
"Kau tahu Kak, Putrimu anak yang baik. Meskipun aku baru mengenalnya. Bisa ku lihat kalau dia anak yang penurut, hanya dengan satu panggilan dia langsung menghampiri Ibu. Hanya dengan satu teguran dia langsung patuh. Sangat berbeda dengan anak anak seusianya. "
Yaa, Nabila melihat saat Shavia sedang asik bermain pasir, menggenggam pasir, lalu menerbangkannya ke udara. Ibu Adrian yang melihatnya pun langsung memberi teguran tegas. " Via, berhenti melakukan hal itu. Nanti pasirnya masuk kedalam mata, itu bisa membuat matamu perih. " Shavia mengangguk. Memilih menjauh dari teman temanya yang sedang memainkan pasir sama seperti yang dia lakukan tadi.
"Dan Kau tahu, Nabila. Selama ini aku begitu jarang. Salah, biar ku ralat. Selama ini aku bahkan tidak pernah memperhatikannya. Bagaimana Via tumbuh dan berkembang, aku sama sekali tidak pernah menyaksikannya. " Mengarahkan wajahnya ke langit, kini matanya sudah menanak sungai, yang dalam satu kali kedipan air matanya akan mengalir. "Jadi tolong, bantu aku untuk menjadi Ayah yang layak untuk anak anak kita kelak. "
Nabila tersenyum. "Kau bisa membuktikannya dari sekarang, Kak. Belajarlah mulai dari Via. "
Mereka berjalan mengitari taman sambil bergandengan tangan. Mulai sekarang misi Nabila yang utama adalah mendekatkan Adrian dan Shavia.
__ADS_1
Setelah Shavia puas bermain barulah mereka pulang. Shavia begitu senang, binar kebahagiaan benar benar terlihat dari raut wajahnya kali ini. Nabila yang menatapnya pun turut senang. Kak Bila, maaf, karena ku kau harus kehilangan Kak Adrian, tapi aku berjanji, aku akan memperbaiki hubungan antara Kak Adrian dan Shavia. Batin Nabila.
Sesampainya mereka dirumah ternyata hari sudah mulai petang. Adrian memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, sembari menunggu Adrian selesai mandi Nabila mencari perlengkapan mandinya yang sudah dia bawa mulai rumah. Ternya dia terlupa membawa handuk.
Mau pinjam sama Ibu tapi gimana ngomongnya. Kalau minta sama Via juga akhir akhirnya Via pasti mintanya ke Ibu juga. Lebih baik aku minta sama Kak Adrian aja.
Adrian keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya. Handuk itu terlalu kecil untuk menutupi tubuh Nabila.
Adrian keluar dari kamar, mengatakan kepada Nabila apa yang di katakan Ibunya. Dengan hati hati Nabila masuk kedalam kamar yang tidak memiliki pintu itu. Berjalan perlahan menuju Ibu yang sudah memegang sebuah handuk di tangannya. "Bu. " Sapa Nabila. Nabila mengulurkan tangannya untuk mengambil handuk yang masih menggantung di tangan Ibu Adrian. Belum sempat Nabila mengambil handuknya, Ibu Adrian sudah lebih dulu melepaskannya. Alhasil handuk pun jatuh ke lantai. Deg, hati Nabila seakan tertikam. Apa ini, apa Ibu tidak ingin tangan kami bersentuhan. Apa aku begitu menjijikan. Nabila membungkuk, mengambil handuk yang berada di lantai. Sembari dia membungkuk Ibu Adrian sudah berlalu keluar dari kamar meninggalkannya.
__ADS_1
Mata Nabila memanas, untuk sejenak di duduk di lantai sambil menyenderkan kepalanya.
scroll lagi ya...
.
.
.
__ADS_1
.
.