Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 9


__ADS_3

Hari terus berganti, hingga bulan berganti tahun. Tidak terasa, sudah dua tahun Adrian dan Nabila menjalin kasih. Adrian belum bisa menceraikan istrinya, lantaran istrinya dapat dukungan penuh dari Ibu Adrian. Adrian tidak ingin memaksa Ibunya. Makanya Adrian lebih memilih mendiamkan Ibu dan istrinya.


"Nabila, besok kamu nontonkan pertandingan didesa sebelah. Besok aku main loh. " Ucap Adrian yang saat ini sedang berkunjung dikediaman Pak Hendra.


"Gak nonton Kak, aku udah ada janji sama temanku. " Kata Nabila.


"Kok gitu sih, biasanya juga nonton terus. Kalau kamu gak nonton aku jadi gak semangat mainnya. " Rengek Adrian.


"Apaan sih Kak, yang benar kalau main tu, nanti Papa marah lagi kalau mainnya uring uringan. "


"Iyaa sayangku, tapi kamu nonton ya, ya ya. " Masih saja Adrian merengek.


"Gak bisa Kak, kan aku sudah bilang, kalau aku udah ada janji sama teman lama. "


"Yaudah, kalau gitu aku pulang dulu. " Sambil menyentuh kepala Nabila. Tidak ada acara cium ciuman, karna Hendra selalu memperingati bahwa tidak boleh ada kontak fisik.


"Hati hati ya Kak, yang semangat nanti mainnya. " Melepas kepergian Adrian.


.

__ADS_1


.


.


.


Sesampainya dirumah Adrian melihat ada motor yang sudah terparkir dihalaman rumah. Motor itu sangat tidak asing bagi Adrian. Adrian langsung masuk kedalam untuk menemui sipemilik motor.


"Hai Bang, apa kabar. " Sapa Adrian.


"Baik, kalau kamu. " Tanya Hasan.


Hasan berkunjung karna sudah sangat merindukan teman temannya. Tapi Hasan terkejut saat mendapat kabar kalau Adrian sedang menjalin hubungan dengan Nabila.


"Ayo kita bicara diluar Adrian. " Ajak Hasan.


"Iya Bang. "


Merka duduk lesahan diteras depan.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengabaikan peringatanku Adrian. Kamu sudah memiliki keluarga. Apa itu masih kurang bagimu sehingga kamu masih saja mendekati Nabila. " Tanya Hasan.


"Aku sudah menceraikan istriku Bang, jadi Abang jangan khawatir. " Dustanya, sambil membuang wajah kearah lain.


Hasan terkejut. "Sejak kapan. "


"Dua tahun yang lalu Bang. " Dustanya lagi.


Semoga saja Bang Hasan percaya. Aku tidak ingin usahaku selama ini sia sia. Aku janji Bang akan secepatnya menceraikan istriku. Maafkan aku Bang karna harus berbohong kepada Abang.


"Ku harap kamu bersungguh sungguh Adrian, lebih baik kamu jujur saja kepada Nabila tentang statusmu ini, toh kamu sudah bercerai juga. "


"Nanti pasti ku katakan Bang, tapi tidak sekarang. Ku mohon Abang jangan mengatakan apapun kepada Nabila atau Pak Hendra. Karna aku masih belum siap Bang, beri aku waktu untuk menyiapkan diri. " Kata Adrian.


Mereka membicarakan banyak hal, hingga tidak terasa hari sudah petang. Mereka memutuskan untuk masuk kedalam rumah. Hasan memutuskan untuk menginap satu malam disana untuk melepas rindu bersama teman temannya. Mereka pergi berramai ramai kepasar malam untuk mengisi perut. setelah kenyang mereka mencari minuman kaleng serta makanan ringan untuk dibawa pulang kerumah.


Sesampainya dirumah mereka masih saja berkumpul dan bicara banyak hal, hingga mereka memutuskan untuk tidur bersama sama diruang tengah dengan beralaskan kasur lipat.


Bagi Hasan waktu satu malam masih belum cukup untuk melepas rindu bersama teman temannya. Rasanya Hasan tidak ingin pulang kekampungnya, tapi Hasan sekarang sudah memiliki tanggung jawan yang harus diutamakan. Yaitu anak dan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2