
" Kenapa dia ada disini?" Jay menatap wajah cantik Alice yang sedang terlelap dengan posisi duduk bersandar di kepala ranjang di samping Jay seraya tangan nya yang saling bertautan dengan tangan Jay.
Jay tampak mengingat - ngingat kejadian sebelum dia tak sadarkan diri setelah dia merasakan rasa sakit yang teramat pada kepala nya serta badan yang dihantam rasa dingin yang teramat sangat.
" Aku ingat, tadi aku berjalan ke depan untuk membukakan pintu dan ternyata yang datang adalah dia. Dan aku tidak ingat lagi yang terjadi setelah itu karena kepala ku yang terasa sakit" gumam Jay pelan. Jay berusaha untuk bangun namun tubuh nya masih sangat lemas dan kepala nya pusing sehingga dia mengurungkan niat nya dan memilih untuk tetap pada posisi nya yang sekarang.
Alice yang merasakan pergerakan di dekat nya pun dengan segera membuka mata nya, dia tampak bernafas lega saat melihat Jay yang sudah tersadar dan menatap nya dengan senyuman yang terlihat sangat manis di mata Alice.
" Kamu sudah sadar, maaf aku tertidur" Alice pun menurunkan kaki nya dan menyentuh kening Jay untuk memeriksa suhu tubuh nya. " Syukurlah, sudah menurun" Alice bernafas lega saat merasakan panas di tubuh Jay sudah tidak sepanas 2 jam yang lalu.
Jay tidak berkata apa pun, namun dia tersenyum melihat betapa cemas dan perhatian nya gadis yang ada di hadapan nya pada nya.
" Apa kamu masih merasa pusing, oh iya kamu pasti lapar? Aku akan mengambil bubur yang tadi aku buat" Alice hendak turun dari tempat tidur Jay namun Jay menahan Alice dengan menarik tangan nya yang masih bertaut dengan tangan Alice.
" Kenapa? Apa ada yang sakit?" Alis menautkan kedua alis nya bertanya pada Jay dengan wajah yang cemas tanpa menyadari bahwa sikap nya itu tidak seperti sikap nya yang biasa nya.
" Katakan! Apa kamu menghawatirkan ku?" Bukan nya menjawab pertanyaan dari Alice Jay malah bertanya dengan tatapan menggoda nya.
" Ish pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku menghawatirkan mu" Alice berkata enteng.
" Benarkah? Seperti nya kamu sangat peduli dengan ku?" Jay menatap Alice dengan tatapan menyelidik.
" Tentu saja aku peduli karena aku men...." Alice menutup mulut nya sendiri saat sadar apa yang baru saja akan dia katakan. " Bodoh kau Alice, kau hampir saja mengatakan semua nya" batin Alice merutuki kebodohan nya sendiri.
" Kamu men, apa?" Jay tampak penasaran dengan apa yang tidak jadi Alice katakan.
__ADS_1
" Apa, aku tidak mengatakan apa - apa?" Alice berusaha bersikap biasa nya padahal dalam hati nya dia merasa salah tingkah apalagi kini jantung nya berdegup sangat kencang. Apalagi saat dia menyadari tangan nya dan tangan Jay terpaut satu sama lain sejak dari diri nya sebelum tertidur tadi. " Aish, kau bodoh sekali Alice, kenapa kau tidak melepaskan tangan mu dari tadi" Alice menepuk jidat nya sendiri membuat Jay menautkan kedua alis nya menatap heran pada sikap gadis yang ada di hadapan nya.
" Kau kenapa?"
" A aku, aku tidak apa -apa" Alice tampak gelagapan " Bisakah kamu melepaskan tanganku? Aku ingin memanaskan bubur nya agar kamu bisa memakan nya?" Alice memilih untuk segera pergi dari sana sebelum dia berbuat sesuatu yang bodoh lagi apalagi jantung nya kini berdebar semakin cepat, Alice fikir itu tidak akan baik untuk kesehatan jantung nya.
" Kamu membuat bubur untu ku?" Bukan nya langsung melepaskan tangan Alice Jay malah bertanya.
" Tentu saja, aku tidak mau kamu mati kelaparan disini. Sudahlah aku pergi ke dapur dulu." Alice pun menarik paksa tangan nya karena Jay seperti nya tidak berniat untuk melepaskan tangan nya.
Sedangkan Jay tampak mengangkat sudut bibir nya seraya menatap punggung Alice yang sudah menghilang di balik pintu.
Sedangkan di luar kamar Jay Alice tampak bersandar pada tembok sambil memegang dada nya yang masih saja berdetak dengan sangat cepat sambil mencoba menetralisir perasaan nya yang kini semakin tidak karuan. Setelah dirasa cukup tenang Alice pun bergegas pergi ke dapur untuk segera memanaskan bubur yang tadi ia buat sebelum ia memberikan nya pada Jay.
Sore itu Alice menyuapi makan Jay bahkan dia membantu memapah Jay untuk pergi ke kamar mandi dan menunggu di luar kamar mandi sampai Jay keluar dan kembali memapah nya ke tempat tidur karena keadaan Jay saat itu masih lemah. Alice bahkan memutuskan untuk tidur di sana agar bisa mengawasi Jay dengan baik, awal nya Jay menolak dengan alasan tidak mau merepotkan Alice. Jujur saja Jay sangat senang mendapatkan perhatian yang di berikan Alice pada nya namun di satu sisi dia takut akan jatuh terlalu dalam pada cinta Alice yang Jay ketahui gadis itu masih menyimpan perasaan pada sahabat nya yang sudah dia anggap sebagai saudara nya sendiri.
Sementara di tempat lain tepat nya di jalanan ibu kota yang lumayan padat oleh warga Jakarta yang hendak pulang ke rumah mereka masing - masing setelah lelah bekerja seharian dengan pekerjaan mereka.
Begitu pun Adzriel yang baru pulang dari perusahaan nya dan menjemput calon istri nya dari toko kue milik mereka, siapa lagi kalau bukan Yuki.
Adzriel sedari tadi fokus menyetir dengan sesekali melirik gadis cantik yang ada disamping nya dengan senyuman yang mengembang di bibir nya.
" Apaan sih Riel, ko lihatin aku kayak gitu?" Yuki tampak salah tingkah dengan wajah yang sudah memerah saat dia menyadari kalau calon suami nya itu diam - diam memperhatikan nya.
" Tidak, kamu cantik. Jadi aku ingin selalu lihatin kamu" penyakit Adzriel yang suka menggombal kambuh lagi.
__ADS_1
" Ish, apaan sih" Yuki memutar bola mata nya malas.
" Ki, kamu tahu aku tidak menyangka kalau persahabatan kita akan berakhir dengan pernikahan seperti ini?" Adzriel melirik Yuki sekilas dan kembali fokus ke depan.
" Aku juga, kalau di fikir - fikir lucu juga ya. Mengingat pertama kali kita ketemu saat itu" Yuki berkata sambil terkekeh.
" Ya, aku juga suka ingin ketawa sendiri kalau ingat masa itu. Gak nyangka kita bertiga akan bersahabat sampai sekarang bahkan kita berdua akan menikah" Adzriel ikut terkekeh saat mengingat nya.
Sudah cukup jauh mobil yang di kendarai oleh Adzriel itu melaju sampai di tengah jalan tiba - tiba ada sesuatu yang janggal terjadi di belakang mobil nya, namun Adzriel tetap bersikap tenang karena tidak ingin membuat Yuki cemas
" Eh Riel, kamu ngerasa gak sih kalau mobil yang berada di belakang kita ngikutin kita terus dan berusaha meped gitu sama mobil kita" Yuki melihat ke arah belakang dari kaca spion yang ada di depan nya.
" Kamu juga menyadari nya?" Adzriel berusaha untuk tetap tenang.
"ya, kira - kira siapa mereka? Kenapa mereka mengikuti kita ?" Yuki tampak mulai panik.
" Mengikutiku lebih tepat nya." ucap Adzriel menoleh sebentar.
" Apa mungkin ini perbuatan dia?" Yuki tampak terkejut saat mengingat sesuatu
" Ya seperti nya begitu" Adzriel menganggukan kepala nya.
" Kamu harus tenang! Kita akan berputar dulu di sekitar sini karena kita tidak mungkin membawa mereka sampai ke rumah mu, bisa - bisa keluarga mu pun ikut dalam bahaya" ucap Adzriel dengan nada setenang mungkin
" Kamu benar" Yuki mengangguk setuju.
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏