
Adrian menekuni pekerjaanya dengan telaten. Hinggak tak terasa kini empat bulan sudah berlalu. Adrian menghitung semua tabungannya.
Ternyata masih kurang, apa aku harus menjual motor kesayanganku juga. Kalau dijual, belum tentu aku bisa membelinya lagi.
Adrian menghembuskan nafas dengan kasar. Sudah empat bulan dia tidak bertemu sang Ibu. Rasa rasanya Adrian sudah merindukan sang Ibu.
Lalu Adrian memutuskan pulang ke Kampung halamannya untuk mengobati rindunya kepada sang Ibu. Sesampainya di Kediaman Ibu Adrian.
"Ibu, Adrian pulang. " Sapa Adrian sambil memeluk sang Ibu.
"Akhirnya, ingat juga kamu sama Ibu, Adrian. "
"Adrian sangat merindukan Ibu. " Sambil melerai pelukannya.
Mereka berjalan menuju ruang keluarga. Adrian duduk disamping Ibunya dan menyandarkan punggungnya disandaran sofa sambil menghembuskan nafas secara kasar.
"Ada apa Adrian. " Tanya Ibu.
"Adrian hanya lelah, Bu. " Jawab Adrian.
"Ya sudah, istirahatlah kalau kamu lelah. Nanti Ibu akan menyuruh Bila untuk membawa Via kemari. Barang kali kau juga merindukan mereka. "
"Iya, Bu. " Sambil berjalan memasuki kamarnya.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Saat malam harinya dimeja makan. Semua anggota keluarga sudah berkumpul. Adrian, Ayah, Ibu, serta Kakak dan juga Adik Adrian. Mereka semua menikmati makan malam dengan lahap.
"Memangnya untuk apa uang sebanyak itu, Adrian. " Tanya sang Ayah.
Sebelumnya Ibu Adrian sudah menceritakan perihal Adrian yang membutuhkan uang sekian juta dalam waktu dekat kepada sang Ayah.
Adrian terdiam, tidak mungkinkan dia mengatakan kepada orang tuanya kalau dia mau menikah lagi.
"Sesuatu apa, barang atau apa. " Tanya sang Ayah kembali.
"Semacam itulah, Yah. " Ucap Adrian.
"Bukan barang haramkan, Adrian. "
"Ya bukanlah, Yah. Ayah ini ada ada saja. " Ucap Adrian.
Ibu, Adik, serta Kakak Adrian hanya diam.
__ADS_1
"Apa uangnya sudah cukup. " Kali ini sang Ibu yang bertanya.
"Masih kurang sedikit, Bu. Adrian masih harus bekerja di penambangan selama sebulan lagi, sampai uang Adrian cukup. " Jelas Adrian.
"Ibu tidak ingin kamu kembali kesana, Adrian. Sebenarnya apa tujuanmu. "
Hening, Adrian paling lemah dengan Ibunya. Rasanya begitu berat karna harus membohongi sang Ibu. Tapi, kalau Adrian berterus terang, sudah dapat dipastikan kalau Ibunya tidak akan mengizinkan Adrian menikah lagi.
Bu, maafkan Adrian karna harus berbohong kepada Ibu. Adrian sangat mencintainya, Bu. Dia segalanya bagi Adrian setelah Ibu. Adrian janji, suatu saat Adrian pasti akan mengatakan yang sebenarnya kepada Ibu.
"Adrian kenyang, Bu. Adrian mau pamit kerumah teman sebentar. " Berusaha mengalihkan perhatian sang Ibu.
Setelah Adrian meninggalkan meja makan. Sang Ibu langsung kembali mengeluarkan suaranya.
"Sebenarnya untuk apa Adrian uang segitu banyaknya. " Kali ini sang Ibu bertanya kepada Putra sulungnya.
"Ibu saja tidak diberi tahu Adrian, apalagi kami ini, Bu. Ibukan yang paling dekat dengan Adrian. Jadi Ibu tahu betul. Jika Ibu tidak tahu, itu artinya kami lebih tidak tahu lagi, Bu. " Jawab Adnan, Kakak Adrian.
"Sudahlah, Bu. Biarkan saja Kak Adrian. " Ucap sang Adik.
"Anak kecil seperti kamu tahu apa urusan orang dewasa. " Ucap Adnan sambil menoyor kepala si Bungsu.
"Ibu hanya takut, kalau Adrian membeli yang tidak tidak dengan uang sebanyak itu. "
"Ibu seperti tidak mengenal Adrian saja. Tadikan sudah Ayah tanyakan. " Ucap sang Ayah.
__ADS_1
"Ayah ini selalu saja membela Adrian. " Kata sang Ibu sambil tersenyum masam.