Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 99


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, kini mereka sudah tiba di rumah sakit satu satunya yang ada di kabupaten.


(Di kabupaten ku cuma ada satu rumah sakit ya, itupun masih terbilang kurang fasilitasnya. )


Mobil Hendra berhenti di depan lobi rumah sakit, dan tanpa membuang waktu Adrian langsung memindahkan Nabila ke atas brankar kemudian di bawa ke UGD untuk di tinjak lanjuti.


Nabila masih sadarkan diri, namun wajahnya sudah teramat pucat. Hingga seorang dokter yang terbilang masih muda keluar dari ruangan UGD.


"Bagaimana ke adaan istri saya. "


"Begini, Pak. Sebenarnya Ibu ini seharusnya sudah melahirkan. Namun karna ari arinya terletak di bawah, makanya harus di lakukan tindakan operasi. Tapi sayangnya dokternya sedang tidak ada di rumah sakit, dan baru nanti siang bisa menangani operasinya. " Jelas dokter.


"Bagaimana bisa dokternya tidak ada. "


"Keadaannya sedang darurat. "


"Kami tidak bisa menunggu sampai nanti siang. " Seru Hendra, sebab benar benar di rundung perasaan takut akan ke adaan Nabila.


"Kami minta maaf, Pak. Tapi sejauh ini kondisi pasien masih aman dalam pantauan kami. "


"Kami akan mengusahakan agar operasi sesegera mungkin dilakukan saat dokternya sudah tiba. "

__ADS_1


Tampak semua orang mengangguk pasrah akan keadaan. Sepeninggal sang dokter mereka langsung menyusul Nabila untuk melihat keadaannya.


"Apa yang kamu rasakan. Apa ada yang sakit. " Tanya Andini.


"Gak ada yang sakit, Ma. Cuman lemes aja. "


"Mama mau nelpon Paman kamu dulu ya. Mau ngasih kabar kalau kita gak bisa pulang malam ini. "


Usai memberi kabar kepada adik iparnya yang di titipi Fa'iz, Andini kembali bergabung dengan Hendra dan Adrian yang masih berada di UGD bersama Nabila.


"Mama sama Papa pasti belum makankan. Kalian makan dulu saja. Biar Nabila Adrian yang jaga. " Bukan tanpa alasan Adrian berkata demikian. Sebab dia pun juga sudah kelaparan. Terakhir makan saat makan siang di rumah, kini sudah hampir waktu Isya, tentu saja sudah jamnya makan malam.


"Ya udah. Mama sama Papa keluar dulu buat makan. "


"Kalian mau makan apa. Biar sekalian Mama beliin. " Andini bertanya.


"Nasi goreng saja, Ma. "


Andini dan Hendra keluar dari area rumah sakit untuk mencari warung makan. Setengah jam kemudian mereka kembali lagi ke rumah sakit dengan membawakan pesanan Nabila.


Nabila makan dengan di suapi Adrian. "Sedikit lagi ya. Biar kamu punya tenanga sedikit. " Bujuk Adrian. Lantaran Nabila baru makan tiga suap, sekarang sudah minta berhenti.

__ADS_1


Keadaan Nabila terus di pantau oleh dokter secara berkala, hingga pukul tiga dini hari keadaan Nabila tak juga menunjukkan kemajuan. Ditambah darah yang terus terusan keluar membuat dokter yang ada di rumah sakit menjadi sedikit panik.


Sang dokter pun sudah beberapa kali menelpon rekannya untuk mengatakan kalau kondisi pasien tidak bisa menunggu sampai nanti siang.


Rasanya Adrian ingin marah. "Apa tidak ada dokter yang lain. "


"Kalau istri saya kenapa kenapa bagaimana. "


"Pak, tenanglah. Dokternya sedang dalam perjalan dari luar kota. Bahkan belum sempat pulang ke rumah dia langsung akan kemari. "


"Jadi saya harap kalian bersabar sedikit. " Jelas dokter muda itu karna merasa takut akan kemarahan Adrian yang tadi sempat menggebrak meja kerjanya.


Adrian keluar dari ruangan dokter dengan perasaan kesal lantaran di suruh menunggu lagi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2