
"Kau senang Adrian. " Tanya Adnan.
"Untuk. " Balik Adrian bertanya.
"Tentu saja pernikahanmu. Kau pikir apa lagi. "
"Bukan senang, Kak. Tapi lebih dari senang. Ini sungguh membahagiakan. " Jawabnya.
"Aku turut senang mendengarnya. Ku lihat dia anak yang rajin. Nabila, nama yang sama persis. Bagaimana mungkin kau menemukan wanita berbeda dengan nama yang sama. " Goda Adnan.
"Itulah takdir, Kak. Sangat aneh. Pertama kali melihatnya aku sudah menyukainya, ku pikir hanya sebatas suka, sama seperti aku menyukai wanita yang dulunya pernah ku tiduri. Tapi semakin sering kami bertemu, perasaan itu semakin besar. Awalnya aku mendekatinya untuk bermain main saja, tapi semakin aku mengenalnya. Aku justru semakin ingin memilikinya. Dengan perlahan aku semakin mendekatinya, perlu waktu bertahun tahun Kak untuk menjadikannya kekasihku. Aku semakin mengenalnya jauh, dia gadis yang mandiri, sama seperti penilaian Kakak, dia gadis yang baik. Walau pun sekarang sudah tidak gadis lagi. " Adrian menertawakan ucapannya sendiri.
Menghela nafas panjang, kemudian kembali mengudarakan suaranya. "Aku membutuhkan banyak perjuangan untuk memilikinya, Kak. Baik sebagai kekasih apa lagi memperistrinya, itu sangatlah tidak mudah. Aku bahkan harus bekerja keras juga mempertaruhkan hidupku berbulan bulan di penambangan. Hingga dia bisa ku miliki seutuhnya. "
"Aku tidak ingin kehilangannya, Kak. Makanya aku lebih dulu menikahinya, menidurinya, barulah aku mengatakan kebenaran yang selama ini sudah aku sembunyikan darinya. Aku takut, jika aku mengatakannya lebih awal dia akan meninggalkanku. Aku memang egois, Kak. "
__ADS_1
"Tentu, kau sangat egois. Kau menyakiti dua Nabila sekaligus. " Jawab Adnan.
"Tapi semua sudah berlalu, Kak. Kini kami hanya ingin restu dari Ibu. Agar rumah tangga yang kami jalani selalu di berkati oleh Tuhan. "
"Kau sangat mengenal Ibu kan. Jadi bersabarlah sedikit. " Ucap Adnan.
"Ya, semoga saja, Kak. " Harap Adrian.
Sedangkan di dapur tampak Nabila mulai membersihkan sisa sisa makan malam. Tapi kali ini dia tidak sendiri, dia bersama dengan Ibu. Walaupun Ibu tidak mengeluarkan sepatah katapun, Nabila tidak apa apa.
Usai membersihkan sisa makan malam Ibu berjalan ke luar, tempat di mana Adrian dan Adnan berada. Sedangkan Verry sudah pergi ke tempat temannya yang jaraknya hanya dua rumah dari rumah Adrian.
Nabila membaringkan tubuhnya di sisi Shavia. "Mama di mana. " Tanya Nabila kepada Shavia.
"Mama di rumah, nemenin Chaca. " Singkat Shaviaa, tanpa mengalihkan pandangannya dari tayangan televisi.
__ADS_1
Nabila hanya bisa beroh ria. Tanpa terasa mata Nabila mulai terpejam. Ternyata rasa lelah seharian ini membuatnya mengantuk lebih awal. Hingga suara Adrian membangunkannya. "Bangun dulu, jangan tidur dilantai. Nanti badanmu sakit. "
Nabila yang masih setengah sadar langsung bangun. Terlihat Adrian meletakkan kasur lipat yang tipis. Agak sedikit keras, tidak seperti kasur mereka di rumah Nabila. Nabila kembali membaringkan tubuhnya. Perlahan kesadarannya mulai terkumpul.
Nabila mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Ternyata semua orang tidur di luar, tidak ada yang tidur di kamar. Nampak Ibu yang tertidur di sisi Ayah, dan di samping Ibu di isi oleh Shavia. Entah kapan anak itu berpindah, seingat Nabila tadi Shavia berbaring di sampingnya.
.
Alhamdulillah, bisa up 3 bab biarpun pendek pendek.
.
.
.
__ADS_1
.
.