
Nabila menempatkan diri disamping sang Mama. Sebenarnya ada keraguan dihati Nabila, ia merasa takut. Kalau saja hubungannya tidak mendapat restu dari orang tuanya karna masa lalu Adrian. Adrian bukan pria yang baik, dia seseorang yang pernah melakukan **** bebas, hidupnya dipenuhi dengan wanita dan alkohol.
"Sebenarnya ada hubungan apa antara kamu dengan Adrian. " Tanya sang Papa.
Nabila menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan sang Papa. "Sebenarnya kami sudah menjalin hubungan Pah, baru berpacaran. Belum sampai satu bulan. "
"Sebaiknya kamu putuskan hubunganmu dengan Adrian nak, kalian cukup berteman saja-" Sang Papa menjeda kalimatnya. "Kita tidak terlalu mengenalnya dengan dekat, kita juga tidak tau asal usulnya dari mana. "
Padahal Hendra cukup tahu mengenai masa lalu Adrian, hanya saja Hendra tidak ingin mengatakannya. Karna Hendra pikir putrinya tidak tahu tentang hal itu. Tapi Hendra sama sekali tidak tahu kalau Adrian sudah menikah.
"Nabila menyukai Kak Adrian Pa, setiap orang punya masa lalu. Begitu juga dengan Kak Adrian, biarpun Kak Adrian memiliki masa lalu yang kurang mengenakkan. Semua orang bisa berubah Pa, semua orang berhak mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki diri mereka. " Ucap Nabila kepada sang Papa.
Sang Papa yang pada dasarnya memang emosional langsung saja meninggikan suaranya. "Memangnya kau tau apa tentang masa lalu Adrian. Ucap sang Papa dengan menaikkan suaranya beberapa oktaf.
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat Nabila langsung sesugukan menangis. Sang Mama mencoba menengahi mereka.
"Papakan bisa bicara baik baik sama Nabila, tidak perlu membentaknya Pa. " Ucap sang Mama kepadag suaminya.
Andini menggenggam tangan sang putri.
"Nabila sayang, dengarkan Mama nak. Semuan orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak anaknya. Begitu juga dengan Papa dan Mama, kami ingin kamu hidup dengan orang yang tepat. Mama rasa Adrian masih kurang tepat nak. " Ucap sang Mama dengan penuh kehati hatian.
Nabila terdiam, pandangannya kosong. Menelaah apa yang dikatakan sang Mama. Lalu Nabila kembali menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"Tolong beri kesempatan untuk Kak Adrian Ma, Pa. Aku akan meminta Kak Adrian untuk menunjukkan kepada Papa dan Mama kau Kak Adrian bisa berubah menjadi lebih baik Ma." Terus membujuk orang tuanya, agar mereka luluh dan mau memberi Adrian kesempatan.
Sang Papa menghela nafas panjang. "Baiklah, kalau itu yang kamu minta. Papa harap memberi Adrian kesempatan bukan suatu kesalahan yang kelak akan disesali. " Langsung berdiri meninggalkan Nabila dengan sang Mama.
__ADS_1
"Jalanmu masih panjang sayang, Mama harap kamu tidak salah dalam memilih jalan yang akan kamu tapaki kelak. " Menyusul sang suami kedalam kamar mereka.
Cukup lama Nabila termenung diruang keluarga, muncul sedikit keraguan dihatinya untuk Adrian. Apa benar yang Adrian katakan kalau dia pasti berubah. Nabila merasa takut, kalau Adrian hanya main main saja dsngannya. Nabila membuang jauh jauh pikiran negativnya tentang Adrian.
Semoga Kakak bersungguh sungguh. Batin Nabila.
Hari berjalan seperti biasanya, tidak ada yang spesial. Bahakan Adrian tidak pernah mengajak Nabila berkencan, dikarenakan tidak mendapat izin dari Hendra. Karna Hendra masih belum bisa mempercayai Adrian. Adrian terus berusaha untuk meyakinkan Hendra dan Andini bahwa dia bersungguh sungguh dalam memperjuangkan Nabila.
Adrian berharap kelak bisa memperistri Nabila, karna Adrian benar benar sudah jatuh hati kepada Nabila.
Adrian teringat akan pekataan Nabila. "Ayo kita sama sama berjuang Kak, buktikan kepada Papa dan Mama kalau Kak Adrian layak berada disampingku. Kalau Kakak memang bersungguh sungguh cepat atau lambat mereka pasti merestui hubungan kita. " Sambil memggenggam tangan Adrian.
Kamu benar Nabila, aku harus berusaha supaya Papa dan Mamamu bisa memberikan restu untuk hubungan kita. Batin Adrian.
__ADS_1