
"Saya datang, Pak. Saya menepati janji saya. Dan saya harap Bapak juga menepati janji Bapak. " Ucap Adrian dengan serius.
Anak ini, bisa bisanya dia bicara seperti itu. Batin Andini.
"Tentu, Saya akan menepati janji saya. " Jawab Hendra.
"Bagaimana, Nabila. Apa kamu menerima lamaranku. " Ucap Adrian kepada Nabila.
"Ya, Kak. Nabila menerimanya. " Ucap Nabila dengan malu malu.
Syukurlah, batin Adrian.
"Jadi, Adrian. Saya sebagai orang tua Nabila menaruh harapan besar padamu. Berharap kamu benar benar membahagiakannya. Kau memintanya secara baik baik, jika suatu saat kau sudah tidak meinginkannya lagi. Tolong kau jangan menyakitinya. Kembalikan saja dia kepada kami. Pintu rumah kami selalu terbuka lebar untuk kedatangan Nabila. "Ucap Hendra bersungguh sunggu kepada Adrian.
Kali ini Adrian melihat sisi lain dari Pak Hendra.
"Tentu saja saya akan membahagiakannya, Pak. Saya sadar, kalau saya bukan laki laki yang baik. Saya juga berharap kalian bisa menerima kekurangan saya. Terimakasih, Pak, Bu, Nabila. Kalian sudah memberi kesempatan kepada saya. Saya berjanji, akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. "
Kini Adrian merasa lega. Restu dari orang tua Nabila sudah dia dapatkan. Tanggal pernikahan juga resepsi sudah ditentukan. Adrian tinggal menunggu hari itu tiba. Adrian menyerahkan uang mahar kepada Hendra, karna uang itu akan digunakan untuk keperluan pernikahan mereka.
__ADS_1
Kini Adrian sudah kembali menekuni hobynya, yaitu bermain bola. Setelah menikah Hendra meminta Adrian tinggal dirumah mereka untuk sementara waktu. Kalau pun nanti mereka ingin membangun rumah sendiri. Rumah itu harus dibangun satu kampung dengan Hendra. Nabila harus tetap tinggal di kampung ini. Itulah syarat terakhir yang Hendra pinta kepada Adrian.
Adrian menerima syarat dari Hendra. Toh dia sudah terbiasa juga tinggal dikampung ini. Hendrapun sudah menyiapkan pekerjaan untuk Adrian, agar Adrian bisa menghidupi putrinya secara layak. Karna kalau mengandalkan penghasilan dari bermain bola saja tidak akan cukup untuk keperluan rumah tangga.
"Apa nanti tidak ada satupun dari keluargamu yang datang, Adrian. " Tanya Hendra.
Ya, Adrian masih menutupi soal keluarganya. Yang mereka tahu kalau Adrian hidup sebatang kara.
Maafkan saya, Pak. Saya masih belum bisa mengatakan yang sebenarnya. Saya harap kelak ketika saya mengatakan semuanya, kalian bisa menerima kenyataannya.
"Saya masih kemiliki kerabat jauh, Pak. Tapi tidak terlalu dekat dengan saya. Nanti saya akan mencoba menghubungi mereka. " Jawab Adrian.
"Terimakasih, Pak. Kalau begitu saya permisi. "
"Iya. "
Seperti biasa, Nabila selalu mengantar kepulangan Adrian. Diteras rumah Nabila menyempatkan bicara berdua dengan Adrian.
"Terimakasih, Kak. Kakak sudah menepati janji Kakak. Nabila bahagia. " Ucap Nabila dengan wajah berseri seri.
__ADS_1
"Aku harap kamu mau menerima masa laluku yang buruk, Nabila. Aku janji, aku akan berubah untukmu. "
"Ayo kita melangkah maju bersama, Kak. Sama sama berusaha memperbaiki diri masing masing. Nabila tidak ada masalah dengan masa lalu Kakak. Semua orang tidak hidup dalam masa lalukan. Kakak berhak mendapatkan kesempatan untuk membuktikan kesemua orang kalau kakak bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. " Ucap Nabila sambil menggenggam tangan Adrian.
"Terimakasih, Nabila. Aku sungguh beruntung bisa memilikimu. Kamu gadis yang baik. "
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.