Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua
Bab 79


__ADS_3

Kini Nabila dan Adrian sudah menempati rumah barunya yang dapat dikatakan tidaklah luas itu. Rumah itu hanya terdiri dari satu ruang tamu, satu kamar, serta dapur dan kamar mandi.


Mereka hanya membeli perabotan rumah tangga seperlunya saja, agar mereka masih memiliki uang untuk sebagai simpanan.


.........


Waktu terus bergulir, hingga kini usia pernikahan mereka hampir memasuki satu tahun. Perihal anak tidak pernah lagi dipertanyakan oleh keduanya, mereka sudah pasrah, kapanpun Tuhan memberinya.


Semenjak mereka menempati rumah baru mereka, Nabila sudah jarang membantu Adrian menyadap karet. Adrian merasa tidak tega kalau paginya Nabila harus ikut dengannya, dan sepulang dari menyadap karet Nabila kembali di sibukkan dengan pekerjaan rumah lainnya.


Kini Adrian sudah pandai menyadap karet, jadi dia tidak masalah kalau dia melakukannya sendiri.


"Nabila, aku pergi ya. " Pamit Adrian ingin menyadap karet.


"Yakin nih, Kak. Gak mau aku bantu gitu biar pulangnya cepat. " Kembali tawar Nabila.


"Yakin aku mah, aku pergi dulu ya, masak yang enak buat nanti siang ya. " Adrian langsung berjalan memunggungi Nabila menuju ke arah motornya yang sudah terparkir di tepi jalan.

__ADS_1


Kini pekerjaan yang dulunya terasa berat oleh Adrian sudah tidak lagi terasa berat. Adrian mulai menyadap dari satu pohon ke pohon yang lain sembari mendengarkan music yang berasal dari ponselnya.


Tanpa terasa pekerjaan Adrian pun selesai, kini dia memilih untuk beristirahat sejenak sambil bersandar di pohon karet yang getahnya masih menetes.


Gak nyangka banget, sudah hampir setahun aku menikahi Nabila. Semua terasa begitu indah, masih bagaikan mimpi aku bisa memilikinya. Adrian.


Adrian berdiri lalu menepuk nepuk pelan pantatnya. Usai mengemasi barang barangnya Adrian langsung memutuskan untuk pulang.


...............


Sudah hampir satu minggu ini Nabila mengeluh badannya mudah sekali merasa lelah, bahkan sudah hampir satu minggu pula dia mengerjakan pekerjaan rumah dengan seadanya.


"Iya deh, Kak. Nanti sore saja. Kalau jam sekarang Pak Mantri masih ada di puskesmas. "


"Coba aja iyain dari kemarin kemarin. Jadinya kamu gak perlu terlalu lama menahannya. " Seru Adrian.


"Kak, nanti belikan aku tumis capcay ya sama ayam crispy, kalau Kakak terserah aja beli yang mana. "

__ADS_1


"Nasi tadi sudah ku masak, jadi gak perlu beli pakai nasi. "


Adrian pergi ke desa sebelah untuk membeli makanan siap santap, karena di desa Nabila tidak ada yang menjualnya. Hanya perlu waktu kurang dari sepuluh menit Adrian sudah tiba di tempat tujuan.


...............


Usai Shalat Maghrib Adrian bergegas membawa Nabila ke rumah Pak Mantri yang juga berada di desa sebelah, rumahnya dekat dengan rumah tukang warung yang tadi siang Adrian datangi.


Setibanya mereka di rumah Pak Mantri ternyata sudah banyak orang yang mengantri. Karna memang di sini biaya berobat sangatlah terjangkau. Hanya perlu membawa uang lima puluh ribu mereka sudah mendapat satu suntikan serta beberapa tablet obat. Itu pun terkadang masih ada kembaliannya. Meskipun murah tapi kualitasnya tetap terjaga, dan pasien banyak yang sembuh usai berobat dari sini.


Adrian langsung mengambil nomor antrian dan duduk bersama yang lainnya yang juga menunggu nama mereka di panggil.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2