
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Yang berarti sudah waktunya untuk beristirahat. Andrian dan Nabila memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.
Usai makan siang, Nabila membaringkan tubuhnya sejenak, untuk mengusir penat karna sudah setengahari ini dia hanya duduk dan berdiri.
Adrian lebih memilih bergabung bersama para warga yang sedang bersantai menanti acara berikutnya. Terlihat para anggota orkes juga para biduanita sedang mengistirahatkan dirinya dirumah warga, yang memang sudah lebih dulu disiapkan untuk mereka tempati.
Hingga tidak terasa Adzan Dzuhur kini sudah berkumandang. Para warga berbondong bondong pergi ke Mushola yang jaraknya sangat dekat dengan kediaman Hendra. Begitupun dengan Adrian.
"Ma, Nabila gerah. Apa Nabila boleh mandi. " Tanya Nabila.
"Mandi saja. Tapi muka kamu jangan dibersihkan. "
"Kan gak enak, Ma. Kaya tidak mandi saja. "
"Kalau di cuci nanti kamu di make up ulang mau? "
"Ya udah, gak jadi dicuci. Capek jugakan kalau harus di make up ulang. "
Nabila bergegas mandi. Biarlah muka gak bisa dicuci. Yang penting ni tubuh udah seger lagi.
Sekembalinya Adrian dari Mushola, Adrian pun menumpang mandi di rumah Nabila.
Kini Nabila sudah bersiap siap untuk acara berikutnya. Kali ini Nabila menggunakan pakaian Khas Daerah.
__ADS_1
Foto hanya sekedar contoh ya readers.
Jadi seperti itulah pakaian khasnya yang Nabila pakai.
Sedangkan Adrian bersiap siap dirumah tetangga yang jaraknya lumayan dekat dengan rumah Nabila.
Ketika dirasa kedua mempelai sudah selesai bersiap siap, barulah Adrian digiring beramai ramai menuju kediaman Hendra dengan berjalan kaki sambil di iringi dengan alunan lagu Islami yang disebut dengan Hadrah.
Nabila sudah menanti kedatangan Adrian di ambang pintu. Sesampainya Adrian di halaman rumah Hendra, langsung terdengan Sholawat yang di ucapkan oleh pemandu karoke.
Tampak netra Adrian mengembun. Bahkan Nabila sampai meneteskan air matanya, sungguh, ini sangat mengharukan. Banyak sanak saudara yang ikut terharu menyaksikan memont tersebut. Andini bahkan menangis sesugukan, kini dia harus melepaskan putri kecilnya. Rasanya baru kemarin aku memainkan kepang rambutnya. Sekarang dia sudah besar. Sudah saatnya aku melepas tanggung jawabku. Seberapa banyakpun usiamu, kau tetaplah putri kecilku.
Seuasai moment mengharu biru, kini Adrian dan Nabila akan melanjutkan acara berikutnya, yaitu acara bausung.
Salah satu tradisi pengantin Banjar adalah bausung atau digendong. Pasangan mempelai diusung sambil diarak ke Panggung. Momen ini sangat menarik dan menjadi perhatian.
Bausung adalah salah satu budaya unik yang tumbuh dan berkembang di Kalimantan Selatan. Bausung diambil dari kata Usung yang bermakna gendong.
Saat mempelai pria datang ke rumah mempelai wanita dilakukanlah Bausung. Jadi sepasang pengantin sebelum mereka bersanding di pelaminan, kedua mempelai digendong atau diangkat oleh dua penari sinoman Hadrah.
__ADS_1
Kedua mempelai sambil berdoa dan terus membaca shalawat atas Nabi Muhammad SAW, ketika berada di atas pundak si pengendong.
Penggendong berjalan menuju Panggung sambil menari, mengikuti alunan nada dan musik suara serunai, gendang dan gong.
Saat diusung mempelai wanita duduk dengan posisi menyamping. Sedangkan mempelai pria duduk mengangkang di dua bahu penggendong.
Kemudian mereka diarak sambil diiringi berbagai macam kesenian tradisional, seperti tari japin, hadrah, dan lain-lain
Tradisi bausung adalah hal wajib jika orangtua atau pendahulu kita memang saat kawinan juga diusung.
Kalau itu sudah tradisi keluarga, maka wajib diteruskan oleh setiap generasinya. Jika tidak dilakukan maka anggota keluarga yang lamah bulu atau mudah kerasukan, akan dirasuki mahluk halus.
Foto hanya contoh ya Readers....
.
.
.
.
__ADS_1
.