
Dua bulan sudah berlalu. Kini Nabila dan Adrian mengunjungi orang tua Adrian bersama sama. Rasanya sudah lama Nabila tidak bertemu dengan Shavia.
Sama seperti biasanya, kedatangan Nabila dan Adrian selalu mendapat sambutan dari Shavia.
"Via kangen adik Fa'iz. " Sambutnya seraya melompat lompat di hadapan Nabila.
"Iya, adik Fa'iz juga kangen sama Kakak Via. " Jawab Nabila.
"Ibu mana, Kak. " Tanya Nabila setelah dia menurunkan Fa'iz dari gendongannya.
"Gak tau, aku coba tanya sama Verry ya. " Adrian langsung berjalan keluar rumah untuk mencari keberadaan Verry.
Hingga tak lama pun Adrian kembali. "Ibu ke pasar sebentar, ada yang di beli. "
"Sebentar lagi juga kembali. "
Baru saja Adrian menyelesaikan kalimatnya, kini terlihat Ibu sudah berada di teras rumah dengan membawa beberapa keresek di tangan.
Adrian menghampiri Ibunya. Lalu mengambil alih apa yang di bawa Ibunya. "Sudah lama sampainya. "
"Baru saja, Bu. " Nabila yang menjawab.
Ibu langsung mendekati Fa'iz yang kini sudah mulai bisa berjalan sendiri walaupun hanya beberapa langkah.
.........
__ADS_1
Usai makan siang semua orang memutuskan untuk beristirahat sejenak. Tinggallah Nabila yang menjaga Fa'iz seorang diri lantaran tadi Fa'iz sudah tidur siang terlebih dahulu.
Nabila mencari cari biskuit yang biasa di makan Fa'iz sebagai cemilan, ternyata biskuit itu tertinggal. Beli yang baru saja deh. Nabila.
Kalau saja Adrian tidak tidur, mungkin Nabila akan menyuruhnya untuk pergi ke warung. Akhirnya dengan terpaksa Nabila pergi ke warung dengan menggendong Fa'iz.
"Ehh, istrinya Adrian. Sudah lama ya gak pulang ke sini. " Sapa seorang Ibu yang kebetulan sedang bersantai di warung.
Nabila tersenyum. "Iya, Bu. Lumayan lama. "
"Mau beli apa. "
"Ehh, ganteng. Kok lebih mirip Verry ya dari pada Adrian. "
Sapa si pemilik warung.
Nabila kembali memperhatikan wajah Fa'iz. Benar benar mirip Verry. Mulai dari mata serta bibirnya. Kalau orang melihat Verry yang menggendongnya mungkin akan tampak seperti adik kakak. Sangat berbeda dengan Shavia yang begitu mirip dengan Adrian.
"Saya mau cari biskuit, Bu. Yang untuk balita ya. "
Sang pemilik warung langsung mengambilkan pesanan Nabila. "Ada lagi. "
"Itu saja, Bu. "
"Eh, emang bener ya kalau Adrian sama Bila itu mau rujuk. Soalnya saya dengar dengar seperti itu. " Tanya seorang Ibu yang pertama menyapanya tadi.
__ADS_1
Untuk sejenak Nabila terkejut atas pertanyaan to the poin tersebut. Namun tak lama kemudian Nabila mengembalikan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang.
"Ahh, kata siapa, Bu. "
"Gak bener itu beritanya. "
"Tapi kemarin. Eh, udah lumayan lama lah ya, tapi gak lama lama amat juga. Saya lihat mereka bertiga itu kayanya udah deket lagi. " Lanjut si Ibu.
"Nanti saya tanya sendiri saja Bu sama Kak Adrian langsung. Biar gak salah paham. " Masih berusaha untuk tenang. Walaupun sebenarnya hatinya sudah mulai memanas.
"Tapi saya dengernya dari orang loh ya. Bukan saya yang ngarang. Saya cuman nanya. " Entah apa maksud si Ibu sampai dia berkata seperti itu.
"Iya, Bu. Saya permisi. " Pamit Nabila dengan memberikan senyuman kecil.
Mata Nabila sudah mulai perih, ingin sekali dia menangis sebagai bentuk rasa terkejutnya atas apa yang di sampaikan si Ibu barusan.
.
jangan lupa like ya, besok up lagi...
.
.
.
__ADS_1
.