
"Tiga ratus ribu, Bu. " Dengan perlahan aku mencoba bangkit dari dudukku untuk mengambilkan uang membayar biaya persalinanku.
Usai meletakkan anakku di kasur aku mengantar Ibu bidan sampai di depan pintu. "Terima kasih banyak, Bu. "
"Iya, sama sama. Ini memang sudah menjadi tanggung jawab saya, Bu. Nanti kalau ada apa apa Ibu bisa telpon, biar saya yang datang. Saya permisi. " Ku tutup pintu rumah, tak lupa akupun mengunci pintunya.
Ku tatap lekat lekat wajah anak ku yang berjenis kelamin perempuan. Mata yang dalam, hidung yang kecil, serta bibir yang terlihat manis. Semua itu berasal dari gen Mas Adrian. Benar benar mirip. Tidak ada satupun genku yang menurun padanya. Bayi yang malang.
Untunglah semuanya sudah ku siapkan dari dua bulan yang lalu sebelum persalinan, sehingga aku tidak perlu repot repot meminta bantuan Mas Adrian jika ada yang ku butuhkan.
Semuanya sudah tertata rapi di kamar. Mulai dari pakaian bayi, perlengkapan seperti minyak telon, baby oil, tisu basah, tisu kering, semua sudah ku siapkan selengkap lengkapnya.
__ADS_1
Ku baringkan tubuhku perlahan dengan menghadap ke arah putriku. Berpikir ingin ku beri nama apa anak ini. Hingga mataku di hinggapi rasa kantuk, nama yang cocok tak kunjung ku dapatkan.
Rasanya baru saja aku tertidur, kini terdengar suara tangis bayi yang mengudara. Ku lihat jam yang menggantung di dinding. Jam empat, baru satu jam aku tertidur. Ku gendong bayi yang tengah menangis itu, ku berikan asi sambil ku tepuk tepuk pahanya dengan pelan. Setelah bayi itu terlelap barulah aku kembali memejamkan mataku.
.
.
.
Aku kembali memberikan asi kepada anakku hingga dia terlelap, barulah aku bisa mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang lainnya. Aku mulai mengumpulkan pakaian kotor yang ingin di cuci, lalu mencucinya, terus menjemurnya. Lanjut dengan pekerjaan bersih bersih rumah lainnya seperti nyapu, ngepel, juga mencuci piring. Jika biasanya sebelum melahirkan aku bisa menyelesaikan semuanya dalam waktu satu jam setengah, kini semuanya harus ku selesaikan dalam waktu hampir tiga jam.
__ADS_1
Ku lihat anakku masih tertidur, dengan cepat aku kembali mandi untuk yang kedua kalinya karna tubuhku sudah di penuhi dengan keringat. Baru saja aku memasuki kamar suara tangisan sudah menyambutku.
"Sudah haus ya, tidurnya lama banget sih. " Usai dengan payudara yang kanan, aku mengganti posisinya supaya bisa minum asi dari payudara kiriku. Hampir dua puluh menit aku menyusuinya, barulah dia ku letakkan kembali di kasur.
Kini aku mulai memasak untuk makan siang ku. Tidak perlu yang ribet, aku hanya memasak nasi dan merebus telur bebek tiga butir, satu untuk makan siang, satu untuk makan malam, dan satu untuk jaga jaga kalau kalau aku kelaparan tengah malam nanti.
.
.
.
__ADS_1
Mas Adrian, tega sekali kau Mas. Setelah semuanya aku korbankan, kau justru meninggalkanku. Via, maafkan Mama. Mama masih belum bisa menemuimu. Mama tidak ingin menunjukkan kesedihan Mama di depan mu. Mama turut senang, kamu baik baik saja di sana.