
"Kamu sudah tidak waras Adrian. Bagaimana dengan Via. Selama ini dia sudah tidak mendapatkan kasih sayangmu. Apa kau ingin membuatnya lebih menderita lagi. " Cecer sang Ibu.
"Akupun tidak bisa meninggalkan Nabila, Bu. Apa nanti penilaian orang kalau kami berpisah, bahkan baru dua minggu yang lalu kami menikah. Tidak hanya itu, Bu. Aku pun amat mencintainya. Dia segalanya bagiku setelah Ibu. "
"Kalau Ibu adalah segalanya bagimu. Tolong turuti perkataan Ibu Adrian. Ceraikan dia, mulailah hidup baru kalian bertiaga dengan layak. Anggap saja ini kamu lakukan untu Via. " Ibu Adrian melemah.
"Bu, untuk kali ini saja. Tolong Ibu terima keputusanku. Bila akan tetap menjadi Istriku, tidak ada yang berubah. " Bujuk Adrian.
"Aku tidak ingin di madu, Mas. " Bicara dengan nada tinggi. "Tidak di madu saja kau mengabaikan ku, apa lagi kalau aku memiliki madu. Kau akan lebih mengabaikan ku. "
"Kalau begitu kamu yang mundur. Kamu sendiri yang menginginkan kita berpisah. "
Mungkin hanya sampai disini saja aku sanggup bertahan, Mas.
"Baiklah, kalau itu mau mu, kita berpisah. " Ucap Bila.
*Sepertinya ka*u sangat senang dengan keputusanku, Mas.
Bila tersenyum getir. "Semudah itu kau melepaskan ku, Mas. Kau memang keterlaluan. "
__ADS_1
Bila langsung beranjak dari posisinya. Masih dengan Air mata yang berjatuhan dia memutuskan untuk kembali kerumahnya dan meninggalkan Via di sana.
Tidak butuh waktu lama dia langsung tiba dirumahnya. Bergegas masuk kedalam kamar untuk menumpahkan segala emosinya. Bila menangis sepuas puasnya.
"Kau keterlaluan, Mas. Apa tidak cukup selama ini mengabaikan ku. Dan sekarang kau justru menceraikanku dengan mudah. Bahkan yang kulakukan bertahun tahun untukmu pun tak pernah sedikitpun membekas dihatimu. "
Bila mengeluarkan semua pakaian milik Adrian dan melemparnya ke teras rumah. Tidak peduli apa pun penilaian orang lain padanya. Yang dia pikirkan sekarang hanyalah emosinya. Dengan cepat dia mengunci pintu lalu kembali ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya ditempat tidur. Keputusannya bersama Adrian seakan menguras seluruh tenaganya. Hingga tak terasa Bila tertidur karna sudah terlalu lelah mengangisi nasibnya.
Bila terbangun dengan mata yang sembab karna hampir semalaman dia menangisi Adrian.
Sudah cukup aku menangisimu, Mas. Tidak lagi untuk hari ini ataupun hari esok.
Dengan santai nya Bila melewati pakaian serta barang barang Adrian yang masih berada di lantai teras nya.
Sepulangnya membeli sarapan Bila sudah disambut oleh Adrian yang sedang duduk santai di dekat pakaiannya yang sudah dia masukkan kedalam tas kecil yang entah dari mana Adrian mendapatkannya.
Bahkan dengan santainya dia bersikap seakan akan tidak terjadi apa pun tadi malam.
"Ini, Via nyari kamu. " Ucap Adrian sambil menujuk Via yang sedang asik bermain dengan teman di sebelah rumahnya.
__ADS_1
"Mulai sekarang Via adalah tanggung jawabmu, Mas. Kau bawa saja dia. "
Tanpa menunggu jawaban Adrian, Bila langsung menutup pintu rumahnya dengan kencang, tak lupa Bila juga menguncinya.
Bukan dia tidak menyayangi Via sehingga menyerahkannya pada Adrian. Tapi, setiap kali dia menatap Via dia pasti akan merasa menatap Adrian. Jadi Bila rasa hatinya akan lebih mudah membaik jika Via tidak bersamanya.
.
.
.
.
.
**Hai teman teman. Maaf ya baru up. Kemaren tu aku baca Rembulan maraton dari Bab1 sampai Bab 70. Makanya gak sempet up. Soalnya waktu luang nya kepake buat baca.
Bangun jam 3 lagi ni teman teman biar bisa ngetik tanpa gangguan anak anak. Bab berikutnya masih di ketik yaa**.
__ADS_1