
Ini hari pertama Adrian di rumah keluarga barunya. Adrian lebih dulu terbangun dari tidurnya. Saat Adrian membuka matanya. Adrian disambut dengan pemandangan seorang wanita yang masih terlelap sambil mendekapnya. Nabila tidur diiringi dengan suara dengkuran halus yang menandakan bahwa dia masih betah dialam bawah sadarnya.
Tangan Adrian terulur untuk menelusuri wajah Nabila. Adrian menyelipkan rambut Nabila yang menutup wajahnya kebelakang telinga. Lalu Adrian mengarahkan jarinya kebibir Nabila. "Emmh, Kak Adrian. " Gumam Nabila.
Heii, anak ini sedang mengigau atau apa. Kenapa wajahnya menggemaskan sekali. Tapi sayangnya kamu masih belum bisa kumakan.
Adrian perlahan melepaskan dekapan Nabila pada tubuhnya. Saat dekapan itu sudah terlepas, Adrian menggantinya dengan guling agar Nabila merasa masih mendekapnya.
Saat Adriang ingin mandi, Adrian bertemu Andini di dapur.
"Pagi sekali bangunnya, Adrian. "
"Ehh, iya Ma. Hari inikan kami mau berkunjung. Makanya Adrian bangunnya cepat. "
Andini hanya beroh ria.
Entah ini tradisi atau kebiasaan. Setiap pengantin baru pasti akan berkunjung kerumah kerabat dekat ataupun jauh. Untuk memperkenalkan pasangan kita kepada keluarga kita secara lebih dekat.
Setelah Adrian selesai mandi, Adrian kembali ke kamar.
Ternyata masih tidur.
Adrian meletakkan telapak tangannya yang dingin ke punggung Nabila. Hal itu tentu saja mengganggu tidur Nabila. Nabila menggeliat, lalu meregangkan tubuhnya. Baru juga pukul setengah tujuh.
"Mandi sana, katanya mau berkunjung kerumah saudara Mama. "
__ADS_1
"Iya iya, ini juga mau mandi. "
Cukup lama Adrian menunggu Nabila selesai mandi. Hingga 20 menit kemudian barulah Nabila kembali ke kamar dengan berpakaian lengkap.
"Kita sarapan dulu, Kak. " Ajak Nabila.
Adrian dan Nabila menuju dapur untuk sarapan. Diatas meja sudah tersedia dua porsi nasi bungkus dan pisang goreng yang masih panas.
Nabila membuat dua gelas besar teh panas sebagai pelengkap sarapan mereka. Adrian melahap nasi bungkus terlebih dahulu, setelah itu memakan pisang goreng sebanyak dua biji.
Astaga, porsi makannya besar banget.
Nabila meneguk salivanya dengan kasar melihat porsi makan Adrian yang dua kali lipat lebih besar darinya.
Tak tanggung tanggung bahkan teh yang Nabila hidangkan pun di habiskan oleh Adrian.
Usai sarapan mereka langsung berpamitan kepada Andini dan Hendra.Mereka pergi ke rumah saudara Andini menggunakan motor milik Adrian.
"Masih jauh gak. " Tanya Adrian dengan sedikit berteriak karna suara motornya yang lumayan keras.
"Udah dekat, Kak. Didepan nanti belok kiri. " Ucap Nabila.
"Apa. Gak jelas kamu bicara apa. Deketan dikit. "
Nabila mendekatkan mukanya ke muka Adrian dengan posisi Adrian mengarahkan wajahnya kesamping. Cup, satu ciuman mendarat di bibir Nabila. Nabiila langsung merona.
__ADS_1
"Satu, kosong. " Gelak Adrian.
"Dasar, tukang modus. "
Mereka berhenti disebuah rumah sederhana yang bernuansa asri, karna disekeliling rumah ditumbuhi oleh bunga juga pohon pohon kecil.
Diteras rumah terlihat pria paruh baya seusia Hendra yang sedang duduk sambil menikmati sebatang rokok dan ditemani secangkir kopi.
"Assalamualaikum, Paman. "
"Eh, Nabila. Waalaikum salam. Ayo masuk, Paman panggilkan Bibimu dulu ya. "
Nabila dan Adrian duduk lesehan diruang tamu. Sangat sederhana, namun terasa nyaman.
Bibi Nabila keluar dari dapur untuk menyapa Nabila dan Adrian terlebih dahulu sebelum membuatkan minuman untuk mereka. Berbasa basi sebentar, padahal baru kemaren mereka berpisah saat resepsi Adrian dan Nabila berakhir.
.
.
.
.
.
__ADS_1