Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 75


__ADS_3

Nabila melihat Shavia yang tampak lesu. Mungkin dia kelelahan, begitulah pikir Nabila.


Tanpa memperhatikan di sekitarnya Shavia terus berjalan mengikuti ke arah guru yang tengah menuntunnya itu.


"Via. " Panggil Nabila dengan agak keras. Karna sedari tadi Shavia berjalan dengan menunduk sehingga tidak menyadari kehadiran Adrian dan Nabila di sana.


Merasa namanya di panggil, Shavia langsung mengangkat kepalanya dan menemukan sumber suara yang tadi di dengarnya. Dengan lembut Shavia melepaskan tangannya dari tangan seorang guru yang biasa pulang bersamanya.


"Papaa, Mamaa. " Panggil Shavia dengan antusias serta berlari lari kecil ke arah mereka.


"Peluk Via Kak, dan berikan dia kecupan di kening. " Pinta Nabila selagi Via berjalan ke arah mereka.


Bak kerbau di cocok hidungnya, Adrian menuruti perintah Nabila. Setelah Shavia mencium tangannya Adrian menekuk kakinya, mensejajarkan tingginya dengan tinggi putrinya.


Awalnya Shavia agak bingung melihat apa yang akan Adrian lakukan. Tapi kebingungannya langsung terjawab saat Adrian mulai menenggelamkannya di dalam pelukan yang hangat. Pelukan yang sedari dulu diharapkan oleh Shavia.


Tentu saja Shavia balik memeluk Adrian dengan erat, kini dia dapat merasakan pelukan dari seorang Papa. Tak hanya sampai disana. Bahkan kini Papanya mencium keningnya.


Setelah mendapat amunisi dari Adrian kini Shavia sudah kembali bersemangat.

__ADS_1


"Via pulangnya biar sama kami, Bu. " Pinta Nabila dengan sopan kepada wanita yang tadi menuntun tangan putri sambungnya itu.


"Iya, Bu. " Balas si Ibu guru.


Kini mereka telah sampai di kediaman orang tua Adrian. "Bajunya di ganti dulu dong, baru setelah itu nonton televisi lagi. " Seru Nabila saat dia melihat Shavia yang sudah rebahan usai menyalakan televisi.


Dengan cepat Shavia masuk kedalam kamar dan berganti pakaian dengan baju rumahan.


Manis sekali. Batin Nabila.


Shavia kembali menonton televisi, sedangkan Nabila kini mulai mencuci beras untuk memasak nasi. Ikan sudah ada, sayur sudah ada, nasi sudah di masak, sekarang tinggal nunggu Ibu dan Ayah sambil rebahan. Nabila.


"Baru pulang, Bu. " Sapa Adrian yang kebetulan baru keluar dari rumah berniat untuk membeli rokok di warung.


"Iya, kamu pulangnya sendiri. " Tanya Ibu, padahal Ibu tahu jelas, kalau tidak mungkin Adrian pulang sendiri, karna sebuah flatshoes berwarna grey terletak di sebelah sepatu Adrian.


"Sama Nabila, Bu. Dia ada di dalam sama Via lagi nonton televisi. "


Ibu Adrian hanya mengangguk, kemudian masuk kedalam rumah, langkah Ibu Adrian membuat lantai berdecit, Nabila langsung mengarahkan pandangannya ke sumber suara yang dia dengar.

__ADS_1


"Emmhh, Ibu. Baru pulang. " Sapa Nabila dengan kikuk. Karna tadinya dia pikir itu Adrian.


Tak ada jawaban apa pun dari Ibu Adrian kecuali sebuah anggukan. Ibu Adrian melewati Nabila tanpa menyapanya. Nabila tetap tersenyum, setidaknya Ibu mertuanya itu sudah memberinya jawaban dengan sebuah anggukan.


Ibu Adrian langsung bergegas mandi, saat dia melewati meja makan, dia agak terkejut, melihat sudah banyak hidangan yang masih tertutup tudung saji.


Lumayan pengertian. Ibu Adrian.


Cihh, apa aku sedang memujinya. Lanjut Ibu Adrian lagi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2