
Tanpa aba aba Adrian langsung mendaratkan bibirnya kebibir Nabila dan memberikan ciuman yang panas. Bahkan kini tangan Adrian tak tinggal diam. Perlahan lahan Adrian meletakkan salah satu tangannya digunung kembar milik Nabila. Sedangkan tangan yang satunya tetap memeluk Nabila dengan erat. Adrian meremasnya dengan perlahan hingga Nabila mengeluarkan erangan yang begitu merdu ditelinga Adrian.
Nabila berusaha mengimbangi ciuman Adrian, namun tetap saja tidak bisa. Adrian melepaskan ciuman panasnya. Menatap manik mata Nabila. "Aku sudah tidak sabar. "
"Ayo kita sarapan, Kak. Setelah itu aku akan mandi. Lalu kita berkunjung kerumah saudara Papa. "
Mereka sarapan dengan menu persis seperti kemaren. Lantaran Andini membelinya diwarung yang sama.
Nabila bergegas mandi setelah menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu.
Mereka mengunjungi Adik laki lakinya Hendra yang bernama Dika. Dika memiliki istri yang bernama Indah, juga memiliki sepasang putra dan putri. Dika tak jauh berbeda dengan Hendra. Darah sepak bola pun juga mengalir dalam diri Dika. Namun karna usia Dika lebih muda dari pada Hendra, Dika masih menggeluti hobynya sebagai seorang Wasit. Dulunya pun Dika juga pernah menjadi pemain sepak bola, sama seperti Hendra.
Dika adalah orang yang lumayan dekat dengan Nabila setelah Hendra dan Andini.
"Astaga Nabila. Paman juga dapat kunjungan ternyata. " Canda Dika. Dika adalah sosok laki laki humoris. Tidak seperti Hendra yang cenderung kaku.
"Pamankan keluarga Nabila. Kalau tidak mau dikunjungi, ya sudah. Nabila mau menemui Bibi saja. " Jawab Nabila dengan ketus, lalu berjalan ke arah dapur. Memilih menemui Indah, dari pada meladeni sang Paman yang sangat menyebalkan.
"Bibi, Nabila berkunjung. "
"Iya, kemarilah. Bibi sedang membuat kue. "
"Perlu bantuan Nabila, Bi. "
"Ini sudah selelsai. Tinggal dikukus. Ayo kita keluar. " Ajak Indah.
Adrian, Nabila, Dika, dan Indah membicarakan banyak hal.
__ADS_1
"Habis dari sini kalian mau kemana. " Tanya Dika.
"Mau ke rumah Bibi Hanani. " Jawab Nabila.
Bibi Hanani adalah Kakak perempuan sulung Hendra. Hanani memiliki empat anak, dan semua anaknya laki laki.
"Hati hati dijalan. " Cibir Dika.
"Hati hati apaan. Orang tinggal nyeberang doang. " Jawab Nabila jengah.
Karna memang rumah Hanani ini berseberangan dengan rumah Dika.
"Nanti kalau berkunjungnya sudah selesai jangan lupa kuenya diambil buat dibawa pulang. " Kata Indah.
"Iya, Bibi. "
Setelah menyaberangi jalan yang luasnya hanya tiga meter itu Adrian langsung mengudarakan suaranya. "Kita berkunjung cuman dapat kue kukus doang. "
Adrian terdiam. Dia menyesali ucapannya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Kini mereka sudah mengunjungi semua saudara Hendra. Saat ini mereka sedang makan siang dikediaman Diyah, Adik bungsu Hendra yang perempuan.
Henra adalah anak kedua dari empat bersaudara. Dan mereka berempat tinggal di kampung yang sama.
Nabila dan Adrian pulang kerumah dengan berjalan kaki. Mereka mampir lagi kerumah Dika untuk mengambil kue yang dijanjikan Indah.
Nabila memasuki rumah sang paman dengan Adrian menunggunya diteras luar.
"Reza, mana Bibi. " Tanya Nabila kepada putra sulung Dika yang baru berusia sebelas tahun.
"Lagi nidurin Dedek Nia di kamar. Kakak mau ambil kuekan. "
"iya, kamu tau dari mana. "
"Tadi Mama yang bilang. Tuh kue nya di atas kulkas. "
Nabila berjalan kearah kulkas yang berada didapur dan mengambil kue yang sudah tersaji diatas piring.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.