Terikat Dusta

Terikat Dusta
Dokter Jamie


__ADS_3

Author POV


Pukul 7 malam Renata duduk termenung di lorong tempat tunggu pasien di sebrang kamar dimana  Fabian dirawat. Sembari membaca novel online untuk membunuh waktu dan mengalihkan perhatian Renata atas semua masalah yang membelit dirinya.


Sialnya novel yang Renata baca menceritakan seorang suami yang tega  mengkhianati istri yang begitu mencintainya. Miris bukan ?


Ibu mertua beserta kedua orang tuanya telah kembali ke Jakarta. Tinggal lah Renata, Hendrik asisten Fabian dan beberapa orang suruhan Sakti yang ikut berjaga.


Seseorang keluar dari ruang Fabian dirawat. Yang tak lain adalah dokter Jamie. Dengan kemeja hitam, celana abu abu tua  dan jas putih khas dokter sangat pas membalut tubuhnya. Serta kacamata minus yang pas membingkai wajah tampannya.


Renata mengacuhkan kedatangan dokter Jamie dan terus membaca novel yang isinya sama dengan yang ia alami saat ini. Semakin membuat perasaannya jungkir balik tak karuan.


"Are you oke ?". Sapa dokter Jamie pada Renata.


Renata mendongakkan kepalanya menatap dokter Jamie yang berdiri menjulang didepannya.


Untuk beberapa saat Renata terpesona akan aura dokter Jamie.


"Ya.. saya baik baik saja dok". Jawab Renata singkat


Baik baik saja adalah kebohongan paling umum yang sering diucapkan ketika pada kenyataannya kita tak baik baik saja. Pikir dokter Jamie


"Ayo kita minum kopi". Ajak sang dokter


"Im not a coffee person".


"Saya gak suka minum kopi dok, maaf". Jawab Renata menolak halus.


"Then.. kamu bisa pesan minuman lain". Jawab dokter Jamie sambil tersenyum.


"Ada yang perlu saya bicarakan mengenai kondisi Fabian dan juga teman wanitanya".


"Rasanya tak nyaman bicara disini".


Terlihat Renata seperti sedang berfikir, tapi tak lama kemudian Renata menyetujui ajakan sang dokter.


"Oke tapi jangan terlalu jauh".


"Sure". Jawab Jamie


Mereka berdua berjalan beriringan melewati lorong rumah sakit untuk menuju coffee shop terdekat. Tentu saja sebelum pergi Renata berpamitan pada Hendrik dan menitipkan Fabian. Walaupun hatinya hancur tetap Renata masih mengkhawatirkan suaminya itu.


Dokter Jamie menyimpan jasnya terlebih dahulu didalam mobilnya sebelum mereka menuju coffee shop. Tanpa jas pun tidak mengurangi ketampanan dokter Jamie. Hampir setiap wanita yang berapapasan mencuri pandang pada dokter tersebut.


"Jadi mau pesan apa?". Tanya dokter Jamie ketika mereka telah duduk berhadapan di sebuah coffee shop.


"Matcha latte".


"Eh  maaf  Thai tea saja". Ulang Renata


"Saya sudah ga suka dengan matcha latte ada kenangan buruk didalamnya". Renata tersenyum kecut.


"Oke, tunggu sebentar".


Tak lama pelayan datang mencatat pesanan kedua orang tersebut.


"Ada informasi apa tentang Fabian, dok ?". Tanya Renata.


Sungguh Renata tidak perduli dengan perempuan yang tak mau ia sebut namanya itu.


"Panggil Jamie aja kayanya lebih santai". Pinta dokter jamie sambil tersenyum.


Ah.. dokter Jamie terlalu banyak tersenyum bisa bisa aku terpesona pikir Renata.


"Apa tidak jadi masalah ?". Tanya Renata.

__ADS_1


"Of course not". jawab dokter Jamie.


"Baiklah kalau begitu".


"So.. ada informasi apa Jamie ?"


Dokter Jamie mengeluarkan kertas putih yang dia bawa.


Membaca dengan seksama.


"Fabian menunjukkan perkembangan yang lumayan bagus. Semua organ tubuh berfungsi baik".


"Ada retakan di tulang kering kaki sebelah kiri".


"Pasti akibat benturan hebat ketika kecelakaan terjadi".


" Tapi sepertinya tak akan jadi masalah".


"Semoga Fabian segera tersadar".


"Kamu bisa ajak bicara Fabian pelan pelan".


"Bisikan kalimat kalimat yang dapat membuatnya bertahan".


"Kasih sayang dan support orang terkasih biasanya berpengaruh".


"Bila perlu ajaklah Celia kemari, semoga dengan kehadiran Celia bisa membantu juga". dokter Jamie menjelaskan panjang lebar.


Renata mendengarkan penjelasan dokter Jamie dengan penuh konsentrasi.


"Baiklah akan saya coba". Jawab Renata singkat


"Dan mengenai Lea teman wanita Fabian beberapa hari ini kondisinya kian menurun".


"Semoga Tuhan memberikan pertolongan padanya".


Renata hanya tersenyum kecut mendengar nya.


Tak lama pesanan datang. Dokter Jamie adalah seorang yang supel.  Renata merasa menikmati obrolannya dengan dokter Jamie. Untuk sementara bisa mengalihkan pikirannya dari kenyataan yang dia hadapi.


Karena chimestri baik antara mereka berdua, Jamie menceritakan kehidupan pribadinya.


James Dillan atau biasa disapa Jamie.


Dia adalah seorang duda dengan anak 1. Istrinya meninggal dunia 3 tahun yang lalu karena sakit kanker. Anak laki lakinya bernama Collin berusia 2 tahun lebih tua dari Celia dan tinggal di Jerman.


Jamie merupakan saudara jauh dari Fabian. Pantas saja Renata jarang sekali bertemu Jamie. Tapi meskipun begitu hubungan Jamie dan keluarga Fabian tergolong cukup dekat.


Bisa Renata lihat Jamie adalah seorang ayah dan suami penuh cinta. Dari cara Jamie bercerita mengenai anak dan istrinya yang penuh semangat.


"Apa Fabian juga seperti itu bila menceritakan  tentang aku dan Celia pada orang lain?". Tanya Renata pada dirinya sendiri.


Tapi sepertinya tak mungkin, karena bukan hanya dirinya yang Fabian cintai. Ada wanita lain dihatinya. Sulit bagi Renata menerima semua ini.


Tak terasa waktu sudah berlalu 2 jam semenjak kehadiran mereka si coffee shop ini.  Akhirnya Renata berpamitan untuk kembali ke rumah sakit.


"Ini sudah malam dan kamu perlu beristirahat". Yaa kini dokter Jamie dan Renata sudah sudah nyaman dengan panggilan aku dan  kamu. Tidak seformal sebelum nya.


"Aku antar ke hotel aja ya?".


"Angin malam juga tak baik untuk kesehatan".


"Di rumah sakit ada asisten Fabian dan temannya kan ?".


"Jadi kamu tak usah khawatir".

__ADS_1


"Dan jika terjadi apa apa aku akan langsung hubungin kamu". Jamie berusaha meyakinkan Renata agar beristirahat.


Renata tersenyum..


Ternyata untuk ukuran dokter Jamie yang terlihat cool terdapat jiwa yang bawel. Pikirnya


"Ada yang lucu ?".


"Kok ketawa?".  Tanya dokter Jamie


"Kamu ternyata bawel ya, padahal chasing nya cool". ejek Renata


Jamie hanya tertawa sambil menggaruk belakang lehernya yang tak terasa gatal.


"Baiklah aku pulang ke hotel, tapi besok pagi aku ke rumah sakit lagi" . Ucap Renata.


"Oke, ayo aku antar".


Beruntung letak rumah sakit ini berada dipusat kota. Jadi jarak antara hotel, rumah sakit dan coffee shop tidak terlalu jauh. Masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


10 menit kemudian mereka sudah berada di lobby hotel dimana Renata menginap. Renata pun berpamitan pada dokter Jamie tapi tiba-tiba dokter Jamie menahan lengan Renata seolah Renata tak diizinkan pergi.


"Maaf". Ucapnya spontan


" Mengenai apa yang tante Ina (mami Fabian) bilang ma kamu tadi siang jangan dimasukin ke hati". ucapnya


"Seorang ibu pasti akan membela anaknya walaupun anaknya itu bersalah".


"Sudah naluri seorang ibu".


Ah iya, tadi siang ibu mertuanya itu berpesan agar Renata jadi wanita yang kuat. Resiko mempunyai suami yang kaya dan tampan yaitu di selingkuhi. Tapi itu merupakan hal yang wajar di mata mertuanya itu.


Tentu saja Renata tak bisa menerima nya. Renata diam bukan berarti menerima, hanya saja Renata tak mau mendebat ibu mertuanya. Hanya buang buang energi pikir Renata.


"Ya tentu saja".


"Aku maklum, mami juga dalam kondisi banyak fikiran sama seperti aku".


"Jadi kamu jangan khawatir. Jawab Renata.


Jamie tersenyum, merasa takjub pada Renata. Dengan hati yang patah masih berusaha tegar.


"Ok, aku pulang sekarang".


" Good night, have a nice dream". Pamit Jamie


" Oh dan sampai ketemu besok". Ya jamie berharap dia dapat menemui Renata kembali di esok hari.


" Ya sampai ketemu besok".


"Mimpi indah juga ya Jam". Balas Renata lalu pergi meninggalkan Jamie.


TBC....


Maaf kalo partnya gaje


Jangan lupa like dan komen ya genks


Alhamdulillah kalo mau vote juga 😂😂😂😂


Good night everibodih


Part ini ditulis malem malem wkkwkwkw


Love u all 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2