Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 59


__ADS_3

Mata Nabila memanas, untuk sejenak di duduk di lantai sambil menyenderkan kepalanya. Tak ingin terlihat lemah Nabila dengan cepat mengusap air matanya. Kembali meyakinkan hatinya kalau semua akan berlalu, Ibu hanya belum mengenalnya. Begitulah yang selalu dia tanamkan di hatinya.


Ini bahkan belum seberapa jika di bandingkan dengan pengorbanan Kak Bila selama bertahun tahun untuk tetap berada di samping Kak Adrian. Aku harus kuat. Nabila membatin.


Nabila keluar dari kamar, langsung mencari Adrian. Ternyata Adrian sedang di teras, Nabila langsung menghampirinya. Bicara dengan sedikit berbisik agar hanya Adrian yang mendengar ucapannya, sebab di teras juga ada Adnan dan Ayah Adrian.


"Kak, aku mau mandi. " Adrian menatap Nabila bingung. Kalau mau mandi ya mandi saja, ngapain bilang. Begitulah suara hati Adrian. Nabila yang mengerti akan tatapan Adrian pun kembali membuka suaranya. "Aku takut tirainya kebuka, Kak. Akukan mandi gak bisa pakai baju. Tolong Kakak tungguin aku mandi ya. " Kini Adrian paham, Nabila pasti akan merasa was was. Padahal Adrian yakin, kalau tirai itu tidak mungkin terbuka. Dari pada berdebat, lebih baik di turuti saja, begitu pikir Adrian.


Nabila kembali melayangkan peringatan kepada Adrian sesaat sebelum dia memasuki kamar mandi. "Ingat, Kak. Jangan meninggalkanku. " Dengan malas Adrian menjawabnya. "Iya, sudah sana cepetan. "


Nabila mandi dengan cepat, karna setelah ini dia harus membantu Ibu Adrian untuk menyiapkan makan malam. Dan benar saja, baru selesai berpakaian kini Nabila melihat Ibu Adrian sudah mulai menumis sayur sebagai menu tambahan. Dengan sigap Nabila mendekat. "Biar ku bantu, Bu. "


"Kamu goreng ikan saja sana. " Menyerahkan ikan yang sama dengan yang siang tadi Nabila goreng. Nabila menghidupkan kompor di samping Ibu yang sedang menumis sayuran.

__ADS_1


Sambil menggoreng ikan Nabila juga menyiapkan piring di meja makan, menuangkan nasi kesemua piring, kini bertambah satu piring untuk Adnan. Ikan yang Nabila goreng matang bersamaan dengan sayur yang Ibu masak. Meletakkan semua masakan di atas meja makan. Sekali lagi Ibu Adrian menatap meja makan, sekiranya sudah siap barulah Ibu memanggil semua orang untuk makan malam bersama.


Kini suasana makan malam sudah agak mencair, tidak seperti tadi siang. Wajah masam Ibu kini sudah berangsur berkurang. Adrian turut senang. Dia bahkan tak ada henti hentinya bercerita tentang kehidupan barunya di Desa Nabila. Cerita Adrian di sambut hangat oleh Adnan. Adrian menceritakan bagaimana pengalamannya menyadap karet yang hingga saat ini masih termasuk dalam kategori belajar. Tapi dengan perlahan Adrian mulai terbiasa dengan pekerjaannya yang baru.


Tentu saja Adnan senang, selama pernikahan Adrian dengan Bila, Adrian tidak pernah berbagi apa pun kepada mereka. Topik pembicaraan pun hanya sekedar kehidupan sehari hari. Sangat berbeda dengan yang saat ini Adnan saksikan. Tampak binar kebahagiaan begitu terpancar dari raut Adrian.


"Kapan kau akan menikah, Kak. " Tanya Adrian tiba tiba. "Kenapa sekarang kau memperhatikanku. Biasanya kau tidak pernah menyinggung tentang pernikahan denganku. "


Kini mereka sudah menyelesaikan makannya, sama sama berjalan ke arah teras dengan membawa rokok masing masing di tangannya.


"Kau senang Adrian. " Tanya Adnan.


"Untuk. " Balik Adrian bertanya.

__ADS_1


"Tentu saja pernikahanmu. Kau pikir apa lagi. "


"Bukan senang, Kak. Tapi lebih dari senang. Ini sungguh membahagiakan. "


.


Scroll lagi...


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2