Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 61


__ADS_3

Nabila mengarahkan pandangannya ke sekeliling. Ternyata semua orang tidur di luar, tidak ada yang tidur di kamar. Nampak Ibu yang tertidur di sisi Ayah, dan di samping Ibu di isi oleh Shavia. Entah kapan anak itu berpindah, seingat Nabila tadi Shavia berbaring di sampingnya.


Kini pandangan Nabila mengarah kepada Adnan dan Verry yang juga tidur di luar, bahkan mereka tidur tanpa menggunakan alas. Apa tidak sakit, begitu pikir Nabila.


Nabila kembali memejamkan matanya, kini suara dengkuran sudah memenuhi ruangan yang tidak seberapa luas itu. Nabila membuka matanya, di lihatnya Adrian sudah tidur dengan suara dengkuran yang halus, kemudian Nabila mengarahkan pandangannya ke arah asal dengkuran yang keras. Ternyata Ibu Adrianlah yang mendengkur paling keras di sana. Bahkan Shavia yang masih kecilpun tidurnya sudah mendengkur.


.


.


.


Pagi harinya Nabila kembali di bangunkan oleh suara Adzan yang berasal dari Mesjid yang tak jauh dari kediaman Adrian. Nabila mendengar lantai yang berdecit, ternyata itu suara dari langkah kaki Ayah yang berjalan menuju ke arah dapur. Mungkin ingin ke kamar mandi, pikir Nabila.


Hingga tidak lama terlihatlah Ayah yang sudah siap dengan sarung, baju koko, serta sebuah peci yang menghiasi kepalanya. Ternyata Ayah mau ke mesjid.

__ADS_1


Nabila lebih memilih memainkan ponselnya untuk menunggu hari terang, hingga tidak terasa kini Ibu sudah bangun dari tidurnya saat Ayah pulang dari Mesjid. Ibu menunaikan shalat subuhnya terlebih dahulu, setelah itu barulah Ibu pergi ke warung untuk membeli sarapan.


Nabila ke dapur, mengambil teko, merebus air untuk membuat teh sebagai teman sarapan. Satu teko penuh mendidih bertepatan dengan kedatangan Ibu dari warung. Menuang gula kedalam teko kecil dengan teh celup yang menggantung disana, mengisinya setengah dengan air rebusan yang baru, dan setengahnya di isi dengan air dingin agar suhunya cocok untuk di minum saat ini juga.


Ternyata menu sarapannya sama saja seperti di rumah Nabila. Semua orang masing masing dapat satu bungkus nasi. Nabila mengisi tujuh gelas teh dan meletakkannya di tengah tengah.


Usai makan Nabila kembali membersihkan peralatan bekas makan. Adnan mandi lebih dulu karna dia akan berangkat bekerja, setelah itu di susul oleh Verry. Usai itu barulah Ayah, kemudian Ibu. Ayah dan Ibu akan pergi ke sawah untuk menanam padi, biasanya mendekati siang barulah Ibu pulang kerumah untuk memasak makan siang.


Kini tinggallah Adrian, Nabila, dan Shavia di rumah. Sedangkan Verry sudah berangkat ke sekolah bersama Adnan. Nabila memutuskan mandi, setelah itu barulah Shavia mandi dengan di awasi Nabila. Nabila memperlakukan Shavia dengan baik, sangat terpancarkan kasih sayang yang Nabila berikan untuk putri sambungnya itu. Dengan telaten Nabila memakaikan baju, hingga mengikat rambut Shavia.


"Dulu Ibu yang antar, Ibu nungguin sampai Via selesai sekolah. " Jawab Shavia.


"Kalau kemaren kemaren ini siapa. " Kembali Nabila bertanya.


"Paman Verry dan Paman Adnan. Via datang paling cepat. "

__ADS_1


"Terus pulangnya sama siapa. "


"Sama Ibu Guru, di antar. "


Kini selesai sudah kegiatan Nabila mengurus putri sambungnya. "Sekarang Via tunggu di luar ya. Mama mau nyuruh Papa mandi dulu. "


Nabila mendekati Adrian yang sedang duduk di pos ronda yang berada di seberang rumahnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2