Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 100


__ADS_3

Akhirnya pada pukul empat tiga puluh barulah operasi dilakukan.


Nabila yang sedari awal sudah ketakutan saat mendapat kabar kalau dia akan di operasi pun kini hanya bisa pasrah menjalani setiap prosedur.


Hingga setengah jam kemudian lahirlah seorang bayi perempuan dengan berat 2400 gram serta panjang 49 cm.


Semua orang baru bernafas lega saat Nabila sudah keluar dari ruangan operasi dan menuju ruang perawatan kemudian di susul sang bayi.


Nabila mengeluh kalau dia merasa sangat kedinginan. Dengan sigap Adrian langsung mengolesi minyak kayu putih ke beberapa anggota tubuh Nabila.


"Masih dingin, Kak. " Ucap Nabila dengan suara yang bergetar.


Hendra langsung memanggil dokter untuk menanyakan keadaan Nabila.


"Itu hal yang wajar, Pak. Semua itu tidak akan berlangsung lama. Sebentar lagi semuanya akan kembali normal. " Jelas sang dokter kepada Hendra hingga kini Hendra kembali ke ruang rawat Nabila.


Kini Nabila sudah di selimuti dengan dua selimut, hingga sepuluh menit kemudian Nabila mulai merasa gerah.


"Ma, dinginnya sudah menghilang. Sekarang Nabila merasa gerah. "


Andini langsung membuka semua selimut Nabila, hingga menyisakan satu helai sarung wanita yang menutupi tubuh Nabila.

__ADS_1


"Kamu makan dulu ya, baru nanti istirahat. "


Adrian langsung menyuapi Nabila dengan telaten juga sesekali memberinya minum.


Saat Nabila sudah tertidur barulah Hendra dan Andini berpamitan.


"Mama pulang dulu. Nanti siang baru ke sini lagi. Sekalian mengambil beberapa barang yang di perlukan. "


"Iya, Ma. "


"Kamu ada yang perlu Mama bawakan. "


"Tolong Mama bawakan tas Adrian yang ada di dalam lemari, isinya pakaian Adrian. Semuanya sudah ada disana, Mama tinggal membawa tasnya saja. " Adrian sudah dari beberapa hari yang lalu menyiapkan pakaiannya jika sewaktu waktu akan menemani Nabila melahirkan. Karna dia merasa malu jika orang lain memilihkan pakai dalam untuknya.


Adrian langsung membaringkan tubuhnya di lantai yang beralas karpet tipis di sisi brankar Nabila.


Di Rumah sakit ini hanya tersedia tiga jenis kamar. Yang mana kamar kelas tiga merupakan kamar yang di huni sampai enam pasien dalam satu ruangan yang hanya bersekatkan tirai dengan satu kamar mandi yang di satukan dengan toilet jongkok.


Sedangkan kelas dua merupakan kamar yang di huni oleh dua pasien, juga dengan satu kamar mandi yang di satukan dengan toilet jongkok.


Sedangkan satunya lagi merupakan kamar kelas satu yang di fasilitasi dengan ruangan ber-AC, televisi, kamar mandi beserta toilet duduk, juga kulkas tanpa isi.

__ADS_1


Kamar kelas satu ini di pilih kan oleh Hendra, sebab Hendra ingin Nabila mendapat ketengan dan juga kenyamanan. Lain halnya dengan kelas tiga atau kelas dua yang mana ruangannya tak memiliki AC atau pun kipas angin.


Adrian termenung, memikirkan biaya persalinan Nabila yang tidaklah sedikit, karena Hendra meminta mereka menggunakan jalur umum dengan alasan ingin Nabila mendapatkan penanganan terbaik. Namun mereka hanya memiliki tabungan sekitar tujuh juta.


Sedangkan biaya operasinya saja sudah lebih dari lima juta. Belum lagi sewa kamar selama beberapa hari, juga obat obatan Nabila.


Sepertinya aku harus menjual kalung milik Nabila yang tahun lalu kubelikan. Uang kami pasti tidak akan cukup. Adrian.


Tanpa terasa Adrian sudah terlelap, sebab semalaman dia tidak tidur karna mengkhawatirkan keadaan Nabila. Kini semua penghuni kamar sudah tertidur termasuk buah hati Nabila dan Adrian yang juga sudah lama terlelap lebih dulu dari Nabila.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2