Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 16


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Saat ini Adrian sedang bersiap siap untuk kembali ke Daerah XXX. Karna Adrian masih membutuhkan pekerjaan itu untuk mencukupi uangnya.


"Adrian, bagaimana jika kamu mencoba pekerjaan lain selain mencari emas. Bukankah katamu uangmu kurangnya hanya sedikit. " Sambil mengelus punggung Adrian yang sedang duduk membelakangi sang Ibu.


"Tidak bisa, Bu. Adrian sudah merasa nyaman bekerja disana. Selain itu, disana juga penghasilannya lebih besar dari pada disini. Jadi, Adrian mohon, Ibu mengizinkan Adrian pergi. Hanya satu bulan, Bu. Tidak akan lama. "


"Ibu tidak ingin kau pergi terlalu jauh, Adrian. Bagaimana kalau kamu jual saja sawah kita yang kecil. Itu pasti cukupkan, Adrian. " Tawar sang Ibu.


Itukan sawah yang sudah kuberikan kepada Ibu, apa tidak apa apa kalau aku menjualnya.


"Tidak perlu, Bu. Adrian masih bisa bekerja. " Tolak Adrian.


"Tidak apa apa, Adrian. Jual saja sawah yang kamu berikan itu. Kita masih punya sawah yang lain. "


"Baiklah, Ibu. Kalau begitu Adrian tidak jadi berangkat. Terima kasih, Bu. Ibu selalu bisa mengertikan Adrian. " Sambil memeluk sang Ibu.


" Sama sama, Nak. Semoga saja kamu tidak mengecewakan Ibu. "


.


.


.


.

__ADS_1


.


Adrian menemui Ayahnya untuk meminta persetujuan sang Ayah untuk menjual sawah yang sudah diberikan Adrian kepada orang tuanya dulu.


"Jual saja, Adrian. Benar kata Ibumu. Kalau kita masih memiliki sawah yang lain. Tapi, gunakan uangnya sebaik mungkin. " Tutur sang Ayah.


" Terimakasih, Ayah. "


Adrian menawarkan sawah yang berukuran 30X30m kepada teman temannya. Barangkali ada yang ingin bertani. Karena lokasinya sangat strategis untuk digunakan menanam padi.


Tidak sulit untuk menjualnya. Hanya perlu waktu dua hari saja sawah tersebut sudah dipinang oleh pembelinya.


Adrian menghitung uangnya, ternyata sudah cukup. Bahkan masih ada sisa sekitar 9.000.000 tanpa harus menjual motor kesayangannya. Uang sisa itu akan Adrian berikan kepada Ayah, Ibu, Kakak, juga Adik Adrian masing masing satu juta. Jadi Adrian masih memiliki tabungan 5.000.000 untuk keadaan terdesak.


Adrian masih memiliki waktu kurang lebih satu bulan dari waktu yang diberikan Hendra. Adrian berniat menggunakan waktu satu bulan untuk mencari uang tambahan untuk kehidupannya kelak bersama Nabila.


.


.


.


.


.


Adrian memutuskan tinggal di Kampung halamannya sambil bekerja serabutan. Pekerjaan apapun yang ditawarkan pasti Adrian terima, asal Adrian sanggup melakukannya.

__ADS_1


Saat Adrian sedang beristirahat, tiba tiba Via datang mendekatinya. Adrian diam saja melihat sang Putri masuk kedalam kamarnya.


Adrian memandang Putrinya secara intens.


Kau Putrikukan, tapi kenapa terasa asing bagiku. Seperti ada jarak diantara kita. Wajahmu begitu mirip denganku. Entah mengapa aku belum bisa memperlakukanmu layaknya Ayah dan Ibu memperlakukanku.


"Papa. " Sapa Via.


"Ya, Via. Ada apa. "


"Via rindu dengan, Papa. Kenapa Papa tidak pulang kerumah. " Tanya Via.


"Inikan rumah Papa. " Jawab Adrian. Saat ini Adrian sedang berusaha untuk menjalin komunikasi yang baik dengan sang Putri. Meskipun masih ada kecanggungan diantara keduanya. Tapi, ini tidaklah buruk.


"Pulang kerumah Via, Pa. "


"Papa disini saja, ya Via. " Pinta Adrian.


Via hanya mengangguk.


"Bolehkan Via memeluk Papa. " Tanya Via kepada Adrian dengan mata yang mulai mengembun.


Anak ini kenapa.


"Boleh. "


Via langsung memeluk Adrian. "Via ingin setiap hari bisa memeluk Papa seperti teman teman Via yang lain. "

__ADS_1


Deg


__ADS_2