Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 80


__ADS_3

"Antrian nomor delapan. "


Nabila dan Adrian bergegas masuk ke dalam ruangan yang di dalamnya sudah ada seorang Mantri laki laki.


"Silahkan duduk, Pak, Bu. " Adrian dan Nabila langsung duduk kursi yang terletak di hadapan Pak Mantri.


"Ini yang sakit Bapaknya atau Ibunya. " Tanya Pak Mantri.


"Ibunya, Pak. Sudah hampir seminggu ini mudah sekali lelah, padahal ngerjain hal yang ringan ringan saja. " Jawab Adrian.


"Kalian menggunakan kontrasepsi. " Tanya Pak Mantri lagi.


"Sudah lama berhenti, Pak. "


"Oh, kalau gitu mah harusnya periksanya ke istri saya, dia lebih paham untuk urusan itu. " Seru Pak Mantri sembari menunjuk ruangan yang ada di sebelah ruangannya.


Adrian dan Nabila saling menatap, kemudian mereka langsung menuju ke ruangan yang tadi di tunjuk oleh Pak mantri.


Usai mengetuk pintu mereka langsung di suruh masuk dan di persilahkan duduk. "Apa keluhannya, Bu. "


"Cuman lemas sama mudah lelah saja, Bu. Sudah hampir satu minggu ini. " Kali ini Nabila yang menjawabnya.


"Terakhir menstruasinya kapan, Bu. " Lanjut Bu Bidan.

__ADS_1


Kembali Adrian dan Nabila saling menatap. "Awal bulan lalu, Bu. "


"Inikan sudah akhir bulan, berarti sudah cukup lama ya. " Ibu Bidan langsung memberikan sebuah gelas plastik kecil. "Tolong di isi dulu ya, terus bawa ke sini. Toiletnya di sebelah sana. " Sambil menunjuk sebuah ruangan kecil di sudut.


Nabila menerima gelas kecil itu dan langsung membawanya ke dalam toilet. Hampir lima menit Nabila di dalam toilet, barulah Nabila keluar dengan membawa apa yang Ibu Bidan inginkan.


Ibu Bidan langsung mengeluarkan tespack dari pembungkusnya dan mencelupkannya kedalam urine milik Nabila hingga beberapa puluh detik kemudian muncullah dua garis berwarna merah.


"Alhamdulillah, hasilnya positif. Tolong di buang ya, Bu. " Menyerahkan kembali kepada Nabila gelas kecil yang berisi urinenya.


Ibu Bidan langsung mengisi buku yang di khususkan untuk Ibu hamil. Kemudian menimbang berat badan si Ibu hamil dan juga lingkar lengan.


"Ini obatnya di minum cukup satu kali sehari, ya. " Ibu Bidan menyerahkan dua macam obat yang masing masing terdiri dati sepuluh butir dan sekotak susu Ibu hamil.


"Tujuh puluh ribu, Pak. " Adrian langsung memberikan uang senilai seratus ribu dan mendapat kembalian tiga puluh ribu. "Terima kasih, Bu. Kami permisi. "


Mereka langsung keluar dari ruangan dan menuju ke arah parkiran. "Akhirnya, kita di beri kepercayaan juga, Kak. " Seraya mengusap perutnya yang masih datar.


"Iya, aku bersyukur. Tuhan masih memberiku kesempatan untuk menjadi seorang Ayah kembali. "


"Terimakasih, sudah mau mengandung anak dari laki laki pendosa sepertiku. " Adrian menenggelamkan kepala Nabila kedalam pelukannya. Tidak perduli mereka masih berada di parkiran Pak Mantri.


Nabila langsung mengurai pelukannya. "Semua orang memiliki kesempatan untuk menjadi lebih baik, Kak. Begitu pula dengan Kakak. "

__ADS_1


"Ayo pulang. Kau ingat kata Bidan tadikan. "


Nabila hanya mengangguk sembari tersenyum.


"Mulai sekarang kita harus lebih memberi perhatian kepada Via, Kak. Agar Via tidak merasa keberadaannya sudah tergantikan. "


"Iya, iya. Aku nurut ajalah sama kamu. Kamu tau yang terbaik untuk hubungan kita. "


"Nanti kabari Ibu dan Ayah, Kak tentang kehamilanku. " Hubungan Nabila dan keluarga Adrian kini sudah membaik. Ibu Adrian pun sudah memberikan restu kepada Adrian dan Nabila. Hingga sekarang hubungan mereka kini layaknya seorang menantu dan mertuanya.


.


Jangan lupa tekan jempolnya yaa.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2