
Nabila kembali keruang tamu dengan membawa nampan yang berisi dua gelas teh.
Setelah meletakkan teh diatas meja, Nabila langsung duduk disebelah kiri Adrian.
Adrian masih diam. Bingung, harus bagaimana ia mengutarakan isi hatinya. Telapak tangan juga kening Adrian mulai mengeluarkan keringat. Padahal diruang tamu kipas angin sudah menyala untuk mengusir hawa panas.
"Ada apa Kak, Kakak sakit? " Tanya Nabila.
"Ehh emhh, gak sakit kok cuman lagi grogi aja. "
"Kenapa harus grogi juga sih Kak, biasanya juga Kakak selalu nyerocos duluan. " Kata Nabila sambil tertawa.
"Nabila cantik, kita nikah yuk. "
Kelakuan Adrin sukses membuat Nabila melongo.
Apa apaan ini, masa iya melamar begini. Tidak ada romantis romantisnya.
"Jangan bercanda Kak, ini sama sekali tidak lucu. " Sambil mengerucutkan bibirnya.
Kini Adrian menampakka keseriusannya.
"Nabila, kamu maukan menikah denganku. Mari kita menua bersama dengan anak anak kita kelak. " Sambil menggenggam tangan Nabila.
__ADS_1
Sebuah kalimat yang membuat Nabila membisu. Nabila menatap netra Adrian, berusaha mencari kebohangan atas kata kata yang Adrian ucapkan. Nihil, yang ada hanya sorot mata penuh cinta dan juga keseriusan. Karna Adrian memang benar benar mencintai Nabila.
"Tentu saja aku mau menikah dengan Kakak. Tapi Kakak harus mendapatkan restu Papa dan Mama terlebih dahulu. Kakak tahu kan, untuk berpacaran saja sulit mendapatkan restu. Apalagi untuk Pernikahah. Ku harap Kakak mau bersabar menghadapi Papa.
Hendra adalah rintangan terbesar dalam hubungan mereka. Karna Hendra sangat menyayangi putri satu satunya itu. Tentu saja dia ingin jodoh terbaik untuk putrinya. Semua orang tua memang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak anaknya.
"Tentu saja, aku akan berusaha. Kau tahu, semakin sulit kita mendapatkan seseorang, maka akan semakin sulit juga untuk kita melepaskannya. "
"Kau benar Kak, ayo kita sama sama berjuang lagi. " Sambil tersenyum manis.
Semoga saja aku bisa melihat senyuman itu setiap harinya. Aku pasti akan berjuang sayang. Batin Adrian.
Mereka mengobrol banyak, benar benar memanfaatkan situasi. Saat jam sudah menunjukkan jam 14.30 barulah mereka makan siang bertiga bersama Andini.
Bagaimana ini, akukan sudah bilang sama Nabila kalau aku sebatang kara.
"Yaa, Bu. Adrian memang sebatang kara. " Tanpa menatap wajah Andini.
Andini hanya berohhh ria, tanpa bertanya lebih lanjut.
Setelah makan siang yang kesorean Adrian pamit pulang, karna sudah jam 15.00. Adrian takut kalau tiba tiba Hendra datang. Adrian harus mempersiapkan diri untuk menemui Hendra, meyakinkannya bahwa Adrian memang benar benar ingin memperistri Nabila.
Adrian berniat minggu depan akam menemui Hendra untuk melamar Nabila secara resmi.
__ADS_1
.
.
.
.
Dikediaman orang tua Adrian.
Saat ini Bila sedang berkunjung kerumah mertuanya.
"Udah lama ya Bu, Mas Adrian gak pernah pulang. Biasanya juga paling lama dua bulan sudah pulang. " Keluh Bila.
"Tapi Adrian tetap mengirim uangkan Bila, untuk kalian. "
"Masih kok Bu. "
"Syukurlah Bila, berarti Adrian masih mengingat kalian. Minggu lalu Adrian bilang ke Ibu, kalau jadwal main Adrian sedang padat, makanya dia tidak bisa pulang. Kamu yang sabar ya Bila. Batu juga kalau kelamaan kena air akalhirnya retak juga kan. Semoga saja kelak Adrian akan menyadari perjuanganmu. " Hibur sang Ibu mertua.
Aku pun juga berharap begitu Bu, semoga harapan kita sama sama terkabul Bu. Bila membatin.
.
__ADS_1