
"Itu hanya perasaanmu saja, Kak. "
"Aku benar benar tidak apa apa. "
Jawab Nabila dengan di bumbui senyuman manis.
Kini waktu makan malam pun tiba. "Kak, tolong jagain Fa'iz ya, aku mau bantuin Ibu buat nyiapin makan malam. "
Makan malam kali ini terasa jauh lebih ramai dari biasanya, karna saudara dari Ibunya Adrian juga ikut makan malam bersama mereka.
Namun bagi Nabila ketiadaan Shavia membuatnya merasa ada yang kurang. Tentu saja, sebab Shavia selalu menempel dengannya dan juga Fa'iz.
Tadi sore Bila membujuk Shavia dengan berbagai macam imbalan agar Shavia mau ikut pulang dengannya. Memang sudah lama Shavia tidak menginap di rumah Bila. Hingga akhirnya Shavia luluh setelah Bila mengatakan kalau dia akan mengajak Shavia ke pasar untuk membeli mainan yang akan di berikan kepada Fa'iz.
Bila termenung di sebelah putrinya yang sudah terlelap. Kau begitu perhatian dengannya, Mas. Bahkan dari matamu menatapnya pun berbeda dengan tatapan yang dulu pernah ku dapatkan darimu. Salahkan aku yang masih berharap lebih padamu. Aku tidak sanggup harus berpura pura kuat terus terusan.
Bila mulai terisak. Bayangan masa lalu kembali membayanginya. "Heh, aku mau makan. Buruan siapin. Lama banget sih. "
"Tu anak bisa diam gak sih, aku mau tidur. " Bentakan Adrian yang keras justru membuat Shavia yang masih bayi itu menangis semakin keras.
__ADS_1
"Bila, kau tahu tidak. Wanita itu sangat bisa memuaskanku. " Saat itu Adrian tengah pulang dini hari dalam ke adaan mabok berat.
Air mata Bila semakin mengalir sembari bayangan kelam itu berputar putar di pikirannya. Semakin Bila ingin melupakannya, justru bayangan itu semakin terasa nyata untuknya.
Sedangkan di sisi yang lain. Tampak seorang suami istri yang terlelap dengan posisi sang suami yang memeluk istrinya dari belakang. Sangat berbanding balik dengan Bila yang tengah terbelenggu akan bayangan kelam masa lalunya.
.........
Pagi mulai menyapa, mata Bila tampak sembab karna tadi malam dia menangis cukup lama. Waktu satu tahun lebih ternyata belum bisa membuatnya melupakan sosok Adrian.
Bila menepati janjinya kepada Shavia. Meskipun hatinya terasa berat, tetapi dia tetap melakukannya. Shavia begitu bersemangat saat di ajak ke toko mainan khusus anak anak.
"Iya, Ma. " Jawab Shavia seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko untuk mencari mainan yang sekiranya cocok untuk adik kecilnya.
Usai dari toko mainan Bila mengajak Shavia ke taman bermain dan menghabiskan waktu bersama seharian penuh.
Ketika hari beranjak gelap, barulah Bila mengantarkan Shavia kembali ke rumah neneknya.
Bila hanya mengantarkan Shavia sampai di teras rumah. Sengaja, karna Bila tidak ingin bertahap muka dengan Nabila yang menurutnya melebihi segalanya darinya. Bila merasa minder, seakan akan semesta menunjukkan bahwa mereka berdua sangat berbeda.
__ADS_1
"Mama pulang ya, sayang. "
"Nanti kapan kapan kita jalan lagi. "
"Cepat mandi, dan langsung istirahat. Hari ini kamu tidak tidur siang. Pasti sebentar lagi mengantuk. " Bila mencium pucuk kepala Shavia sambil mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak mampir dulu. " Tanya Adrian yang baru keluar dari rumah.
Bila tersenyum, kemudian menggeleng. "Sudah hampir malam, Mas. Aku permisi. " Pamit Bila karna tak ingin berlama lama menatap mantan suaminya yang masih bersemayam di hatinya.
.kasih likelah biar semangat up😄
.
.
.
.
__ADS_1