
Deg. Kenapa masih terasa nyeri. Bila menyentuh dadanya dan netranya mulai memanas.
"Trus, Via suka gak sama dia. " Lanjut Nabila.
"Sukalah, Ma. Kan Via jadi bisa jalan jalan sama Papa. Papa juga tiap hari nganterin Via sekolah. Via senang. "
Polos sekali, Shavia menjawab sesuai kenyataan. Tanpa Shavia sadari, jawabannya justru melukai hati Bila. Tapi Bila tetap berusaha tegar di hadapan Shavia. Bagaimana pun ini adalah kenyataan yang harus Bila hadapi. Ini adalah konsekuensi karna dia sudah menyerahkan Shavia sepenuhnya kepada Adrian. Jadi Bila harus ikhlas putrinya memiliki dua Mama.
"Kalau Mama Nabila sayang gak sama Via. " Bila masih penasaran.
"Sayang kok, Mama Nabila baik, kaya Mama. " Shavia beranjak membuang cup es krim yang isinya sudah berpindah habis ke perutnya.
"Via tidak apa apakan tinggal sama Nenek. Nanti kalau Via pengen main sama Mama, atau kangen sama Mama Via bisa ke sini minta antar paman Verry, ya. "
Shavia diam sejenak. Kemudian dia mengangguk tanda dia menyetujui keinginan Bila. Bila langsung memeluk Shavia dan menciumi wajahnya. "Anak Mama pintar. "
"Ayo sayang, kita makan siang dulu. Setelah itu baru tidur siang. Sudah lamakan kita tidak tidur bersama. Mama kangen tidur sambil memeluk Via. " Lanjut Bila lagi sembari menuntun Shavia ke dapur.
__ADS_1
Bila mengeluarkan beberapa menu masakan. "Asiik, Mama masak makanan kesukaan Via semua. " Kelakar Shavia sambil bertepuk tangan.
Bila tersenyum melihat tingkah Shavia, rasanya dia sangat merindukan saat saat kebersamaannya dengan Shavia.
Saat Bila baru saja mendaratkan pantatnya di kursi, terdengar suara ketukan pintu di luar. "Via, tunggu sebentar, ya. Mama mau lihat siapa yang datang. "
Bila membuka pintunya yang tidak terkunci, ternyata yang datang adalah Ayah dan Ibunya. Dengan sigap Bila mempersilahkan orang tuanya masuk. "Via di sini kan, kalian sudah makan siang. " Tanya Rusmi, Ibunya Bila.
"Kita baru mau makan siang, Bu. Bu, Yah, ayo kita makan sama sama. " Seru Bila.
"Iya, Ibu sengaja masak banyak buat di bawa kesini biar bisa makan bareng saat Ibu tau kalau kamu menjemput Via. "
Ibu Rusmi menyerahkan rantang yang dia bawa kepada Bila. Bila menerimanya dan meletakkannya di atas meja makan. Di susul oleh Ayah dan Ibunya yang juga ikut makan bersama mereka.
Bila melayani orang tuanya dengan mengisikan piring mereka dengan nasi, kemudian di letakkan Bila di depan orang tuanya. Ini adalah kali pertama setelah bertahun tahun lamanya mereka tidak pernah makan bersama karna hubungan mereka yang renggang.
"Via, makannya yang banyak ya. Biar cepat gede. " Rusmi kembali mengisi piring Shavia dengan sedikit nasi.
__ADS_1
Dengan semangat Shavia mengangguk. "Iya, Via mau cepat gede. " Berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Bila, Via malam ini tidur di sinikan. " Tanya Rusmi. Rusmi pun ingin menghabiskan waktu bersama cucunya yang satu ini. Selama bertahun tahun Rusmi dan suaminya harus menutup mata akan kehadiran Shavia. Semua itu mereka lakukan karna mereka ingin Bila menceraikan Adrian.
"Maafkan Ibu, ya. Selama ini Ibu menjauhi kalian. " Lanjut Rusmi dengan air mata yang mulai menetes.
"Ibu tidak perlu minta maaf. Harusnya Bila yang minta maaf. "
.
.
.
.
.
__ADS_1