Terjebak Cinta CEO Tampan 2 ( Adzriel Dan Yuki )

Terjebak Cinta CEO Tampan 2 ( Adzriel Dan Yuki )
Bab 58


__ADS_3

" Apa seperti ini kamu menyambut tamu yang datang kerumah mu?" Alice mengangkat alis nya sebelah menatap Jay dengan tatapan menyelidik.


" Tentu saja tidak, aku hanya bersikap seperti itu pada gadis yang selalu berbicara ketus pada ku" jawab Jay enteng seraya berbalik hendak masuk kembali ke dalam rumah nya karena jujur saja kepala Jay kini sangat pusing karena berdiri terlalu lama.


" Apa aku tidak di persilahkan masuk?" Alice yang melihat Jay melengos begitu saja tanpa menyuruh nya untuk masuk pun berbicara.


" Kalau kau mau masuk, masuk saja!" Jay berkata tanpa menoleh sambil menahan rasa yang semakin berdenyut pada kepala nya.


Alice pun tak menunggu lama, langsung mengikuti Jay dari belakang sambil melihat - lihat suasana apartemen dari pria yang ada di hadapan nya. Ruangan apartemen yang lumayan luas dengan dua buah kamar dan satu ruang tamu juga satu ruang bersantai dan ada juga dapur kecil dan mini bar yang berdampingan dengan dapur tersebut. Rumah yang cukup rapi untuk seukuran rumah yang di huni oleh seorang pria lajang.


" Apa kamu tinggal sendirian di sini?" Alice bertanya seraya mendudukan diri nya di atas sofa yang ada di ruang tamu tepat di samping Jay yang masih menggulung tubuh nya dengan selimut yang ia bawa tadi.


" Menurut kamu?" Jay mulai merebahkan diri nya bersandar pada sandaran sofa. Jujur dia sudah tidak kuat lagi menahan rasa pusing yang tiba - tiba menghantam kepala nya.


" Ish, aku ini bertanya serius dan kamu jawab nya sewot banget" Alice mendengus kesal.


Hening, tak ada yang terdengar dari mulut Jay.


" Rumah mu lumayan luas dan rapi, apa kamu yang selalu membersihkan nya setiap hari?" Alice kembali bertanya untuk sekedar basa basi.


Masih hening tidak ada sahutan dari mulut Jay.

__ADS_1


" Apa kekasihmu selalu datang kesini dan membantu mu membereskan rumah atau memasakan mu makanan?" Dengan perasaan yang berdebar - debar pertanyaan itu terlontar dari mulut Alice. " Tolong katakan kalau kamu tidak punya pacar dan baru aku wanita yang datang ke apartemen mu ini" batin Alice menutup mata nya bersiap mendengarkan jawaban dari Jay dengan jantung nya yang sudah betdetak dengan kencang.


Namun lagi - lagi hening membuat Alice merasa kesal. " Kenapa kamu diam saja ha?" Alice yang sejak tadi mengedarkan pandangan nya pada sekitar ruangan apartemen milik Jay pun akhir nya menolehkan wajah nya pada Jay yang sejak tadi duduk di samping nya.


Alice tampak membulatkan mata nya saat mata nya menangkap sosok yang sejak tadi dia ajak bicara ternyata sudah menutup mata nya dengan wajah yang sangat pucat.


" Jay, apa kamu tidak apa - apa?" Alice mengguncang tubuh Jay yang sudah tak sadarkan diri.


" Astagfirullah, kenapa sangat panas sekali" pekik Alice saat tangaan nya menyentuh kening Jay. " Apa yang harus aku lakukan" gumam Alice dangan wajah yang sangat panik.


Alice membuang nafas nya pelan untuk menetralisir kepanikan nya. " Oke, pertama aku harus memanggil dokter" Alice mengambil ponsel yang ada pada tas nya dan menelpon dokter keluarga nya untuk segera datang ke apartemen Jay.


Wajah yang sangat cemas tercetak pada wajah cantik Alice yang melihat seseorang yang akhir - akhir ini kembali sering menemani hari - hari nya. Alice berlari ke arah dapur dan membuka lemari es yang ada di sana. untung saja di dalam nya ada beberapa es batu yang bisa ia gunakan untuk mengompres badan Jay yang sangat panas.


" Oh God, kau harus baik - baik saja" gumam Alice seraya meletakan baskom berisi es batu dan kain sapu tangan yang dia bawa di atas nakas samping tempat tidur. Kemudian Alice mengambil sapu tangan itu dan memeras nya lalu kemudian dia meletakan sapu tangan itu pada kening Jay yang masih setia memejamkan mata nya.


" Kamu harus baik - baik saja, aku berjanji tidak akan ketus lagi dan aku akan merawat mu sampai sembuh bila kamu bangun nanti" tanpa terasa air mata menetes begitu saja dari sudut mata Alice.


" Kamu tahu, ini kedua kali nya kamu membuat air mata ku jatuh seperti ini. Yang pertama 4 tahun yang lalu saat kamu yang mengabaikan surat yang aku kirim untuk mu dan bahkan kamu tidak datang untuk menemuiku saat aku menunggu mu, dan yang kedua hari ini" Alice bergumam sendiri seraya menggenggam tangan Jay sangat erat seolah dia takut pria yang ada di hadapan nya akan pergi meninggalkan nya.


" Oh God, kenapa hidupku seperti ini. Aku mohon jangan ambil dia dari ku" Alice kembali mengganti kompresan yang dia letakan di dahi Jay.

__ADS_1


Tak lama dokter yang di panggil Alice pun datang. Tak menunggu lama Alice pun mempersilahkan dokter itu masuk dan memeriksa Jay.


" Bagaimana Liv?" Alice tampak bertanya pada dokter sekaligus sepupu nya itu dengan raut wajah yang sangat cemas saat dokter tersebut selesai memeriksa keadaan Jay.


" Kamu tenang saja, dia hanya pingsan karena demam nya yang terlalu tinggi. Tadi aku sudah menyuntikan obat penurun panas, setelah obat nya bereaksi panas nya akan turun dan dia akan kembali sadar" Dokter yang bernama Livia itu tampak menjelaskan.


" Syukurlah" Alice tampak bernafas lega.


" Oh ya, siapa dia? Apa pacar baru mu?" Livia menatap Alice dengan tatapan menyelidik.


" Dia, bagaimana aku menjelaskan nya ya" wajah Alice sudah bersemu merah karena malu.


" Ha ha ha... sudahlah aku bisa mengetahui nya tanpa kamu menjelaskan nya." Livia menepuk pundak Alice dengan pelan. " Baiklah jaga dengan baik kekasih mu itu dan berikan dia makan bubur saat dia sadar sebelum dia memakan obat nya" Livia tampak memberesakan alat - alat yang tadi ia pergunakan untuk memeriksa Jay. " Aku pergi dulu karena aku masih banyak urusan, ingat rawat kekasih mu itu dengan baik!" Livia berkata sambil terkekeh sebelum berlalu pergi meninggalkan Alice dengan wajah nya yang sudah sangat merona karena malu.


" Aih, seandainya dia benar - benar kekasih ku" Alice bergumam seraya menatap wajah tampan Jay yang masih setia menutup mata nya.


" Kamu tahu, seandainnya pada saat itu kamu benar - benar datang. Mungkin hatiku tidak akan merasa tersakiti, saat itu bahkan kamu bersikap seolah tidak terjadi apa - apa keesokan hari nya" gumam Alice lalu berlalu pergi ke dapur untuk membuatkan bubur agar Jay bisa memakan nya nanti saat dia sadar.


Sungguh Alice selalu berharap bahwa perasaan yang dia rasakan selama bertahun - tahun tidak bertepuk sebelah tangan. Ya, Alice selalu saja merasa patah hati seperti itu entah itu dulu saat Jay mengacuhkan perasaan nya dan saat Nanda juga menolak nya dengan terang - terangan. Tapi percayalah perasaan saat menerima penolakan dari Nanda tidak sesakit saat dulu dia diabaikan oleh Jay. Mungkin karena Jay merupakan cinta pertama bagi Alice dan bukankah cinta pertama itu sulit untuk dilupakan? Itu juga yang dirasakan oleh Alice sekarang.


Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2