Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 47


__ADS_3

Jangan lupa kasih like ya, bangun jam 03.50 lagi biar bisa ngetik dengan aman damai sentosa tanpa di gangguin dua bocil.


.


.


.


Tanpa mendengar jawaban Ibunya Adrian langsung naik keatas motor dan melajukannya secara perlahan.


Ditengah perjalanan Adrian bertemu dengan teman lamanya.


Sang teman mendekati motor Adrian, memintanya untuk berhenti disebuah rumah makan sederhana.


"Adrian, udah lama banget ya kita gak ketemu. Kamu apa kabar. " Tanya Dimas, teman Adrian.


"Baik, kalau kamu. " Tanyanya balik.


"Baik juga. Kamu tadi mau kemana. "


"Mau ke XXXX, dua minggu yang lalu aku menikah. Dan sekarang aku tinggal disana. " Jawab Adrian.

__ADS_1


"Ehh, seriusan kamu udah nikah. Kok aku gak diundang sih. " Setengah kesal, karna mereka dulu pernah berteman dekat sebelum Dimas menggantung sepatu (mundur dari dunia sepak bola ) karna harus mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan untuk menghidupi keluarga barunya.


Belum sempat Adrian menjawab Dimas, Dimas sudah kembali melayangkan suaranya. "Bukannya kamu sudah punya Istri sama Anak. Kapan kalian bercerai memangnya. " Lanjut Dimas.


"Kemaren. " Menjawab sekenannya.


Obrolan mereka terjeda lantaran makanan yang mereka pesan sudah siap santap. Sambil menyantap makanannya, mereka kembali melanjutkan obrolannya.


"Kamu gila. "


"Mana ada orang gila mau nikah, oon. " Gelak Adrian.


"Kalau gak gila namanya apa, cerai baru kemaren kok nikahnya udah dua minggu yang lalu. "


"Itu lebih gila lagi. Bagaimana kalau tiba tiba Istri pertama kamu gak mau diceraiin. Ribetkan punya Istri dua. "


"Dia sendiri yang minta cerai kok. Awalnya aku memang ingin menceraikan Bila. Tapi setelah mendengar nasehat Istri keduaku aku mengurungkan niat untuk menceraikannya. Katanya akan sangat egois. Tapi setelah Bila memberiku pilihan yang sulit karna harus memilih dia atau Istri keduaku, aku terpaksa memilih Istri keduaku. "


"Gimana ceritanya. Aku gak paham. "


Akhirnya Adrian menceritakan alasannya menikahi Nabila. Juga masalah rumah tangganya yang selama ini tidak sehat dengan Bila.

__ADS_1


"Kamu tahukan kebiasaan ku seperti apa. Semenjak mengenal Nabila dengan perlahan semua mulai kutinggalkan. Aku merasa dia bisa membantuku untuk berubah lebih baik kedepannya. "


"Rumit juga, ya. Untung aku hanya memiliki satu Istri, itu pun sudah membuatku pusing dengan segala rengekannya. " Kekeh Dimas.


Akhirnya makan pagi yang kesiangan itupun berakhir dengan dua teman lama yang saling bertukar nomor telpon.


"Aku duluan ya, perjalananku masih jauh. " Pamit Adrian.


"Semoga sukses ya, semoga ini pernikahan yang terakhir juga. "


"Doain aja. "


Adrian kembali melanjutkan perjalannya dengan kecepatan sedang karna hari masih belum terlalu siang.


Saat melewati sebuah pasar Adrian melihat ada yang menjual anak kucing yang masih kecil. Anak kucing itu terlihat begitu menggemaskan. Apalagi Adrian ingat kalau Nabila sangat menyukai kucing. Ingin membelinya tapi Adrian urungkan karna merasa sulit untuk membawanya menggunakan motor.


Sehingga Adrian lebih memilih membeli sayur serta ikan yang sudah di masak. Tidak perlu membeli nasi, karna dirumah sudah dapat dipastikan kalau Andini pasti memasak nasi setiap harinya.


Adrian kembali melanjutkan perjalanan, tidak lama lagi dia akan sampai.


Pukul sebelas siang Adrian telah tiba dikediaman Hendra. Nabila sudah menanti kedatangannya dengan menyambutnya diteras rumah.

__ADS_1


Mengambil alih keresek yang di tenteng Adrian. "Capek ya. "


"Gak, kan udah biasa pulang pergi dari sana ke sini. " Sambil memberikan senyuman kepada Nabila.


__ADS_2