Terjebak Cinta CEO Tampan 2 ( Adzriel Dan Yuki )

Terjebak Cinta CEO Tampan 2 ( Adzriel Dan Yuki )
Bab 17


__ADS_3

Tap tap tap


Suara derap kaki disebuah lorong perkantoran menggema diseluruh lorong. Seorang pemuda tampan sedang berjalan sambil membawa sebuah map ditangannya menuju ke sebuah ruangan.


Wajah yang tampan nan ramah membuat semua orang yang ia lewati menyapa dengan ramah pria itu seraya membungkukan badan mereka karena mereka tahu betapa pentingnya pria yang mereka temui itu


Tok


Tok


Tok


Pria itu tampak mengetuk pintu berwarna coklat dihadapannya


" Masuk" Suara halus nan lembut mempersilahkannya untuk masuk kedalam ruangannya


Pintu terbuka menampakan sosok seorang wanita cantik tampak anggun dan berwibawa menduduki kursi kebesarannya dengan senyum mengembang dibibirnya namun sepersekian detik kemudian bibir yang tersenyum itu berubah menjadi masam saat tahu orang yang datang tak sesuai dengan yang diharapakannya


" Kenapa harus lo yang datang sih" wanita itu tampak menatap tak suka pada pria dihadapannya


" Tentu saja gue, memang harus siapa lagi ha? Nanda makdud lo?" Pria itu yang tak lain adalah Jay yang harus mewakili Balendra Corp untuk mengurus kerja sama dengan perusahaan Wilantara Corp tersenyum mengejek pada wanita dihadapannya yang tak lain adalah Alice Jovanka Wilantara yang kini sedang menggantikan ayahnya untuk membicarakan kerja sama antara Balendra Corp dan Wilantara Corp


" Tentu saja, bukankah sudah kami bilang bahwa perusahaan kami hanya ingin bertemu lansung dengan CEO dari Balendra Corp. Bukan dengan pesuruhnya" Alice berkata sinis


" Nanda tidak bisa hadir karena sedang berada di Bandung" Jay mendudukan dirinya dihadapan Alice tanpa dipersilahkan terlebih dahulu


" Ke Bandung? Ada urusan penting apa yang lebih penting dari pertemuan ini ha?" Alice tampak mengangkat sebelah alisnya


" Tentu saja sangat penting, lebih penting dari bisnis apa pun" Jay tampak mengangkat sudut bibirnya

__ADS_1


" Lebih penting dari bisnis? Maksud lo?" Alice menatap Jay dengan tatapan menyelidik


" Yap, ini urusan hidup dan mati" Jay tampak mengulum senyumnya melihat eksfresi Alice yang terlihat bingung


" Urusan apa sih?" Alice tampak sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Jay


" Al, apa lo gak bisa gitu cari cowok lain saja?" Alih - alih menjawab pertanyaan Alice, Jay malah mengalihkan pembicaraan


" Nggak, asal lo tahu ya, gue cinta mati sama Nanda dan gak ada pria lain yang bisa gantiin Nanda dihati gue" Alice terlihat bersemangat saat mengatakannya sedangkan wajah Jay kini berubah menjadi sendu


" Tapi lo gak mungkin bisa dapatkan Nanda Al" Jay menatap sendu wajah Alice


" Apa maksudmu ha? Jangan ikut campur dengan urusan asmaraku, asal kamu tahu aku tidak akan menyerah sebelum mendapatkan cinta dari Nanda" Alice berucap ketus


" Tapi ini buat kebaikan lo Al"


" Ya lo benar ini memang bukan urusan gue" Jay tersenyum miris " Jadi, terserah lo saja" Jay tampak menghela nafasnya pelan


" Bisa kita mulai membahas tentang bisnis kita ibu Alice" Jay berusaha agar terlihat biasa saja dan tidak terlalu memikirkan ucapan Alice barusan


Alice adalah teman sekampus Jay pada masa kuliah dulu, mereka memang tidak terlalu dekat dan hanya beberapa kali mereka mengobrol bersama. Namun seiring berjalannya waktu tumbuh cinta pada hati Jay karena seringnya mereka bertemu, lagi pula siapa yang tidak akan suka pada Alice. Seorang gadis yang paling cantik satu kampus itu membuat banyak pria yang jatuh cinta padanya , namun Alice tidak pernah menganggap mereka dan selalu menolaknya sampai satu tahun yang lalu Alice yang diajak ayahnya untuk menhadiri pertemuan bisnis disuatu restoran, untuk pertama kalinya ada seorang pria yang bisa membuatnya tergila - gila . Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Nanda. Namun Nanda tak seperti pria yang ada dikampusnya yang selalu tergila - gila padanya sehingga Alice merasa tertantang untuk mendapatkan hati pria tampan nan dingin dan datar itu


Jay dan Alice pun tampak membicarakan bisnis mereka dengan serius tak ada lagi kata - kata yang seperti tadi terucap dari mereka. Mereka profesional dalam pekerjaan mereka.


Butuh waktu sekitar satu jam untuk mereka menyelesaikan semuanya.


" Bukankah lo ingin tahu urusan apa yang telah ditangani Nanda saat ini" Jay tampak mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya setelah selesai dengan urusan pekerjaan mereka


" Apa?" Alice tampak sangat penasaran dengan apa yang akan ditunjukan oleh teman sekampusnya dulu itu

__ADS_1


" Ini ada hubungannya dengan apa yang akan gue kasih sama lo, tapi ingat lo jangan nangis didepan gue" Jay memberikan sebuah kartu dihadapan Alice


" Ini apa?" Alice mengerutkan keningnya memegang kartu yang diberikan oleh Jay tadi


" Lo lihat aja sendiri! Gue pergi dulu, masih banyak urusan yang harus gue selesaikan" setelah mengatakan itu Jay langsung berlalu pergi dari ruangan itu. Jay mungkin tidak akan sanggup untuk melihat Alice yang hancur saat melihat apa yang telah dia berikan tadi. Jay tadi memberikan kartu undangan pernikahan untuk keluarga Alice sesuai apa yang sudah diperintahkan Davian padanya


Sedangkan Alice yang mulai membuka dan membaca isi kartu yang diberikan oleh Jay tampak melempar kartu itu dengan kasar


" Apa - apaan ini? Tidak ini tidak mungkin" Alice menyugar rambutnya frustasi seraya memundurkan langkahnya menjauhi kartu yang kini tergeletak mengenaskan diatas lantai


🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓


Sementara ditempat lain , lebih tepatnya di Bandara yang ada di Jakarta tampak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan modis dengan pakaian dan make up yang ia kenakan sedang berdiri dengan koper berwarna pink disampingnya


" Bagaimana?" Wanita itu tampak berbicara dengan orang disebrang sana menggunakan ponsel yang ada di tangannya


" Baiklah! Aku tunggu kabar selanjutnya, dan aku ingin kalian memberiku kabar baik hari ini juga" Ucap wanita itu lagi dengan tegas seraya menutup panggilannya


" Bagaimana Zela, apa mereka menemukannya?" Xena tampak menatap Zela dengan penuh harap


" Mereka sudah pindah sepuluh tahun yang lalu dan mereka belum menemukannya" Zela tampak sendu saat mengatakannya


" Semoga saja mereka cepat menemukannya!" Xena tampak menguatkan Zela seraya mengelus punggungnya lembut


" Semoga saja, karena aku sangat merindukannya. Sudah 20 tahun sejak aku meninggalkannya" Zela tampak menitikan air matanya


" Ya, aku tahu dan kamu tenang saja. Kita akan segera bertemu dengannya" Xena dan Zela tampak melangkahkan kaki mereka sambil menarik koper mereka masing - masing keluar meninggalkan area bandara menuju apartemen miliknya yang sudah beberapa tahun ini tidak ia tempati


Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Terima kasih🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2