melalui ponsel hanya untuk menanyakan kabar Celia.
Ya tak pernah terlewat sehari pun bagi Fabian untuk menghubungi anaknya itu.
Sore itu Renata tengah menemani Celia mewarnai gambar di ruang tv dengan berbagai macam camilan yang telah Renata buat. Dia amati anaknya itu lekat lekat.
"Sayang, tahukah kamu kalau Mommy sangat mencintaimu ?" Tanya Renata pada Celia yang sedang asik mewarnai selembar gambar kucing.
"Yes, sure Mom. Celia pun sayang Mommy," jawab Celia dengan pandangan mata nya yang meneduhkan.
"Mommy telah melakukan sesuatu yang salah dan menyakiti mu. Maukah kamu memaafkan Mommy?"
"Mmm salah apa yang telah Mommy buat ?"
"Mmm Mommy tak bisa jelaskan semuanya karena ini urusan orang dewasa, tapi suatu hari nanti mommy harap Celia dapat mengerti. Salah satu kesalahan mommy adalah tak bisa lagi tinggal dengan Daddy,"
Celia terdiam ada guratan kesedihan yang nampak dalam wajah polosnya.
"Apa dengan tidak tinggal dengan Daddy, Mommy tak akan menangis lagi ?" Tanya Celia dengan mata bulatnya.
"I hope so, Princess," jawab Renata dengan senyum yang ia paksakan.
"As long as you happy, then i'll be happy too mom," ( selama kau bahagia maka aku akan bahagia juga mom) jawab Celia.
Renata meraih Celia dalam pelukannya dan mendekapnya erat. "Terimakasih sudah mau mengerti," bisik Renata di telinga Celia.
__ADS_1
"Apa urusan orang dewasa itu begitu membuat sedih Mom ?" Tanya Celia polos.
" Mommy harap kamu tak akan mengalami ini sayang. Mommy akan selalu berdoa agar Celia bahagia,"
"And i hope, you'll be happy too Mom," ucap Celia dengan memberikan sebuah ciuman di pipi Renata.
Tak lama bel pintu berbunyi. Bi Sumi segera membukakan pintu.
Muncullah ibu mertuanya dengan berbagai kantong yang ia bawa.
"Lihat sayang, oma bawa apa ?" Ucap mami Fabian pada Celia.
Celia begitu antusias dengan berbagai macam kue dan juga mainan yang omanya bawa sehingga membuat nya melompat lompat bahagia.
"Coba Celia lihat dan siapkan di piring bersama mbak Wulan dan bibi Sumi di dapur. Oma mau ngobrol dulu sama Mommy,"
"Baik Oma," jawab Celia dengan perasaan senang.
Mami Fabian meraih Renata dalam pelukannya ketika Celia dan yang lainnya meninggalkan ruangan itu.
Wanita paruh baya itu menangis tersedu dalam pelukan menantunya.
"Maafkan Fabian yang telah menyakiti wanita sebaik kamu nak," ucap Mami Fabian dengan terisak.
"Mmm sudahlah mam, ayo duduk dulu," jawab Renata berusaha menenangkan.
"Maafkan aku mam, seharusnya aku yang datang menemui Mami bukan sebaliknya namun Fabian yang melarang,"
"Gak apa-apa, malah mami yang minta maaf sama kamu Re. Mami merasa gagal mendidik anak sehingga dia bisa menyakiti wanita sebaik kamu dan menghancurkan pernikahan nya sendiri. Maafkan Fabian telah membuat mu banyak sakit hati," ucap ibu mertuanya dengan menahan tangis.
" Mami tidak gagal mendidik Fabian, dia seorang yang baik hati. Hanya saja takdir Tuhan berkata lain untuk pernikahan kami,"
Mami Fabian terdiam untuk sesaat dan menenangkan dirinya.
"Selamanya kamu akan tetap jadi anak mami Re, tak akan ada mantan menantu bagi Mami karena kamu begitu baik. Sebagai istri, sebagai ibu... Jujur mami berat menerima perpisahan kalian tapi mami tak akan ingkar janji. Bila kamu memang sudah tak sanggup maka Mami dengan berat hati akan melepas mu pergi. Terimakasih telah menemani Fabian dalam keadaan terburuknya,"
"Aku pun minta Maaf, Mam. Jika selama ini aku banyak kekurangan dan tak bisa mempertahankan rumah tangga ini. Bagiku mami juga akan tetap menjadi ibu ku," jawab Renata dengan terisak.
Mereka pun kembali berpelukan seolah saling melepaskan beban hati yang begitu berat.
***
Renata memutuskan untuk pulang ke Semarang dan berbicara perihal perpisahan nya dengan Fabian pada orangtuanya.
Celia pun ikut serta bersamanya. Mereka diantarkan pak Wito sampai bandara. Fabian benar-benar menghindari Renata. Sedikit rasa kehilangan Renata rasakan di sudut hatinya. Tapi inilah jalan terbaik bagi mereka. " Time will heal, seiring waktu akan baik-baik saja," batin Renata dalam hati menguatkan dirinya sendiri.
Kedua Orang tua Renata telah menunggu kedatangan mereka di bandara Jend Achmad Yani Semarang.
Celia berlari menghambur ke dalam pelukan kakek neneknya. Terlihat guratan sedih di wajah kedua orangtua Renata meski mereka berusaha untuk menutupinya.
__ADS_1
Renata tahu dan mengerti alasan di balik kesedihan kedua orangtuanya. Pastilah karena perpisahan yang harus dialami anaknya, dan baru kali ini Renata datang ke Semarang hanya berdua dengan Celia karena sebelumnya Fabian selalu ikut menemani mereka. Tak pernah Fabian membiarkan Renata dan Celia pergi jauh tanpanya.
Kembali ingatan akan Fabian melintas dalam pikiran Renata. "Sepertinya melupakan mu akan menjadi hal yang sangat sulit Bi, tapi bila ingat dusta besar yang kamu lakuin sama aku... Aku pun tak sanggup lagi berada di dekatmu," batin Renata seraya menutup matanya menahan tangis,"
"Eh ayo, supir sudah terlalu lama menunggu," ajakan sang ayah membuat Renata tersadar dari pikirannya.
***
Membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk sampai di rumah orang tua Renata.
Renata memasuki kamar yang dulu ia tempati ketika masih gadis. Dia menundukkan dirinya di tepian ranjang dan mulai membenahi barang yang ia bawa.
Celia masih melepas rindu bersama kakek neneknya.
Sudah hampir 1 jam Renata berdiam diri di kamarnya sebelum memutuskan untuk turun bergabung bersama Celia dan kedua orangtuanya.
"Makan dulu nak, kamu pasti lapar." Ucap Ibunya Renata.
"Sebentar Bu, aku masih belum lapar,"
"Tak baik menunda makan nanti kamu sakit, kasihan Celia," kini ayah Renata yang berucap.
"Iya nanti yah sebentar lagi," jawab Renata. Dirinya benar-benar belum ingin memasukkan makanan apapun ke dalam perutnya.
"Ayah, Ibu, aku... Aku ingin menyampaikan sesuatu," ucap Renata dengan dada berdebar.
Melihat Renata yang akan berbicara serius, ayah Renata meminta asisten rumah tangga mereka untuk membawa Celia ke taman belakang rumah agar mereka dapat berbicara dengan leluasa.
Ayah Renata menghela nafasnya yang terasa berat sebelum mulai berbicara.
"Sebenarnya ayah telah mengetahui apa yang terjadi padamu Nak. Suamimu telah datang 2 kali kemari pasca sembuh dari kecelakaan,"
"Hah 2 kali ? Bukannya hanya satu kali ketika bersama kakaknya Sakti ?" Tanya Renata.
"2 kali Nak, yang pertama dengan kakaknya Sakti. Waktu itu suamimu meminta maaf dengan apa yang telah terjadi. Dia menjelaskan semua duduk permasalahannya dan juga membawa alat bukti. Pengacara nya yang mau ikut, tapi karena ada keperluan mendadak digantikan oleh Sakti sebagai penguat. Jujur ayah sangat kaget, tapi Fabian menjelaskan semuanya sampai ia bersimpuh pada ayah dan ibu memohon pengampunan. Waktu itu, meskipun ayah sangat kecewa padanya namun melihat kesungguhan yang ia tunjukkan membuat ayah memilih memaafkannya,"
Renata mulai menitikkan air matanya.
"Lalu yang ke dua kali, suamimu datang 3 hari yang lalu. Hanya sebentar mungkin hanya sekitar satu jam dia datang ke rumah ini. Kembali meminta maaf karena tak bisa mempertahankan rumah tangga kalian. Suami mu berkata bahwa dia meminta mu pada kami secara baik-baik maka dia akan mengembalikan mu secara baik-baik pula. Hanya saja dia tak berani mengajak mu kemari," lanjut ayah Renata.
"Ayah tak dapat melarang dan menahan kalian dari perpisahan ini. Karena yang merasakan kalian berdua. Meskipun sebagai orang tua kami merasa sedih tapi akan semakin sedih bila anak ayah menderita,"
Renata menangis dalam pelukan ayahnya dan ibunya memberikan usapan usapan lembut di punggung Renata untuk menguatkan.
Tbc...
Thank you for reading ❤️
Jangan lupa like nya ya ka 😘❤️
__ADS_1