Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 49


__ADS_3

Maka dari itu dia meminta Adrian untuk tidak menceraikan Bila. Dia memiliki Adrian saja sudah menyakiti Bila. Apa lagi jika Adrian sampai menceraikan Bila karenanya, itu akan lebih menyakiti Bila. Dia tidak setega itu untuk menyakiti sesama wanita. Tapi justru takdir membuatnya menjadi wanita yang tega.


Adrian terbangun dari tidurnya saat waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Dilihatnya Nabila ternyata masih tertidur pulas di sampingnya. Adrian mendekat berusaha memeluk sang Istri. Tapi hal itu justru membangunkan Nabila dari tidurnya.


"Kakak sudah lama bangun. " Tanya Nabila dengan suara seraknya karna baru terbangun dari tidurnya.


"Baru beberapa menit. " Mengusap lembut pipi wanita yang sangat dia cintai.


Terdengar suara Adrian menghembuskan nafas berat.


"Sudah menyiapkan hati, hmmm. " Masih sambil mengusap pipi Nabila.


Nabila berusaha tersenyum. "Apa pun itu, aku siap, Kak. "


"Aku sudah menjelaskannya pada Bila dan yang lain. Tentu saja Bila tidak menerima pernikahan kita. Tapi dia justru memberiku pilihan yang sulit. Dia tidak ingin di madu. Dia memintaku untuk memilih diantara kalian berdua. "


Netra Nabila sudah mulai berkaca kaca. Jika dia berkedip sudah dipastikan air mata itu akan mengalir. Adrian mengusap matanya. "Menangislah, jika itu membuat perasaanmu sedikit membaik. "


Kembali menghela nafas. "Akhirnya aku memilihmu dan melepaskannya. Dia meminta Via menjadi tanggung jawabku, aku menerimanya. Mungkin hanya itu yang bisa kulakukan untuknya. "

__ADS_1


Nabila menangis dengan sesugukan. Akhirnya yang dia takutkan terjadi. Dialah yang paling jahat disini. Kenapa takdir harus membawanya pada posisis yang amat tidak dia sukai.


"Kenapa Kakak melepaskannya. "


"Tidak ada yang bisa ku pertahankan dalam rumah tangga kami. Semuanya terasa tawar. sama sekali tidak berwarna. Kalau di pertahankan pun akan percuma. "


"Lalu sekarang di mana anak Kakak. "


"Dia tinggal bersama Ibu. "


"Bagaimana kalau dia merindukan Ibunya, Kak. Bagaimana kalau-. Adrian langsung membungkam mulut Nabila dengan sebuah ciuman.


Bila, maafkan kami. Ku harap kamu bisa mendapatkan kebahagiaan mu kelak.


"Lalu bagaimana dengan keluarga Kakak. "


"Ayah seperti biasa. Tidak banyak bicara. Tapi dari sikapnya ku rasa Ayah bisa menerima pernikahan kita. "


"Tapi tidak dengan Ibu. " Suara Adrian merendah.

__ADS_1


"Ibu masih belum bisa menerimamu. Mungkin ini terlalu cepat. Sehingga Ibu masih memerlukan sedikit waktu untuk menerima semuanya. Maafkan Ibu, ya. Sebenarnya Ibuku wanita yang sangat baik. Sama baiknya sepertimu. "


"Harusnya aku yang minta maaf, Kak. Karna belum bisa mengambil hati Ibu. " Kembali mengeluarkan air matanya. Bagaimana pun dia berusaha menahannya, air mata itu tetep saja lolos dari netranya.


"Bagaimana kau bisa mengambil hatinya. Bertemu saja kalian tidak pernah. Bersabarlah, semua akan membaik seiring berjalannya waktu. " Adrian memberi semangat kepada Nabila.


"Masalah ku dengan Bila sudah selesai. Jadi ku harap kita bisa menjalani kehidupan kita dengan tenang. Meskipun kita harus menyakiti Bila, tapi yakinlah. Setiap luka pasti akan sembuh seiring berjalannya waktu. " Memberikan pelukan kepada wanita yang sudah beberapa hari ini dia rindukan.


"Tapi kita tidak pernah tahu sebanyak apa waktu yang Bila butuhkan untuk bisa sembuh dari lukanya, Kak. Jika suatu saat Tuhan mempertemukan ku dengannya. Aku akan minta maaf padanya karna sudah merebut kebahagiaannya. "


"Cepat atau lambat kalian pasti bertemu. Karna kedepannya nanti kau akan selalu menemaniku untuk pulang. "


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2