
Setelah menempuh jarak beberapa kilo meter, akhir nya mobil Nanda sampai di tempat parkir rumah sakit yang lumayan besar di ibu kota.
Nanda , Fika dan kedua mertuanya turun dari mobil dan mulai memasuki rumah sakit. Setelah melewati beberapa lorong dan ruangan, akhir nya mereka sampai juga di depan ruangan tempat Yuki di rawat. Di kursi tunggu tampak Dita, Zela dan Nami yang sedang menunggu di luar sedangkan Adzriel berada di dalam.
" Zela, bagaimana kabar mu? Dan bagaimana keadaan Yuki sekarang?" Sita tampak terbopoh - bopoh menghampiri teman lama nya sekaligus mantan kekasih dari suami nya.
" Sita, kamu datang ke sini?" Zela berdiri dari duduk nya dengan wajah yang terkejut menghampiri istri dari mantan kekasih nya sekaligus adik kelas nya dulu.
" Ya, aku menjenguk putri ku yang sedang mengandung. Dan mendapat kabar tentang Yuki, jadi kami datang ke sini" Sita dan Zela tampak berpelukan.
" Maafkan aku!" Zela bergumam di sela pelukan nya.
" Sudahlah Zela, itu sudah berlalu dan kamu tidak bersalah. Justru aku juga ingin meminta maaf karena dulu sempat memaki mu" Sita mengeratkan pelukan nya.
" Sudahlah, semua telah berlalu. Kita bisa membuka lembaran yang baru lagi, benar kan?" Bima mendekati ke dua wanita itu.
" Ya, kamu benar mas" Zela dan Sita berkata bersamaan seraya mengurai pelukan mereka.
" Apa aku bisa masuk ke dalam tante?" Fika bertanya dengan sopan pada Zela yang baru selesai berpelukan dengan ibu nya.
" Ah, sebentar ya! Karena di dalam ada _" belum sempat Zela menyelesaikan ucapan nya seseorang tampak ke luar dari dalam ruangan Yuki.
Ceklek
__ADS_1
Seseorang tampak keluar dari ruangan Yuki dengan wajah sendu nya. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah namun terlihat kacau selama dua hari ini. Siapa lagi kalau bukan Arga, papa kandung dari Yuki. Tadi Arga menemui Yuki yang hanya di temani oleh Adzriel yang tidak pernah beranjak sedikit pun dari samping calon istri nya itu.
" Kau, sedang apa kau di sini?" Arga menatap penuh kebencian pada pria sebaya nya yang baru saja datang bersama dengan istri dan anak menantu nya seraya menunjuk Bima dengan telunjuk nya.
" Aku datang untuk menjenguk sahabat putri ku" jawab Bima enteng
" Kalau bukan karena mu, semua nya tidak akam terjadi seperti ini" Arga berjalan cepat ke arah Bima dengan kebencian yang terpancar di mata nya.
" Apa maksudmu? Seharus nya aku yang berkata seperti itu, karena perbuatan mu aku terpisah dengan putri dan adiku selama bertahun - tahun" Bima membela diri nya.
" Aku juga tidak akan melakukan nya kalau _" Arga tidak menyelesaikan ucapan nya karena Zela memotong nya.
" Hentikan mas! Berhenti menyalahkan orang lain, dan berhenti menjadi egois!" Zela meninggikan suara nya dengan amarah yang dia tahan.
" Yang sebenar nya? Memang apa yang sebenar nya ha, cepat jelaskan pada kami agar kami bisa mengerti!" Zela mendengus kesal pada mantan suami nya itu yang selalu saja menyalahkan Bima atas hal buruk yang terjadi pada nya.
" Kamu ingin tahu? Kalian ingin tahu? Baiklah dengarkan aku baik - baik!"
Flash back on
Berpuluh - puluh tahun yang lalu di suatu bar yang lumayan besar di kota Bandung tampak seorang pria bernama Wijaya sedang berkumpul bersama dengan teman - teman nya. Wijaya adalah CEO muda yang mendirikan perusahaan nya sendiri yang ia beri nama Wijaya Corp. Wijaya adalah anak tunggal dari pasangan suami istri yang meninggal karena kecelakaan satu tahun yang lalu.
Wijaya hidup bersama istri nya yang bernama Ningrum, mereka baru menikah selama beberapa bulan dan belum di karuniai anak. Kehidupan pernikahan mereka baik - baik saja dan Wijaya sangat mencintai istri nya itu dan begitu pun sebalik nya.
__ADS_1
" Ayo Wijaya, minum lagi!" Salah satu teman Wijaya menyodorkan segelas minuman lagi pada Wijaya muda yang sudah mabuk karena terlalu banyak minum.
Saat ini Wijaya dan teman - teman nya sedang merayakan keberhasilan perusahaan nya yang mendapatkan proyek yang besar. Wijaya memang baik dan sangat baik dan mencintai istri nya tapi Wijaya juga terlalu gampang terpengaruh oleh orang lain dan senang berfoya - foya.
" Sudah cukup, aku sudah mabuk!" Wijaya mengangkat tangan nya memberi isyarat tangan bahwa dia sudah tidak kuat bila harus minum lagi.
Waktu pun bergulir dengan cepat, tak terasa waktu sudah larut malam, Wijaya muda yang sudah mabuk tampak keluar dari dalam bar dengan sempoyongan. Teman - teman nya sudah pulang duluan sejak tadi dan meninggalkan nya seorang diri. Wijaya terus keluar dari dalam bar dan berjalan menuju parkiran untuk memasuki mobil nya.
" Maaf pak, ada yang bisa saya bantu?" Seorang gadis cantik bernama Ara tampak menghampiri Wijaya yang kesulitan memasukan kunci mobil nya. Ara adalah seoarang gadis yatim piatu yang terpaksa harus bekerja sebagai pelayan di bar tempat Wijaya dan teman - teman nya tadi berpesta. Ara yang hanya tiggal sendiri harus banting tulang untuk kehidupan nya sendiri, namun walaupun dia bekerja di tempat itu Ara bukan gadis nakal yang kebanyakan orang fikirkan.
" Ningrum" Wijaya yang sedang mabuk malah melihat sosok Ara sebagai Ningrum istri nya.
" Maaf pak, saya bukan Ningrum" Ara yang merasa bingung berniat untuk meninggalkan pria yang sedang mabuk itu karena perasaan nya menjadi tidak enak, namun tanpa dia sangka Wijaya malam menarik nya ke dalam mobil yang pintu nya sudah berhasil Wijaya buka dengan susah payah.
" Apa yang anda lakukan?" Ara yang merasa ketakutan berusaha memberontak dan berteriak dalam kungkungan tubuh Wijaya , namun karena hari sudah larut malam dan keadaan sudah mulai sepi sehingga tidak ada satu orang pun yang mendengatkan teriakan Ara dan menolong nya.
" Ningrum, aku mencintai mu" Wijaya yang sudah sangat mabuk dan terbakar gairah saat tubuh indah Ara berada tepat di bawah kungkungan nya tidak menghiraukan teriakan dari Ara.
" Aku sudah katakan, kalau aku bu.. hmmpth" Suara Ara tertahan saat bibir tebal Wijaya membungkam bibir mungil milik Ara. Wijaya tampak men cium dan melu mat bibir Ara dengan penuh naf su tanpa menghiraukan Ara yang sudah tampak kesulitan bernafas. Ara terus saja memberontak dengan sekuat tenaga namun tenaga Wijaya jauh lebih kuat dari diri nya sehingga perlawanan nya sia - sia.
Entah kenapa gairah dalam diri Wijaya seakan memuncak saat Ara memberontak melawan nya. Wijaya melepaskan ciu man nya pada bibir Ara dan turun pada leher jenjang ara. Wijaya juga memberikan beberapa tanda kepemimikan nya di sana dengan tangan yang melepas paksa pakaian yang di kenakan Ara saat ini sampai tubuh bagian bawah Ara polos begitu saja. Ara terus memberontak dan menjerit melawan kebiadaban yang dilakukan Wijaya pada nya, namun apa lah daya tenaga nya yang sudah terkuras sedari tadi tidak bisa menandingi tenaga Wijaya yang sangat besar. Tak menunggu lama Wijaya mengarahkan milik nya yang sudah siap tempur sedari tadi pada milik Ara yang masih belum terjamah oleh laki - laki mana pun. Ara menjerit histeris kesakitan saat milik nya di terobos paksa oleh pusaka milik Wijaya yang cukup besar itu. Wijaya seakan tuli dengan teriakan dan rintihan kesakitan dari Ara dan malah asik bermain - main di bawah sana dengan terus menggerakan milik nya sampai dia merasakan kenik matan yang luar biasa yang bisa dia radakan. Rasa sakit dan perih mendominasi di bagian bawah sana. Namun hati Ara kini lebih sakit dari semua nya. Kesucian yang selama ini dia jaga kini telah di renggut begitu saja oleh pria yang bahkan dia tidak kenal.
Jangan lupa Like, Vote dan Komen. Jangan lupa juga tambahkan ke favorite kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1