
Adrian mengetuk pintu kamar Nabila.
"Nabila, mari kita bicara. Masih banyak yang ingin ku sampaikan. " Bujuk Adrian.
Nabila tidak bergeming. Tetap pada pendiriannya untuk mengabaikan Adrian. Nabila bimbang, keputusan mana yang harus dia ambil.
Ini sungguh berat, Kak. Keputusan mana yang harus ku ambil. Kau menjatuhkan hatiku sejatuh jatuhnya. Kau menguasai seluruh hati dan pikiranku. Tapi kau pula yang membuatku sakit, sesakit sakitnya. Apa aku harus mundur, Kak. Tapi bagaimana mungkin. Usia pernikahan kita bahkan belum seumur jagung.
Nabila terus larut dengan pikirannya. Perasaan bersalah mulai dirasakan Nabila.
Adrian paham. Nabila tidak akan mudah untuk menerima kenyataan pahit ini. Adrian akan bersabar. Sampai Nabila sedikit lebih tenang dan mulai bisa menerima semuanya.
Maka dati itu Adrian lebih memilih diam. Membiarkan Nabila larut sejenak dengan luka yang baru dia dapatkan. Hingga tidak terasa sudah empat jam Nabila mengurung diri di kamar. Bahkan perut Adrian sudah mengudarakan suara peringatan, bahwa sudah saatnya untuk jatah makan siang.
Ceklek. Pintu kamar terbuka. Adrian langsung mengarahkan netranya kepada Nabila. Namun sayang, Nabila langsung memalingkan mukanya saat pandangan mereka bertemu. Nabila langsung melangkah ke arah dapur untuk memasak makan siang.
__ADS_1
Kakak pasti lapar kan. Aku memang marah, tapi ini adalah kewajibanku kan.
Seperti biasa. Nabila tetap memasak makan siang untuk mereka. Menghidangkan dua piring nasi beserta lauk pauknya di atas meja makan. Hanya saja posisinya kini telah berbeda. Biasanya mereka akan makan bersebelahan. Tapi kali ini Nabila mengubahnya agar mereka makan berseberangan.
"Makanlah, Kak. "
Hanya kata itu yang Nabila ucapkan. Tak ada lagi obrolan hangat diselal sela makan mereka. Suasananya terasa begitu berbeda, membuat selera makan Adrian berkurang.
Usai makan Nabila kembali ke kamarnya, kembali pula memikirkan permasalahan yang sedang dihadapinya.
"Ayo kita bicara, Nabila. Masih banyak yang ingin ku ceritakan. Aku tidak mau merahasiakan apa pun lagi dari kamu. " Ujar Adrian sambil mengusap ngusap punggung Nabila yang bergetar karna menahan isak tangisnya.
Siapa yang tidak akan menangis jika berada di posisi Nabila. Disaat pengantin baru sedang menikmati indahnya masa masa setelah menikah. Nabila justru harus menerima kenyataan yang pahit, kalau ternyata laki laki yang menikahinya sudah memiliki istri sebelum dirinya. Siapa yang bangga menjadi orang ketiga di dalam pernikahan orang lain. Nabila merasa menyesal karna mengabaikan perkataan Hendra yang pernah mengatakan kalau mereka tidak pernah tahu asal usul Adrian. Nabila terlalu buta dengan ungkapan cinta yang Adrian utarakan, sehingga dia benar benar mengabaikan masa lalu Adrian. Nabila kira masa lalu Adrian hanya seputar dunia malam saja, tapi ternyata dia salah. Secara tidak langsung dia sudah menyakiti istri beserta anak Adrian.
"Apa begitu banyak yang kamu sembunyikan, Kak. " Tanya Nabila dengan tetap memunggungi Adrian.
__ADS_1
Adrian menghembuskan nafasnya kasar. "Ya, bahkan sangat banyak. Jadi ku mohon. Tolong dengarkan aku. Dengarkan penjelasan ku, mungkin itu akan mengurangi rasa kecewamu. "
Nabila tidak bergeming. Masih merasa nyaman dengan kebisuannya.
Ternyata aku memang tidak tahu apa apa tentang dirimu, Kak. Begitu banyak yang Kakak sembunyikan dariku. Bahkan selama bertahun tahun aku sama sekali tidak pernah memiliki kecurigaan padamu, Kak.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.