
Di dalam hatinya Nabila berharap apa yang ia dengar tadi hanyalah suatu omong kosong.
Sesampainya ia di rumah ternyata semua orang masih tertidur. Nabila memilih duduk di teras rumah agar tidak mengganggu tidur siang mereka semua.
Hampir setengah jam Nabila duduk bersama Fa'iz di teras rumah, kini satu persatu di antara mereka sudah mulai terbangun, hingga menyisakan Adrian saja yang masih nyaman dengan tidurnya padahal waktu sudah hampir ashar.
"Sini Fa'iz biar Ibu yang jaga. Kamu istirahat saja, pasti capek kan dari tadi menjaga Fa'iz sendirian. " Ibu sudah mengambil Fa'iz dari pangkuan Nabila. Belum lima menit Ibu memangku Fa'iz, suara adzan sudah mengudara menandakan waktu sholat ashar sudah sampai.
"Sini sayang, sama Mama lagi, ya. "
"Nenek mau sholat dulu. "
Ibu kembali menyerahkan Fa'iz kepada Nabila. "Nenek sholat dulu ya. Nanti kita jalan jalan sama Kakak Via. "
Usai sholat Ibu mulai membenahi diri dengan sedikit memakai bedak juga pewarna bibir. Kemudian melangkah menuju Nabila yang ternyata berada di dalam kamar sedang menyusui Fa'iz.
Hampir sepuluh menit Ibu menunggu, barulah Fa'iz berhenti menyusu. "Ayo, cu. Kita jalan jalan dulu di dekat sini. "
Kini di rumah sudah tidak ada siapa siapa selain Nabila dan Adrian yang saat ini tengah memainkan ponselnya. Nabila yang masih memikirkan perkataan si Ibu yang tidak di kenal nya tadi pun merasa kesal.
"Kamu kenapa sih, dari tadi kok kaya ada aja yang di pikirin. " Tanya Adrian yang sudah menyadari bahwa Nabila sedang dalam perasaan tidak baik baik saja.
"Besok kita pulang. " Ketus Nabila.
"Pulang, katanya mau seminggu. "
__ADS_1
"Kamu kenapa sih kok tiba tiba minta pulang. "
"Memangnya kenapa, hemmmm. " Tanya Adrian melembut.
"Harusnya yang nanya itu aku. "
"Ngapain kamu dulu nyeraiin Kak Bila kalau akhirnya kalian akan rujuk lagi. " Tanya Nabila menggebu dengan setengah berteriak. Sebab dia masih sadar kalau mereka saat ini tengah berada di kediaman orang tua Adrian.
"Aku malu, kalian seakan akan bermain di belakangku. " Lanjut Nabila.
"Astagaa, sayang. "
"Kata siapa, gak ada kaya gitu. " Adrian kini merangkul Nabila yang masih mempertahankan ekspresi kesalnya, kemudian perlahan mengajak Nabila duduk.
"Siapa yang ngasih tau kamu. " Kini posisi mereka sudah duduk bersebelahan dengan Nabila yang tidak ingin bertatapan dengan Adrian.
"Ada lah yang ngasih tau. "
"Udahlah, ngaku aja. "
"Apa gunanya bercerai kalau akhirnya akan rujuk lagi. " Ketus Nabila.
"Hey, apa perlu kita mendatangi Bila biar kamu gak berpikiran seperti ini. "
"Lagian siapa juga yang ngasih tau kamu hal hal yang sama sekali tidak benar. " Adrian masih menyikapinya dengan santai. Sebab dia merasa dirinya benar.
__ADS_1
"Alah, orang gak mungkin juga kali asal bicara. " Bantah Nabila.
"Terus kamu percaya gitu. "
"Orang itu ngomong kaya gitu punya buktinya gak. "
Nabila terdiam. Apa dia salah mempercayai ucapan orang yang tidak di kenalnya. Bertemu pun hanya sesekali.
"Siapa tau orang itu cuman bercanda. "
"Kamu jangan terlalu cepat percaya. " Kata Adrian. Sebab Adrian ingat, saat beberapa waktu lalu juga tak sedikit para tetangganya beranggapan dia dan Bila akan rujuk karna pertemuan tidak sengaja saat menonton sepak bola. Memang saat itu dia menontonnya bertiga dengan Shavia.
Ahh, hanya karna hal yang menerutku sangat sepele bisa di salah artikan oleh banyak orang. Adrian.
.
boleh dong minta jempolee...
.
.
.
.
__ADS_1