Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 50


__ADS_3

Mulai hari ini Adrian dan Nabila harus bangun lebih awal, karna mereka sudah mulai bekerja. Rasanya mereka begitu malas untuk membuka mata karna permainan panas mereka tadi malam benar benar menguras energi.


Nabila menggoyang goyangkan lengan Adrian.


"Bangun, Kak. Nanti kita kesiangan. "


Dengan sangat terpaksa Adrian bangun dari tidurnya. Pandangannya mengarah ke arah jam yang terletak di atas nakas samping tempat tidur.


"Baru pukul lima ini. Kita mau ngapain. Ini masih terlalu pagi. " Gerutu Adrian. Kembali membaringkan tubuhnya ketempat tidur.


"Kak. " Sambil menarik kaki Adrian hingga setengah tubuh Adrian sudah terulur dari tempat tidur.


"Hmmm. " Gumam Adrian.


"Kita harus sarapan dulu, Kak. Bersiap siap. Setelah itu kita berangkat. Kita perlu waktu setengah jam untuk sampai ke kebun karet. Jam enam pagi kita sudah harus mulai menyadapnya agar getahnya banyak. "


"Semakin siang kita menyadapnya, maka akan semakin sedikit getah yang dihasilkan, Kak. Jadi kita harus cepat. " Jelas Nabila.


"Iya iya, aku bangun. " Langsung melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka serta menggosok gigi.


Nabila langsung bergegas ke warung untuk membeli sarapan. "Bu, nasi bungkusnya dua, ya. " Pinta Nabila kepada penjualnya.


"Ehh, tumben Nabila yang beli sarapan. Biasanya juga Bu Andini yang beli. " Sekedar berbasa basi dengan Nabila.


"Iya, Bu. Saya sama suami mau ke kebun, menyadap karet. Kalau nunggu Mama yang beli sarapan nanti kesiangan. " Tak lupa memberikan senyuman manis.

__ADS_1


"Iya kamu benar. Apa lagi kamu sudah memiliki suami. Jadi harus mulai lebih mandiri. "


"Iya, Bu. Pisang gorengnya sudah ada yang matang belum. "


"Baru juga dimasukin ke penggorengan, matang nya masih lama. " Jawab pemilik warung.


"Ya udah, Bu. Ini aja, berapa semua. "


"Nasi bungkus dua sepuluh ribu. "


"Makasih, Bu. Saya pamit ya. "


Sesampainya dirumah Nabila langsung membuat teh panas untuk mereka sarapan.


"Pisang gorengnya mana, kok tumben gak ada. " Rupanya Adrian sudah terbiasa makan pisang goreng setiap pagi. Kalau tidak memakannya rasanya kaya ada yang kurang, kata Adrian.


Mereka sudah menggunakan pakaian lusuhnya untuk menyadap karet. Adrian merasa lucu saat melihat Nabila menggunakan kerudung yang bergambar sebuah partai politik.


"Jagan ketawa, Kak. Kita kan mau menyadap karet. Bukan mau jalan jalan. Jadi biasakanlah untuk berpenampilan lusuh. "


"Kamu ini, cepat sekali marah. " Sambil mengusap bahu Nabila.


Mereka berdua sama sama menggunakan sepatu boots untuk menghindari gigitan dari serangga yang berada ditanah.


Benar kata Nabila. Mereka membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke kebun karet milik Hendra.

__ADS_1


Setelah memarkirkan sembarang motornya. Mereka memulai kegiatan menyadap karet. Dengan telaten Nabila mengajari Adrian cara menyadap karet yang benar.


"Tidak seperti itu, Kak. Itu terlalu dalam. Nanti Kakak akan membunuh pohon karet ini secara perlahan lahan. " Nabila mendramatis.


"Yang bener gimana. " Tanya Adrian.


"Jangan terlalu dalam menyadapnya, Kak. Cukup sampai kulitnya saja. Jangan sampai terkena batang seperti tadi. "


Akhirnya kegiatan menyadap karet yang biasa selesai dua jam kini jadi melar sampai tiga jam setengah. Benar benar melelahkan.


Kenapa susah sekali.


"Capek, Kak. " Tanya Nabila.


"Capek banget. kalau disuruh milih. aku lebih milih ikut kompetisi seharian dari pada harus menyadap karet setengah hari. "


.


.


.


.


.

__ADS_1


Hari ini udah empat bab nih teman teman. Ternyata cepek juga ngetiknya.


__ADS_2