
Setelah 4 hari mereka disana dan sudah banyak juga tempat wisata yang mereka kunjungi, belum pulang saja Veny sudah mengajak liburan lagi nanti tapi kali ini ke Bandung. Tentu saja mereka semua menyetujui nya tapi yang paling tidak semangat adalah Loly karena dia benar-benar sakit dari kemarin dan badanya panas.
"Sampai jumpa lagi teman-teman, lain kali kita jalan ke Bandung ya" ucap Veny melambaikan tangnya kepada mereka semua sebelum masuk kedalam mobi.
Tidak lupa juga dia berpamitan pada Mbok Yani dan Mang Didin yang telah membantu mereka selama liburan disini, kemarin mereka juga sudah membeli banyak oleh-oleh untuk dibawah pulang.
Mbok Yani dan Mang Didin masih menunggu didepan sampai mobil kami tidak kelihatan, banyak kenangan tersendiri pada liburan kali ini. Ada rasa sedihnya karena harus kembali lagi kerumah tapi pengalaman ini tidak akan pernah terlupakan.
Mereka pulang sesua dengan mobil mereka pergi kemarin tapi yang berbeda kali ini, Aldo yang menyetir mobil Veny.
"Apa masih ada yang ingin kalian beli nggak? kalay ada kita berhenti dijalan nanti?" tanya Veny pada mereka bertiga.
"Kayaknya nggak ada deh Ven, soalnya ini udah banyak banget" jawab Salsa.
"Ya udah kalau gitu, cuy langsung pulang sayang" ucap Veny pada Aldo.
"Siap Bos ku" jawabnya.
"Sampai ketemu saat masuk nanti ya gaiss, nggak nyangka udah kelas 11 aja perasaan kemarin baru masuk dan Ospek" sambung Veny.
"Kamu benar juga Ven, tapi rasanya sangat berat dan lama sekali berlalu" jawab Salsa membayangkan semua masalah nya.
"Kamu harus sabar Sa, pasti ada hikma dibalik semuanya. Aku tau kamu adalah wanita yang kuat" jawab Veny.
"Iya kamu yang sabar ya" sambung Tiara lalu memeluk Salsa yang berada disampingnya.
"Terima kasih, aku sangat bersyukur kalain ada di samping aku saat aku merasakan sulitnya dunia ini" ucap Salsa.
"Sudah jangan dipikirkan lagi, nikmati saja Sa" sahut Sintia.
Dalam perjalanan Salsa hanya tidur dan sesekali melihat pemandangan, dia sangat merindukan Mama nya. Seharusnya dia pergi ke Amerika tapi Salsa menolak, bahkan Mama mau membelikan tiket pesawat untuknya. Masih banyak yang harus dia lakukan disini, dia yakin jika pergi ke Amerika. Mama tidak akan pernah menyuruh dia pulang lagi ke indonesia, Salsa belum siap untuk itu.
***
__ADS_1
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan mereka pun sudah sampai, pertama mereka mengantar Salsa terlebih dahulu. Baru lah setelah itu Tiara dan Sintia, setelah turun tidak lupa Salsa mengucapkan terima kasih pada Veny dan teman-temanya.
"Terima kasih Ven, terima kasih juga semuanya. Hati-hati dijalan" ucap Salsa.
"Iya sama-sama Sa, kami pulang dulu kalau gitu. Dadah sampai ketemu lagi" jawab mereka bertiga dan Kak Aldo hanya tersenyum.
Salsa masih berdiri disana sampai mobil mereka tidak kelihatan lagi dan dia lihat kontrakan sepi, apa Mbak Ririn masih kerja pikiranya. Tidak lama kemudian Ibu Kos lewat dan berbicara pada Salsa, kebetulan dia mau mengecek Ac yang rusak di kontrakan ujung.
"Salsa dari mana kamu bawak tas segala?" tanya Ibu Kos yang mampir dulu karena melihat Salsa yang berdiri di depan.
"Eh Ibu, iya Bu Salsa habis pulang liburan ke Bogor ikut teman" jawab Salsa.
"Begitu ya, oh iya kamu udah tau belum kalau anak nya Ririn yang disebelah kamu ini lagi sakit. Kasihan dia, sekarang anaknya udah dibawak kerumah sakit" cerita Ibu Kos pada Salsa.
"Benarkah Bu, kalau boleh tau. Dirawat dirumah sakit mana ya?" tanya Salsa.
"Kalau nggak salah kata, Ica dirumah sakit A" jawab Ibu kos dan Ica adalah tetangga mereka juga.
"Ya udah istirahat saja, kamu baru sampai kan. Ibu mau lihat tukang Ac benerin kamarnya Lia dulu" ucap Ibu Kos lalu pergi dari sana.
Setelah mandi Salsa langsung menganti pakainya dan pergi kerumah sakit mengunakan motornya, dia sangat khawatir dengan keadaan Rido.
"Hallo Mbak, ini Salsa. Dimana ruang rawat Rido Salsa sudah didepan rumah sakit" ucap Salsa saat Mbak Ririn mengangkat panggilanya.
"Hallo Sa, kamu udah pulang. Tunggu didepan biar Mbak yang jemput kamu" jawab Mbak Ririn.
Salsa pun menunggu disana dan tidak lama kemudian Mbak Ririn datang, Salsa pun langsung memeluk nya.
"Mbak Ririn" ucap Salsa langsung memeluk Mbak Ririn.
"Kenapa Mbak nggak ngabarin Salsa jika Rido masuk kerumah sakit?" tanya Salsa disela pelukan mereka.
"Mbak nggak mau ganggu liburan kamu" jawabnya setelah Salsa melepaskan pelukanya.
__ADS_1
"Tapi setidaknya Mbak memberikan kabar pada Salsa" ucap Salsa lagi.
"Ayo kita masuk, Mbak ceritakan didalam saja" jawab Mbak Ririn dan mereka pun pergi keruang rawat Rido.
Setelah sampai diruangan Mbak Ririn menceritakan jika Rido sedang mengidap gagal ginjal dan baru diketahu sekarang, pada saat Mbak menjemputnya disekolah penitipan kemarin Rido pingsan dan mukanya pucat. Mbak Ririn juga bingung karena uangnya juga nggak akan cukup untuk merawat Rido dirumah sakit karena biaya kamar saja sudah berapa belum lagu obatnya.
"Mbak bingung harus bagimana, apa merawat Rido dirumah saja karena Mbak sudah tidak punya tabungan lagi Sa" ucapnya pada Salsa dan Salsa yang mendengar itu pun terkejut dan tidak setuju.
"Enggak Mbak, Salsa nggak setuju. Kalau kita merawat Rido dirumah bisa saja keadaanya nya tambah parah, Salsa akan bantu biaya perawatan. Salsa masih punya sedikit tabungan sisah bayar motor kemarin" jawab Salsa.
"Kamu juga butuh uang untuk bayar SPP Sa, belum lagi tahun ajaran baru akan dimulai. Kamu harus bayar uang sekolah, Mbak tau itu mahal" sambung Mbak Ririn.
"Kalau begitu Salsa juga akan kerja ditempat Mbak Ririn kerja malam untuk mencari uang tambahan" sahut Salsa.
"Nggak, Mbak nggak akan pernah ajak kamu kesana" jawab Mbak Ririn.
Salsa berpikir nggak mungkin dia minta uang jajan lagi pada Mama nya, bisa curiga nanti karena kemarin dia juga sudah memberi uang jajan yang banyak sampai Salsa bisa melunasi motornya. Ingin minta dengan Papa nya tidak mungkin, sama saja dia kehilangan harga diri karena mengemis pada Papa nya.
"Mbak juga harus memikirkan Rido, tidak akan ada yang membantu kita Mbak. Hanya kita yang bisa membantu Rido" ucap Salsa meyakinkan Mbak Ririn.
"Baiklah besok kita akan kesan, kalau kamu nggak mau bilang saja Sa. Jangan memaksakan diri, disana memang gajinya sangat menjanjikan" jawab Mbak Ririn.
"Iya Salsa bisa Mbak, ayo perjuangkan Rido sama-sama" ucapnya dan Mbak Ririn sangat terharu sampai meneteskaan air matanya.
Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, Salsa sangat kasihan dengan nasip mereka berdua. Tidak ada yang bisa membantu mereka, selain sama-sama saling menguatkan dan berjuang mencari uang untuk pengobatan Rido.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC