
Malam harinya setelah perawat selesai melakukan pemeriksaan dan Rido pun tertidur, Salsa dan Mbak Ririn pergi dari sana. Mbak Ririn sudah bilang jika Salsa tidak mau, dia bisa menolak dan tidak usah ikut bekerja disana.
Mbak Ririn masih menuntun jalan dan beberapa menit kemudian mereka berhenti disebuah Klub malam, disana terlihat lampau warna warni yang menyalah dari luar.
"Apa kita nggak salah tempat Mbak?" tanya Salsa, yang ada dalam pikiran Salsa adalah kafe atau resto yang buka 24 jam seperti tempat nongkrong anak jama sekarang.
"Iya Mbak kerja disini, kalau nggak mau kita pulang saja. Mbak juga nggak maksa kamu Sa" jawab Mbak Ririn pada Salsa.
"Nggak Mbak, ayo kita masuk" ajak Salsa.
Mereka pun masuk kesana dan Mbak Ririn membawa Salsa bertemu dengan Madam, Madam adalah pemilik klub malam ini. Madam sangat senang karena Salsa masih sangat mudah dan cantik, tentu saja dia langsung menerimanya.
"Malam Madam" sapa Ririn pada wanita yang kira-kira umurnya sekitar 40 tahunan.
"Malam Ririn, kenapa kamu dari kemarin nggak datang. Padaha banyak pelanggan yang nyarin kamu?" tanya Madam pada Mbak Ririn.
"Anak saya sakit Madam, saya kesini mau mabawa adik saya untuk melamar pekerjaan disini sebagai kasir dan pramusaji" jawab Mbak Ririn.
"Apa ini dia, kamu masih terlihat sangat mudah dan cantik" ucapnya saat melirik pada Salsa.
"Baiklah saya terima dia, kamu kasih tau bagimana sistem kerja disini" jawab Madam.
"Baiklah Madam saya akan memberitahu Salsa" ucap Mbak Ririn.
"Salsa nama yang cantik, apa dia nggak mau kerja seperti kamu? uang nya lumayan besar loh?" tanya nya pada Mbak Ririn.
"Maaf Madam adik saya masih sekolah dan saya tidak mau merusak masa depanya, saya mohon pekerjaan Salsa dibagian pramusaji saja atau kasie juga boleh" mohon nya pada Madam.
"Baiklah dia boleh jadi kasir atau pramusaji karena kamu adalah anak saya yang paling baik disini, kamu boleh ajari adik kamu. Besok dia sudsh mulai masuk kerja, kalau kerjanya bagus saya akan memberikan bonus tambahan" ucapnya.
"Saya tau kamu lagi butuh uang untuk berobat anak kamu kan?" tanya lagi pada Mbak Ririn.
"Iya Madam" jawab Mbak Ririn.
"Terima kasih sudah menerima saya Madam, saya akan bekerja dengan rajin" jawab Salsa sambil menundukan kepalanya.
"Iya kalian boleh pulang hari ini, mulai kerja besok ssja" jawab nya.
Mereka pun pergi dari sana dan Salsa sama sekali tidak menyangka jika pekerjaan Mbak Ririn seperti ini, apa di jual diri juga selama ini. Itu lah yang ada di pikiran Salsa saat ini.
__ADS_1
"Kamu pasti terkejut kan, Mbak bekerja disana?" tanya Mbak Ririn saat mereka masih diperjanan menuju rumah sakit.
"Iya aku cukup terkejut, tapi aku tau Mbak melakukanya karena terpaksa. Mbak seorang janda yang harus membesarkan anak seorang diri tanpa suami, Salsa mengerti Mbak. Mbak Ririn nggak perlu malu sama Salsa, anggap saja Salsa ini adik Mbak atau keluarga Mbak" jawab Salsa.
"Terima kasih Sa, kamu juga salah satu semangat Mbak untuk hidup didunia ini. Mbak sangat frustasi dengan keadaan ini, kalau kamu nggak ada Mbak nggak tau harus bercerita pada siapa" jawabnya.
Tanpa Salsa sadari dari tadi Mbak Ririn menangis dan dia benar-benar bersyukur karena sudah dipertemukan dengan anak sebaik Salsa, dia juga sangat menyesal karena harus menyeret Salsa dalam dunia malam.
***
Sedangkan ditempat lain semua keluarga Kenzo berkumpul diruang tamu dan menyusun undangan pernikahan Abangnya, Rencananya pernikahan akan di adakan satu minggu lagi. Besok semua undangan siap disebar dan Kenzo membantu menuliskan nama di undang itu.
"Kenapa banyak sekali Ma, capek tau buatnya?" tanya nya pada Mama nya.
"Iya lah sayang, banyak kerabat dan sahabat yang harus di undang. Ini adalah acara pernikahan pertama dikeluarga kita, tentu saja harus mewah dan bagus iya kan Bang?" tanya nya pada Bang Angga.
"Nikah aja ribet banget" jawab Kenzo singkat, karena dia melihat persiapanya tidak selesai-selesai dari beberapa bulan yang lalu.
"Udah lah anak kecil kayak kamu nggak akan mengerti" jawab Angga.
"Kata siapa aku anak kecil, sebentar lagi aku ulang tahun dan umur ku 17 tahun. Lihat saja aku akan langsung buat KTP biar Abang puas" kesal Kenzo.
"Kenzo bukan bayi lagi Ma, jangan mencubit Ken seperti itu" jawab Kenzo tak suka.
"Lihat semua orang menanggap kamu itu masih bayi, bagaimana menurut Papa?" tanya Angga pada Papa nya yang asik menonton sepak bola.
"Iya benar" jawab Papa singkat.
"Masa Papa juga membela mereka berdua, tidak adil sekali. Awas saja jika minta temani main bulu tangkis minggu depan, aku nggak akan mau" ancam Kenzo pada Papa nya.
"Iya-iya stop, Papa ada di pihak Kenzo kalau begitu. Putra Papa memang sudah dewas bukti nya saja udah bisa kalah kan Papa main bulu tangkis minggu kemarin" jawabnya sambil mengedipkan matanya pada Kenzo.
"Nah apa Abang dan Mama tidak dengar" jawab Kenzo bangga.
"Baiklah putra Mama yang udah dewasa, ayo tulis lagi nama para undang nya" Suruh Mama pada Kenzo.
"Aku sudah sangat lelah Ma, kenapa tidak gantian dengan Abang saja" jawabnya.
"Jangan, tulisan Abang mu jelek nanti nggak akan kebaca" sahut Mama.
__ADS_1
"Nah benar apa kata Mama, nanti susah bacanya" sambung Angga.
"Bilang saja Abang malas, aku kasihan dengan Mbak Putri karena punya suami yang malas seperti Abang" ucap Kenzo mengejek Abang nya.
Angga yang mendengar itu langsung melempar Kenzo dengan bantal sopa, Kenzo pu juga membalasnya.
"Dasar adik durhaka" ucap Angga melempar bantal pada kepala Kenzo.
"Awww..sakit" ucap Kenzo saat bantal tersebut mengenai kepalanya.
Kenzo pun membalas nya dan saat Angga ingin membalas Kenzo bersemubunyi dibelakang Mama nya, dia memang masih sangat manja pada Mama nya jika bertemu dan berkumpul seperti ini.
"Curang sekali kamu bersembunyi dibelakang Mama" ucap Angga.
"Lihat Ma, Abang mau melempar bantal nya lagi. Kepala adek kan jadi sakit" adu nya pada Mama.
"Dasar manja" ejek Angga.
"Sudah lah jangan menganggu adik kamu lagi, kami mau menyelesaikan nama undangan ini dulu" jawab Mama.
"Kasihan kena marah kan, rasakan itu" sahut Kenzo.
"Kenapa Papa diam saja, bela Abang kek" kesal Angga pada Papa nya yang asik menonton Tv.
"Udah lah jangan ganggu Papa, Papa lagi seru ni. Lagian kamu kan Abang, mengalah saja lah pada Kenzo" jawab Papa.
"Ah nggak seru banget Mama dan Papa sama saja" ucapnya.
Setelah itu mereka bertiga menyusun undangan kedalam plastik dan Kenzo masih bertugas membuat nama nya, karena memang tulisanya bagus, sedangkan Papa masih asik sendiri dengan kegiatan menonton nya.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1