Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Sepenggal Cerita Kelam Kehidupan Author


__ADS_3

Hay eprebadeh..


Namaku Isma, umurku 22 tahun, dan aku berasal dari Kalimantan Selatan, Kabupaten Balangan. Nama Putri Kalimantan itu terinspirasi dari nama Putri Tanjung penulis OB Kerudung Biru, berhubung aku dari kalimantan jadi deh nama Putri_Kalimantan ini.


Aku seorang Ibu Rumah Tangga, punya dua anak perempuan, kembar. Namanya Amelia Adelia, tanggal 16 September nanti umurnya udah genap tiga tahun. Kebayang gak sih gimana jagainya, pasti cepek banget, apa lagi sekarang lagi aktif aktifnya.


Aku anak kedua dari empat bersaudara, Kakak ku laki laki dan adik ku keduanya perempuan.


Aku menikah saat usiaku genap 17 tahun. Bahkan aku nikah pas hari ulang tahunku. Kebanyakan orang bahagia di hari pernikahan mereka, tapi tidak untuk ku.


Ralatt, bukannya tidak bahagia. Melainkan kurang bahagia. Oh ya, ini sekedar berbagi pengalaman hidup ya. Bukan untuk mengumbar ngumbar aib.


Aku ini bukan orang yang baik, hidupku penuh dengan masa lalu yang buruk. Nikah pun karna MBA, mungkin itu yang membuat pernikahanku di awal awal sangat menyedihkan.


Aku pacaran sudah dua tahun dengan suamiku, selama pacaran dia ku kenal dengan baik. Masa masa pacaran memang indah.


Ayahku sudah meninggal saat usiaku hampir dua tahun. Jadi kalau mau nikah kan artinya Kakak laki laki aku yang jadi wali. Nah, saat aku ketahuan hamil keluarga aku langsung gerak cepat mendatangi kediaman suamiku. Malam ini itu keluargaku yang laki laki berjumlah tiga orang mendatangi kediaman suamiku. Mereka menceritakan kehamilanku, kebetulan aku udah pacaran dua tahun sama suamiku. Keluargaku menceritakan semuanya, tentang ayahku yang sudah meninggal, tentang aku yang mempunyai ayah tiri yang sedang terkena stroke, tentang keadaan keluargaku yang tergolong pas pasan.


Tanpa ada yang mereka tutup tutupi, semuanya mereka ceritakan. Alhamdulilah, orang tua suamiku yang termasuk orang terpandang juga disegani itu mau menerima ku dengan tangan terbuka. Sampai saat ini aku bersyukur, Tuhan memberiku mertua yang baik, tidak memandang derajat.


Setelah kedatangan keluargaku malam itu, malam selanjutnya barulah orang tua suamiku datang kerumah, untuk melamar ku secara layak. Saat itu sebagian anggota keluargaku berkumpul. Kakak ku juga ada, tapi Kakak ku tidak banyak bicara. Cuma ngangguk ngangguk doang.


Setelah itu kami mulai mengurus surat surat untuk pernikahan kami. Saat Itu masih tahun 2016, jadi umur 17 udah bisa nikah secara agama dan negara.


Yang bikin nyesek itu, pas hari H nya.


Kan nikahnya habis shalat jumat di kantor KUA. Dari pagi Kakak ku di hubungin gak di jawab. Kakak ku tinggal di desa Istrinya. Berkali kali di telpon tidak di angkat, di sms tidak di balas. Hal itu membuat semua orang panik. Siapa yang menikahkan aku kalau wali nya gak ada. Terus pamanku pergi ke KUA, bertanya, minta solusi untuk mencari jalan keluar. Hingga pihak KUA menyarankan, Kakak dari Ayah kandungku yang untuk menjadi wali sementara. Aku saat itu gak tau itu bisa atau tidak. Setidaknya kata keluargaku pernikahannya tetap berlangsung. Semua orang kecewa sama Kakak ku. Hingga jam satu siang aku mendapat pesan seperti ini. "Isma, abc (nyebutin nama Kakakku) pergi meranatu. Abc tidak bawa hp juga motornya di tinggal. Mungkin tiga bulan lagi baru pulang. " Satu pesan dari kakak ipar ku itu benar benar mengguncang ku. Begitu menyesakkan, alasan macam apa itu. Sangat tidak masuk akal.


Ku bacakan pesan yang di kirim dari hp Kakak ku di hadapan keluargaku. Ibuku menangis, menyayangkan sikap Kakak ku. Padahal jelas jelas dia tahu kalau hari ini aku akan menikah. Semua orang berkata "Tega sekali, banyak orang yang menikah karna hamil duluan, bukan hanya aku seorang. "


Hingga pernikahan itu dilangsungkan yang pada akhirnya di wali kan oleh Kakak ayah kandungku. Saat itu kami tidak di beri buku nikah. Kata pihak KUA kami baru bisa mendapatkan buku nikah kami kalau Kakak ku yang mewalikan langsung, atau melalui proses persidangan.


Paman langsung mengurus persidangan untuk mencari wali untuk ku. Hingga sidang di lakukan ternyata permohonan kami salah. Kata hakim seharusnya inti permohonannya seperti ini. "Wali tidak ingin menikahkan. " Dan akhirnya kami di suruh kembali mengikuti prosedur awal untuk membuat surat permohonan yang benar.


Hingga suatu ketika, Pamanku mendatangi kediaman Kakak ku entah yang keberapa kalinya. Tanpa memberi kabar kedatangan Paman langsung ke sana dan masuk sendiri kedalam rumah Kakakku tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.


Dan ternyata selama ini Mereka "Kakakku dan Istrinya" sudah membohongi kami. Kakakku tidak ke mana mana. Tanpa basa basi Pamanku langsung membuka suaranya. "Ayo abc, ikut Paman sebentar. " Dengan terpaksa Kakakku mengikuti pamanku ke kantor KUA yang berjarak hampir satu jam dari kediaman Kakakku.

__ADS_1


Kakakku di bawa paman ke KUA, lalu aku di suruh menyusul ke KUA untuk menyerahkan ku kepada penghulu yang akan menjadi waliku berikutnya. Ku tatap wajah Kakakku yang agak pucat, mungkin Kakak gugup, merasa bersalah atau kecewa padaku. Yang pasti dia selalu menghindar dari tatapan mataku. Kami di suruh bersalaman, dapat ku rasakan tangannya yang dingin dan sedikit bergetar menjabat tanganku. Aku lupa apa yang saat itu ku ucapkan kepada kakakku. Intinya sebagai permohonan atau ijin untuk menikah. Setelah itu barulah Kakakku berjabat tangan dengan penghulu untuk menyerahkan walinya kepada penghulu.


Tanpa berkata apa pun Kakakku langsung pulang kerumahnya. Ke esokkan harinya barulah aku dan suami melakukan ijab qobul untuk yang kedua kalinya dan baru mendapatkan buku nikah.


Note : tanggal 04 Maret 2016 aku nikah yang pertama. Lalu tanggal 19 maretnya tiba tiba anak yang ku kandung lahir dan dinyatakan meninggal di dalam kandungan. Saat itu usia kehamilanku hampir memasuki bulan ke tujuh. Lalu tanggal 28 April kami menikah yang kedua kalinya.


Tuhan begitu adil, Tuhan masih belum mempercayakan kami untuk menjadi orang tua, makanya Tuhan mengambilnya dari kami.


Pada tanggal 01 mei resepsi di adakan di kediaman ku, sama seperti resepsi kebanyakan orang di kelas bawah, tidak terlalu meriah. Kemudian tanggal 4 mei resepsi kembali di adakan di kediaman suamiku. Sangat berbanding balik dari kediaman ku. Begitu meriah, acara benar benar di adakan besar besaran. Semua keluarga suamiku terlihat sangat antusias dengan pernikahan kami.


Aku mendapatkan ayah dan ibu mertua yang memperlakukan ku layaknya anak mereka sendiri, aku memiliki Kakak ipar yang baik, keluarga yang menerima kehadiran ku dengan baik. Semua orang memperlakukan ku dengan baik, tapi sayangnya suamiku memperlakukan ku dengan sedikit buruk.


Aku menjalani awal awal pernikahan itu tidak mudah. Saat itu usia suamiku baru 20 tahun. Masih tergolong sangat muda. Jiwanya masih ingin kebebasan.


Aku sering di tinggal, kami sering bertengkar. Aku berusaha menyesuaikan diri, kalau aku sudah menikah, sudah bersuami. Aku tidak pernah merespon semua laki laki yang menghubungi ku baik melalui pesan, BBM, atau facebook. Semua ku abaikan, karna aku ingin menjaga hatinya. Author sok cantik ya 😂...


Tapi suamiku justru melakukan kebalikannya. Dia sering chat sama banyak perempuan, mengajak mereka jalan. Hingga suatu hari aku menemukan sebuah pesan. "Sayang, aku kangen. " Tentu saja untuk seorang wanita yang berusia 17 tahun pesan itu begitu menyakiti hatinya. Aku mencoba menegurnya. "Bisakah kau berhenti berhubungan dengan semua wanita. Kalau pun berhubungan hanya sebatas pertemanan saja. " Tapi dengan lantang nya dia menjawab. "Terserah ku. Aku mau seperti apa, berhubungan dengan siapa pun, semuanya terserah ku. Kalau kau iri sana, silahkan kau berhubungan dengan laki laki mana pun, aku tidak akan melarangmu. "


Hatiku begitu sakit mendengarnya. "Tapi aku tidak sepertimu, aku tidak bisa. Aku tidak terbiasa. " Ku jawab begitu. "Kalau tidak biasa maka biasakanlah. " Kata kata itu selalu ku ingat.


Hingga aku mulai membuka diri, satu persatu chat laki laki di bbm mulai ku balas. Hanya sebatas chat juga berkirim foto. Kami tidak pernah bertemu. Setelah suamiku membaca chat yang ku lakukan dengan laki laki lain dia malah marah. Sampai sampai pas makan itu gelas kaca dia gigit, dia kunyah kaya kerupuk trus dia telen. Ini serius loh, aku gak bohong.


Pergi jam tiga sore, pulangnya jam tiga dini hari. Ngapain coba dia keluar begitu lamanya.


Suamiku orangnya emosian, keinginannya harus di turuti. Kalau aku ngebantah, apa lagi melawan tangan langsung terangkat. Karna aku bukan orang yang gampang ngalah hingga seringlah terjadi adu kekuatan. Dia pukul aku, ku balas lah, ku cakar kek, ku tendang kek, yang penting ku balas. Dulu itu aku mikirnya gini. Kalau aku ngalah nanti dia makin semena mena sama aku, aku bakalan di injak injak terus, aku harus lawan.


Fisik aku mah udah kenyang dapat pukulan, apa lagi hatiku.


Masalah demi masalah terus saja berlanjut, yang menjadi inti masalah adalah ke inginan suamiku yang ingin memiliki istri di rumah, tapi seakan akan orang luar mengenalnya lajang. Artinya di luar rumah dia masih ingin bebas.


suamiku dulu sering nongkrong di warung kopi, itu loh warung yang di jaga sama wanita yang berpakaian seksi. Yang hara kopinya lebih mahal dari di warung biasa. Karna aku sudah geram dengan kelakuannya, akhirnya aku putuskan untuk membalasnya dengan cara aku yang bekerja di warung kopi. Dua malam aku bekerja, menggunakan pakaian seksi. Kata temenku harus pandai bicara biar pelanggan betah.


Tapi aku malah banyak diem. Aku tergolong seseorang yang introvert. Gak suka banyak bicara, apa lagi sama orang asing, Cenderung tertutup. Tapi kalau sudah dekat, sudah akrab, aku udah biasa aja. Malahan aku jadi banyak ngomong, karna sebenarnya aku orangnya juga agak humoris, dan suka bercanda.


Hingga akhirnya suamiku ngajakin aku pulang dan berjanji tidak akan nongkrong di warung kopi lagi.


Setiap ada pertengkaran aku lebih sering pulang ke rumah orang tuaku. Setiap pulang itu selalu di tanya gini "kenapa pulang sendiri, ajak suami " aku cuma jawab "suami gak bisa" aku gak mau orang tua ku tahu permasalahan kami. Tapikan yang namanya orang tua pasti tau apa yang kita sembunyikan.

__ADS_1


"Kalau mau pisah ya pisah aja. Mungkin jodohnya cuma sampai di sana " kata ibuku.


Tapi mertuaku menolak. "Jangan pisah dulu, coba pertahankan. Pelan pelan dia pasti berubah. "


Aku saat itu hanya merasa tidak enak karna memang semua keluarga suami baik sama aku. Akhirnya aku mencoba bertahan.


Masih banyak masalah lainnya, sampai sampai aku ngelakuin hal hal yang aneh. Ban motor suamiku aku bocorin, pomadenya kucampurin sama minyak tanah, kecap manis aku tambahin minyak goreng. Apa coba maksudku dulu itu.


Bahkan saking keselnya, regulator gas aku cabut, sebelum aku pulang. Nasi sama lauk pauk ku bawa semua. Karna aku tau dia gak bisa pasang tu regulator makanya ku cabut. Dulu sih aku mikirnya gini. "Rasain lu, biar lu apa apa pakai kayu bakar. "


Aneh gak sihh.


Segitu aja ya ceritanya, masalah kan kalau di ceritain gak ada habisnya yah.


Jadi kalau inget masa masa itu gak nyangka aja kalau sekarang sampai punya anak.


Sampai sekarang hubunganku sama kakakku masih renggang. Kalau ketemu cuma diem dieman seperti orang asing. Gak saling menyapa. Mau nyapa jugakan aku bingung mesti ngomong apa. Padahal ini sudah lima tahun berlalu. Tapi kok kaya berasa kemarin. Pas resepsian dulu juga Kakakku gak hadir.


Hubungan suami dengan keluargaku, termasuk ibuku juga masih kurang bagus. Di karenakan suamiku kurang bergaul sama keluargaku. Mungkin karna kami orang susah jadi suamiku enggan bergaul sama keluargaku yang lain.


Sekarang ayah tiri ku yang kena stroke udah meninggal pas aku hamil delapan bulan.


Kalau ada yang nanya, sekarang bahagia gak. Aku pasti jawab. Bahagia untuk anak anak. Bagiku kebahagiaan anak adalah yang paling utama.


Trus kalau di tanya cinta gak sama suami. Aku jawab "Tidak, aku masih bersama dia hanya demi anak anak. Mungkin karna terlalu sering di sakiti membuat cinta itu meluap. Padahal suamiku sudah berubah. Tapi tetap saja cinta itu tidak pernah kembali hadir. "


Aku selalu berusaha menjalani tugasku sebagai istri juga ibu rumah tangga dengan sepenuh hati. Semoga rasa cinta yang dulu itu bisa datang kembali. Apa lagi sekarang suamiku sudah berubah banyak.


Buat Si E..., kalau kamu baca kamu jangan bilang bilang ya. Apa lagi sama ibumu.


Aku sih nganggep nya berbagi pengalaman hidup yah, terserah orang nganggepnya apa.


Inilah perjalanan rumah tanggaku...


Note : aku pas hamil itu sama sekali gak pernah usg, jadi pas mau lahiran, udah di bawa ke rumah sakit baru tau kalau aku bakalan punya bayi kembar. Benar benar kejutan. Ada perasaan senang juga khawatir. Khawatirnya itu takut, gimana jagain nya pas waktu kecil.


Salam sayang...

__ADS_1


Ig : @Ismaawati43


Barang kali ada yang mau mampir.


__ADS_2