
"Duduklah, Bu. Biar Adrian jelaskan. "
Dengan perasaan yang masih berkecamuk sang Ibu duduk kembali.
"Aku mengenalnya sudah lumayan lama, Bu. Dia wanita yang baik. Namanya Nabila-
"Adrian, sudah Ibu katakan. Tidak ada wanita baik baik yang mau menikah dengan suami orang lain. Nabila, Nabila siapa. Yang Ibu tahu hanya Nabila yang berada di sini. " Mengarahkan netranya ke arah Bila.
"Bila, kamu jangan diam saja. " Berpindah duduk kesamping Bila yang sudah mengeluarkan air mata.
Hati wanita mana yang tidak terluka saat mengetahui kalau suaminya memiliki wanita lain selain dirinya. Sesak pun Bila rasakan semakin menjadi saat Adrian membela wanita lain dihadapannya.
"Mas, benar kata Ibu. Dia bukan wanita yang baik. " Bila mencoba membela sang mertua.
__ADS_1
"Kau pikir kau wanita yang baik. Mana ada wanita baik baik yang menyerahkan tubuhnya-
"Mas Adrian. " Sela Bila. "Untuk itu aku mengaku salah, Mas. Aku sangat mencintaimu. Maafkan caraku yang terlalu murahan, Mas. " Ucap Bila dengan sesugukan.
Karna pada dasarnya Bila adalah wanita yang baik. Hanya saja obsesinya kepada Adrian membuatnya melakukan hal yang salah.
"Baguslah, kalau kamu sadar. " Sahut Adrian.
Terlihat sang Ibu membuang muka saat pandangannya dengan Adrian bertemu. Menandakan bahwa sang Ibu masih kecewa dengannya.
Dengan rinci Adrian mencerikan semua tentang hubungannya dengan Nabila. Mulai dari pertemuannya, ushanya, sampai pernikahan mereka. Tak lupa Adrian juga menceritakan bahwa sebelumnya dia yang menutupi identitas aslinya dari semua orang.
Sakit. Itulah yang Bila rasakan saat mendengar bagaimana Adrian memperjuangkan wanitanya.
__ADS_1
Padahal selama bertahun tahun dia pun juga berjuang dengan keras untuk tetap berada disisi Adrian. Mengabaikan semua perkataan keluarganya tentang sikap buruk Adrian.
"Jadi, Bu. Jangan menyalahkan Nabila. Aku yang salah, Bu. " Bersimpuh dihadapan sang Ibu.
"Mas Adrian. Kau tega sekali melakukan hal itu. Padahal selama ini aku pun juga berjuang untuk tetap bisa berdampingan denganmu. Selalu bersikap baik padamu. Berusaha menjadi istri yang layak untukmu, Mas. Tapi apa pernah sedikit saja kau menoleh padaku. Wanita yang selama ini selalu menerima perlakuan burukmu. " Menarik nafas panjang dengan wajah yang sudah penuh dengan linangan air mata.
Tiba tiba Verry beranjak. Sebab merasa ini bukan hal baik untuk dia saksikan. Sedangkan Adnan hanya membisu. Membiarkan Adrian, Ibu, beserta Bila meluapkan emosi mereka.
"Tidak bukan, Mas. Selama bertahun tahun aku membesarkan putri kita seorang diri. Kau memang menafkahi kami, Mas. Tapi uang saja tidak akan pernah cukup untuk membahagiakan Via. Aku selalu berusaha menjadi Ibu serta Ayah untuk Via. Kau tidak pernah tahu sebanyak apa aku berkorban untukmu. Karna memang kau tidak pernah ingin tahu apa pun tentang diriku. "
Ibu Adrian berusaha menenangkan Bila. Lagi pula memang benar apa yang Bila katakan.
"Kalau bukan untukku. Setidaknya kau bersikap baiklah untuk Via, Mas. Dia masih kecil, sedikitpun tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi di antara kita berdua. Namun sayangnya dia harus ikut menerima perlakuan burukmu, Mas. Kau mengbaikan kami, seakan akan kami tidak pernah ada diantara dirimu. Terkadang raga kita begitu dekat, Mas. Tapi selalu saja aku merasa jauh darimu, bahkan teramat jauh. "
__ADS_1