
Tak ada lagi kecanggungan di antara Adrian dan Bila ketika mereka bertemu secara tidak sengaja di rumah orang tua Adrian.
Belakangan ini Bila lebih sering mengunjungi Shavia. Terkadang Bila membawa Shavia jalan jalan, juga tak jarang Bila menemani Shavia bermain di rumah.
Belakangan ini pula Adrian sering pulang karna Adrian ingin menyaksikan pertandingan yang di selenggarakan di desanya. Dari sanalah mereka mulai menjalin komunikasi dengan baik sebagai orang tua Shavia.
"Via, Papa mau kelapangan, kamu mau ikut, kita nonton Paman Verry main. " Tanyanya kepada Shavia.
"Mau, tapi kata Paman Verry hari ini Mama akan datang. Via nunggu Mama saja. Nanti Via ke lapangan sama Mama. " Jawab Shavia dengan pandangannya yang masih mengarah kepada televisi yang ada di depannya.
"Papa duluan ya. " Pamit Adrian.
Kali ini Shavia mengarahkan pandangannya kepada Adrian. "Dadah, Papa. " Seraya melambaikan tangannya ke kanan ke kiri.
Adrian tersenyum seraya mengangguk. Adrian merasa sudah tidak ada batasan antara dirinya dan juga putrinya. Selama pernikahannya dengan Bila, dia tidak pernah memperhatikan Shavia yang ternyata tingkahnya sangat manis.
Hanya memerlukan waktu lima menit Adrian tiba di lapangan tempat di adakannya kompetisi sepak bola antar desa.
Dengan langkah pasti Adrian berjalan ke arah para pemain yang sedang berkumpul. "Adnan gak main. "
"Gak, kaki Kak Adnan masih sakit katanya. "
__ADS_1
"Makanya aku yang gantiin. " Lanjut Verry lagi.
Adrian hanya mengangguk. Tak lama kemudian pertandingan pun di mulai.
Terdengar sorakan dari para pendukung kedua tim.
Permainan semakin memanas, tak tanggung tanggung, bahkan mereka bermain secara kasar.
"Papa. " Teriak Shavia sambil menarik narik tangan Bila sehingga mau tak mau Bila mengikuti langkah sang putri yang membawanya berjalan ke arah Adrian.
"Jangan ke sana Via, di sana berbaya. Nanti kalau terkena bola bagaimana. " Seru Bila saat melihat posisi Adrian yang berada sangat dekat dengan lapangan.
Shavia tak mendengarkan suara Bila. Dia tetap saja menarik tangan Bila hingga sampai di mana posisi Adrian berada.
"Ibu di sana. " Tunjuk Bila ke arah di mana Ibu Adrian berada.
"Papa, ayo kita duduk. Via capek berdiri. " Pinta Shavia sambil menarik narik tangan Adrian.
"Via duduk sama Mama ya. Papa mau liat Paman Verry main. Kalau disana tidak terlalu kelihatan. " Tolak Adrian secara halus.
"Iya, Via sama Mama ya. " Bila ikut membujuk.
__ADS_1
"Gak mau, mau sama Papa. " Rengeknya.
Dengan terpaksa Adrian mengikuti kemauan Shavia. Shavia kini sudah duduk dengan Adrian di sisi kanannya juga Bila di sisi kirinya.
Kebersamaan mereka membuat orang lain berpikiran yang berbeda beda, hingga ada yang menyimpulkan bahwa hubungan mereka semakin dekat.
Bukan tanpa alasan orang berpikiran seperti itu. Karna dulunya selama menjalin hubungan suami istri mereka tidak pernah keluar rumah bersama. Sehingga saat ini orang benyak yang beranggapan berlebihan.
Adrian berdiri agar dia bisa melihat jalannya pertandingan dengan leluasa, namun nihil, tetap saja pandangannya terhalang karna banyak yang menonton dari jarak dekat.
"Via, Papa ke depan ya. Di sini gak keliatan. " Ijinnya kepada Shavia.
Permainan terus berjalan hingga berakhir dengan skor 3 2 yang di menangkan oleh tim Verry. Namun sayang, Verry mendapat perlakuan kasar saat permainan berlangsung sehinga kini dadanya terasa sesak dan sedikit nyeri saat bernafas.
.
.
.
.
__ADS_1
.