
Semakin lama hidup bersama Adrian kini Nabila sudah mulai mengerti perangai Adrian. Adrian sebenarnya laki laki yang baik, apa pun yang Nabila katakan Adrian selalu menurutinya. Apa pun yang di suruh Nabila, Adrian melakukannya dengan ringan tangan. Tentu saja Nabila melakukan itu semua demi kebaikan Adrian.
Hanya saja kalau urusan ranjang keinginan Adrian sangat sulit untuk dikendalikan. Kalau Adrian sudah menginginkannya, namun Nabila menolaknya dengan alasan yang tidak masuk akal maka Adrian akan uring uringan dan marah. Marahnya Adrian bukan dengan melupakannya melalui suara yang tinggi.
Namun marahnya Adrian justru dengan merendahkan dirinya. "Mungkin aku sudah tua, makanya kamu gak mau lagi berhubungan denganku. "
"Apa aku tidak membuatmu puas sehingga kamu menolakku. "
"Aku sadar diri saja, karna memang usia kita terpaut cukup jauh. Mungkin kamu ingin dengan yang lebih muda. "
Nabila selalu tertawa terbahak bahak setiap kali mengingat kata kata Adrian. Bagaimana mungkin Kak Adrian bisa memiliki pemikiran seperti itu, sangat aneh. Nabila.
.........
Saat ini Nabila dan Adrian hanya berdua saja di rumah. Nabila menyuruh Adrian untuk menelpon Shavia. "Kalau nelpon apa yang di obrolin juga. " Tanya Adrian kepada Nabila. Karna Adrian memang masih belum terbiasa bicara banyak dengan Shavia.
"Ada banyak hal Kak yang bisa kalian bicarakan sebagai Ayah dan anak. Makanya biasakan, Kakak sadar tidak sih, bagaimana pentingnya komunikasi antar anak dengan orang tua. " Seru Nabila. Nabila selama ini selalu dekat dengan Hendra dan Andini. Apa pun itu Nabila selalu bercerita kepada Andini tanpa ada yang Nabila tutup tutupi.
__ADS_1
Namun semua itu berbanding balik untuk saat ini. Saat ini Nabila hanya bisa memendam masalahnya sendiri. Karena menurut Nabila belum saatnya Hendra dan Andini mengetahui masalahnya.
Tampak ponsel Verry berdering, dengan cepat Verry menjawab panggilan masuk di ponselnya. "Iya, Kak. "
"Via mana. Kasih ponselnya ke Via. " Pinta Adrian.
"Via sama Kak Bila, Kak. Baru saja di jemput tadi. " Jawab Verry seadanya.
Ini kali pertama Shavia bertemu Bila semenjak perpisahan Bila dengan Adrian.
"Ya udah, ku tutup telponnya ya. "
.........
Saat ini Shavia tengah memberi makan kelinci kesayangannya, sambil sesekali berceloteh sendiri.
Bila mendekatinya, dengan membawakan satu cup es krim kesukaan Shavia. "Mau ini, sayang. " Tawar Bila sembari mengarahkan tangannya kehadapan Shavia.
__ADS_1
"Via mau, Via mau, Ma. " Dengan sigap Shavia mengambilnya dari tangan Bila.
Bila senang melihat Shavia baik baik saja selama tinggal bersama mantan mertuanya. Pelan pelan Bila mulai merelakan Adrian, sehingga Bila sudah mulai bisa bertatap muka kembali dengan Shavia tanpa memperlihatkan wajahnya yang menyedihkan.
"Via, yang kemarin pulang sama Papa itu siapa. "
Bila ingin mendengar langsung penjelasan dari Shavia. Meskipun Shavia baru berusia lima tahun, tapi Bila yakin kalau Shavia tahu siapa wanita yang bersama Adrian.
Meskipun Bila sudah bisa menebaknya kalau wanita itu adalah istri Adrian, entah mengapa Bila masih ingin mendengarnya secara langsung dari Shavia. Padahal Bila bisa saja bertanya dengan Rika.
Dengan polosnya Via menjawab. "Kata Papa kalau ada yang nanya Via harus jawab itu Mama Via, sama seperti Mama. Bahkan namanya juga sama Nabila. Tapi Mamakan di panggil Bila, kalau Mama yang itu di panggil Nabila. "
Deg. Kenapa masih terasa nyeri. Bila menyentuh dadanya dan netranya mulai memanas.
.
.
__ADS_1
.
.