
Usai memberitahukan kehamilan Nabila kepada keluarga Adrian yang di sambut dengan suka cita pula oleh orang tua Adrian.
Bersyukurlah Adrian, kamu masih di beri kesempatan untuk memiliki keturunan lagi. Kali ini lakukan peranmu dengan sebaik mungkin. Adrian mengingat apa yang Ibunya katakan.
Kini Adrian dan Nabila sedang berada di rumah Hendra yang tak lain adalah orang tua Nabila.
"Pa, Ma, ada kabar baik dari kami. " Ucap Nabila dengan raut wajah yang berseri seri akan kebahagiaan yang tengah ia rasakan.
"Apa itu, Sayang. " Sambut Andini lantaran penasaran apa yang membuat putri sulungnya ini seakan sangat bahagia.
"Nabila sekarang hamil, usianya sudah hampir dua bulan, Ma. " Seraya mengusap perutnya.
"Alhamdullilah, akhirnya kalian mendapat kesempatan untuk menjadi orang tua. "
"Mama doakan semoga kalian sehat, juga baby nya gak rewel. " Tutur Andini.
"Papa turut senang mendengar kabar yang kalian sampaikan. Ahh, sebentar lagi Papa akan memiliki cucu. "
"Papa harap dia seorang laki laki. "
"Tapi kalau perempuan pun juga tidak apa apa. " Lanjut Hendra.
"Semoga saja laki laki, Pa. Kami pun juga sama seperti Papa. Tapi kalau Tuhan memberi kami anak perempuan lagi pun juga tidak apa apa. " Ucap Nabila.
__ADS_1
"Lagi. " Beo Hendra.
Nabila memandang wajah Adrian yang sudah menegang. Diraihnya tangan Adrian hingga kini tangan mereka saling menggenggam untuk saling menguatkan.
"Pa, Ma ada lagi yang ingin Nabila sampaikan. " Nabila menghela nafas sejenak. "Ini tentang asal usul Kak Adrian, Ma, Pa. " Lanjut Nabila.
Andini serta Hendra saling melempar pandangan. Sama sama mulai menduga duga kemana arah pembicaraan Nabila, asal usul.
"Sebenarnya Kak Adrian ini seorang duda yang memiliki satu anak perempuan- belum usai Nabila bicara, Hendra sudah bangkit dari posisinya yang semula duduk kini jadi berdiri.
"Apa apaan ini, Adrian. " Hendra menaikkan nada bicaranya.
Andini langsung menenangkan suaminya. "Sabar, Pa. Kita dengarkan dulu apa yang ingin Nabila sampaikan. Jangan terlalu dini mengambil kesimpulan. "
Kini nyali Nabila dan Adrian mulai menciut, tapi mau tidak mau mereka harus mengatakan semuanya.
Dengan enggan Hendra kembali duduk dengan raut wajah yang sudah berubah.
Nabila meneguk salivanya dengan susah payah. "Kak Ad-rian ju-ga " ucapnya dengan terbata bata karena takut akan reaksi yang kelak Hendra berikan.
"Tenanglah, biar aku yang bicara. " Ucap Adrian seraya mengusap lengan Nabila untuk menenangkannya.
"Pa, Ma, maafkan saya. Saya sebenarnya masih memiliki orang tua, juga keluarga. Saya telah membohongi kalian. Sekali lagi saya minta maaf, Ma, Pa. " Usai mengucapkannya Adrian hanya menunduk. Menanti respon yang akan Hendra berikan. Bahkan Adrian sudah bersiap kalau kalau dia mendapat pukulan dari Hendra.
__ADS_1
Hendra hanya mendesah, hal yang sedari awal dia ragukan kini terungkap. Mau marah pun seakan percuma.
"Apa alasanmu membohongi kami semua. " Tanya Hendra datar.
Adrian bungkam. Apa yang harus dia katakan. Tidak mungkin dia mengatakan kebenarannya kepada Hendra. Nabila meremas tangan Adrian. Kepanikan mulai menghinggapi keduanya.
"Pa, Adrian terpaksa melakukannya. Karna- Hendra mengangkat tangannya. Tanda untuk menghentikan penjelasan Nabila.
"Papa tidak bertanya padamu. " Masih bicara dengan nada yang datar. Meskipun begitu, Nabila dapat mengetahui kalau saat ini Hendra tengah menahan amarahnya.
"Karna orang tua saya tidak mengijinkan saya menikah kembali, Pa. " Adrian lebih memilih menjawab secara ambigu. Toh benar apa yang dia katakan kalau orang tuanya dulu tidak merestui pernikahan mereka.
.
Jangan lupa tekan jempolnya yaa.
.
.
.
.
__ADS_1