
Dengan perlahan Adrian membantu nabila menggerakkan tubuhnya untuk menghadap ke kiri atau pun ke kanan. Meski Nabila mengeluh sakit Adrian tetap membujuknya.
Setelah hampir sepuluh menit barulah Nabila bisa menghadap ke kiri sehingga memudahkan Adrian untuk membersihkan bagian belakang Nabila.
Belum selesai Adrian menyeka tubuh Nabila kini bayi mereka sudah menangis lantaran kehausan. Adrian langsung membuatkan susu. Kali ini sudah lumayan cepat sehingga si bayi tidak perlu menangis terlalu lama.
"Kak, bayinya baringin di sini. " Tepuk Nabila bagian kosong di depannya.
"Akukan juga pengen ngasih anak kita susu. "
Adrian memenuhi keingin Nabila, hingga kini bayi mereka terlelap di sisi Nabila.
Nabila mengusap pipi lembut bayinya secara perlahan. "Maafkan Mama ya tidak bisa memberikan asi untukmu. Mama gak tau juga kenapa asinya gak berisi, padahal punya mama sangat besar saat ini. " Gumam Nabila, namun masih dapat di dengar oleh Adrian.
Adrian tersenyum kecil mendengar Nabila mengatakan kalau miliknya besar. Ya, sedari awal breast Nabila memang besar. Di tambah kini semakin besar karna sedikit membengkak. Namun sayang, tidak ada asinya.
Adrian memakaikan Nabila baju agar tampak lebih rapi. Tak lupa dia juga menyisir rambut Nabila agar terlihat lebih baik.
"Selesai. " Adrian memandang Nabila kini yang sudah terlihat lebih segar.
"Kak, bantu aku duduk. Aku udah capek berbaring terus. " Tentu saja dengan senang hati Adrian membantu Nabila bangun, hingga kini Nabila sudah duduk di sisi tempat tidur dengan menjuntaikan kakinya.
Dengan hati senang Nabila menggendong bayinya yang kini sedang meminum susu. "Kita beri nama apa ya, Kak. "
__ADS_1
"Nanti ke duluan Papa lagi. "
Sejenak mereka berdua berpikir, nama apa yang cocok untuk putri kecil mereka.
"Bagaimana kalau Naura. Tapi lanjutannya apa ya yang cocok. " Usul Nabila.
"Naura Rasya Almira. "
"Ih, cocok gak sih. " Tanya Adrian.
"Ternyata susah juga ya nyari nama yang cocok. " Gerutu Nabila.
"Tapi bagus kok. Naura Rasya Almira. " Beo Nabila.
.........
Hari ini adalah hari terakhir Nabila di rawat, dan sore ini mereka sudah di perbolehkan oleh dokter untuk pulang.
Nabila sudah siap untuk pulang, bahkan dia langsung mandi saat selang infus baru saja di lepas dari tangannya. Setelah tiga hari tidak mandi, kini Nabila benar benar merasa bugar.
Adrian, Nabila, dan Andini beserta baby Naura tengah menunggu Hendra mengurus administrasi. Sebenarnya Adrian merasa sungkan karna harus di bayarkan oleh Hendra.
Bahkan Adrian sudah berjaga jaga dengan menjual kalung milik Nabila untuk membayarnya. "Jangan merasa sungkan, inikan untuk cucu Mama sama Papa. Kami sama sekali tidak keberatan. " Kata Andini.
__ADS_1
"Kan lumayan uang kita jadi gak kepake, Kak. " Bisik Nabila sehingga Andini tidak dapat mencuri dengar apa yang dia katakan kepada Adrian.
"Kakak tau gak berapa biayanya. " Masih dengan berbisik.
Adrian hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban kalau dia tidak tahu.
"Hampir dua puluh juta, Kak. Karna kita menggunakan fasilitas nomor satu, mulai dari obat obatan, sampai penanganannya. " Kata Nabila. Sukses membuat Adrian terkesiap.
"Sebanyak itu. " Tanpa sadar Adrian membuka suaranya.
"Apanya yang banyak. " Tanya Andini heran. Sebab sedari tadi dia tidak mendengar apa pun. Tiba tiba saja Adrian berkata seperti itu, membuat Andini yang tengah menggendong baby Naura menjadi bingung.
.
Jangan lupa jempolee yaa...
.
.
.
.
__ADS_1