
Hari terus berlalu. Hingga tak terasa kini sudah dua minggu usia pernikahan Nabila dan Adrian. Hari ini Adrian akan pulang ke rumah orang tuanya.
"Kamu yakin tidak ingin ikut. " Sebari mengusap pucuk kepala Nabila yang sedang berbaring. Entah sudah berapa kali Adrian menanyakan hal yang sama.
"Kakak pulanglah sendiri lebih dulu. Ceritakan semuanya kepada Keluarga Kakak disana. Agar saat aku ke sana mereka tidak terkejut melihat kedatanganku. "
"Baiklah. Aku mandi dulu ya. "
Nabila menahan tangan Adrian saat Adrian hendak bengun. "Bolehkah aku meminta satu hal, Kak. " Dengan netra yang sudah mulai berkaca kaca.
"Tentu saja. Jangankan satu hal. Segala hal pun akan ku lakukan untukmu. "
"Jangan pertemukan aku dengan Istrimu, Kak. Aku takkan sanggup jika berhadapan dengannya. Aku pasti akan sangat merasa bersalah padanya. " Air mata Nabila menetes. Tak kuasa membayangkan jika dia yang berada di posisi Bila. Enam tahun berada disisi Adrian, mendampinginya dengan sepenuh hati. Namun sedetik pun tak pernah diperdulikan oleh Adrian.
"Jangan menyalahkan dirimu. Kau tidak salah. Aku yang salah. " Kembali memberikan pelukan kepada Nabila. "Sudah, jangan dipikirkan. Biarkan aku yang memikirnya. " Lanjut Adrian.
Bagaimana aku tidak kepikiran, Kak. Aku menikahi suami orang lain.
"Sana mandi, Kak. Aku mau buat sarapan dulu. "
Mereka berjalan bersama ke arah dapur dengan tujuan yang berbeda.
__ADS_1
Setengah jam kemudian sarapan yang Nabila buat sudah selesai. Nabila langsung mandi untuk menyegarkan tubuhnya dan mereka menikmati sarapan paginya dengan hati sama sama tak menentu.
"Aku pamit ya. Aku tidak akan lama. " Sambil memberikan ciuman panjang dipucuk kepala Nabila.
"Ku antar keluar, Kak. " Menggandeng erat tangan Adrian. Hendra juga Andini pun ikut mengantar Adrian sampai di depan rumah.
Adrian melajukan motornya dengan perlahan. Selama diperjalanan Adrian terus berharap. Semoga Bila bisa menerima kenyataan yang menyakitkan ini. Agar semuanya tidak semakin rumit.
Perlu waktu tiga jam untuk Adrian sampai di rumah orang tuanya. Seperti biasa, sang Ibulah yang selalu menyambut kedatangannya.
"Kamu apa kabar, Nak. Ibu sangat merindukanmu. " Memberikan pelukan hangat kepada sang Ibu.
"Adrian pun juga merindukan Ibu. Di mana Ayah, Bu. "
Usai mengantarkan Adrian ke kamarnya. Sang Ibu langsung mengambil ponselnya untuk menelpon sang Menantu. "Assalamualaikum, Bila. "
"Waalaikum salam, Bu. Ada apa. "
"Adrian sudah pulang, Bila. Nanti malam kamu bawa Via kesini ya. Kita makan malam bersama. Sudah lamakan kita tidak pernah berkumpul. "
"Iya, Bu. Nanti sehabis Maghrib Bila akan ke sana. "
__ADS_1
Aku tetap merindukanmu, Mas. Meski ku tahu rinduku takkan pernah terbalas.
.
.
.
Ceklek.
Pintu kamar Adrian terbuka.
"Masih ingat sama rumah, Kamu. " Sapa Adnan.
"Ya iyalah ingat. Masa lupa. " Ketus Adrian.
"Kamu gak bisa ya Adrian kalau setahun saja kamu tinggal disini. Tanpa perlu merantau pun aku yakin kau tidak akan kekurangan uang. Kau tahukan Ibu sudah tua. Ibu selalu berkata kalau dia ingin kamu tinggal disini bersama kami semua. "
"Nanti kau akan tahu, Kak kenapa aku jarang berada disini. "
"Karna Bila. " Tebak Adnan.
__ADS_1
"Tidak hanya itu, aku merasa disana aku bisa mengendalikan diriku. Sedangkan disini, kau tahu sendiri kan bagaimana keseharian ku. " Jelas Adrian.