Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 48


__ADS_3

Pukul sebelas siang Adrian telah tiba dikediaman Hendra. Nabila sudah menanti kedatangannya dengan menyambutnya diteras rumah.


Mengambil alih keresek yang di tenteng Adrian. "Capek ya. "


"Gak, kan udah biasa pulang pergi dari sana ke sini. " Sambil memberikan senyuman kepada Nabila.


Adrian segera membersihkan dirinya, sedangkan Nabila memanaskan makanan yang Adrian bawakan. Setelah itu barulah mereka makan siang bersama.


"Mulai besok kau harus bekerja Adrian. Penghasilanmu sebagai pemain sewaan kemungkinan besar tidak akan cukup untuk keperluan kalian nantinya. "

__ADS_1


Tentu saja tidak cukup kalau hanya mengandalkan penghasilan dari sana. Tapi akukan masih memiliki investasi dari pelabuhan yang ada di kota.


"Kau harus bekerja sebagai penyadap karet, sama seperti kebanyakan orang. Tapi kamu tenang saja. Nabila pasti akan mengajarimu sampai kamu benar benar bisa. " Lanjut Hendra sambil melirik sang Putri.


Sebelum menikah dengan Adrian Nabila memang suah biasa membantu Hendra serta Andini untuk menyadap karet. Jadi Nabila sudah tidak merasa asing akan pekerjaan tersebut.


Baginya tidak masalah pekerjaan apa pun itu, asalkan halal. Dulu pun Nabila pernah berada di situasi yang sulit. Saat keadaan ekonomi Hendra dan Andini masih sangat dibawah.


Perlahan tapi pasti kehidupan mereka mulai berubah. Nabila bersyukur, Yuda sang adik tidak perlu mengalami masa masa sulit sepertinya. Tapi hal itu justru membentuk sifat Yuda yang sekarang lebih terkesan sombong.

__ADS_1


"Iya, Pa. " Membalas dengan senyuman.


Usai makan siang Adrian memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil mengumpulkan tenaga untuk menjelaskan semua yang terjadi selama kepulangannya kemarin.


Begitupun dengan Nabila, dengan rasa penasaran yang membuncah ingin tahu bagaimana reaksi Istri pertama suaminya tersebut. Tapi dia lebih memilih menunggu Adrian menjelaskan langsung padanya tanpa harus dia yang bertanya lebih dulu.


Nabila sudah bertekad dari jauh jauh hari, bahkan sebelum dia mengenal Adrian. Baginya pernikahan itu adalah suatu hal yang sakral. Maka dari itu dia memutuskan untuk menikah hanya sekali seumur hidupnya. Hingga kini dia berada diposisi yang sulit pun lebih memilih mempertahankan pernikahannya. Biarlah dia di madu pikir Nabila. Asalkan dia tidak pernah bertatap muka dengan madunya langsung, dia akan menganggap seolah olah dia tidak memiliki madu.


Maka dari itu dia meminta Adrian untuk tidak menceraikan Bila. Dia memiliki Adrian saja sudah menyakiti Bila. Apa lagi jika Adrian sampai menceraikan Bila karenanya, itu akan lebih menyakiti Bila. Dia tidak setega itu untuk menyakiti sesama wanita. Tapi justru takdir membuatnya menjadi wanita yang tega.

__ADS_1


Adrian terbangun dari tidurnya saat waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Dilihatnya Nabila ternyata masih tertidur pulas di sampingnya. Adrian mendekat berusaha memeluk sang Istri.


__ADS_2