
Alhamdulillah, ada waktu luang buat ngetik....
.
.
.
Hingga sore hari Nabila masih belum bisa mengeluarkan asinya. Sudah berbagai cara di lakukan, mulai dari di hisap langsung oleh bayinya, menggunakan alat pumping, hingga di perah perlahan menggunakan tangan dan baby oil. Bukannya mengeluarkan asi justru Nabila mengeluh sakit karna terus di paksakan.
"Ini kok gak ada asinya sih. "
"Padahal breastnya besar loh. " Keluh Andini.
"Ya udah lah ya. Pakai susu formula aja kalau begitu. " Adrian juga tidak tega melihat Nabila yang meringis menahan sakit, di tambah dengan luka jahitannya yang memang masih terasa perih.
Para sanak keluarga silih berganti menjenguk Nabila. Hingga malam hari tiba, suasana berubah menjadi lebih senyap. Hanya tinggal Adrian dan Andini beserta Fa'iz yang menginap di rumah sakit. Sedangkan Hendra harus pulang lantaran Yuda sendirian di rumah.
Sepertinya mulai malam ini mereka sudah tidak bisa tidur nyenyak lagi sampai beberapa bulan kedepannya.
Jam sembilan malam semua orang sudah mulai memejamkan matanya, namun baru saja Adrian terbang ke alam mimpinya, suara tangisan bayi langsung membangunkan semua orang, kecuali Fa'iz yang tertidur begitu lelap.
__ADS_1
Adrian membuat susu dengan lambat lantaran dia masih dalam tahap membiasakan diri. Nabila dan Andini di buat gemas melihatnya. Namun mereka harus membiarkannya agar Adrian terbiasa.
Hampir tiga menit barulah Adrian selesai membuatkan susu untuk bayinya dan langsung dia serahkan kepada Andini yang sedang menggendong bayinya.
Setelah usai memberikan susu mereka kembali melanjutkan tidurnya.
.........
Pagi ini Adrian terbangun dengan kepala yang sakit lantaran tidurnya terganggu. Sangat berbeda dengan kelahiran Fa'iz dan Shavia.
Jika kelahiran Shavia dulu dia sama sekali tidak terlibat apa pun. Namun kini sangat berbanding balik dengan kelahiran putri kedunya saat ini.
Kini Adrian benar benar terlibat. Mata Adrian sudah memerah, namun ketika menatap bola mata putri kecilnya, rasa bahagian mulai mendatanginya.
Via, maafkan Papa yang tidak mendampingi tumbuh kembangmu sedari lahir. Benar apa yang di katakan orang orang. Bahwa penyesalan selalu hadir di akhir. Kau boleh iri dengan adik adikmu, tapi jangan sampai menjadi dengki. Papa menyayangimu, sama seperti Papa menyayangi adik adikmu. Hanya saja Papa terlambat menyadarinya, sehingga Papa mengabaikan mu bertahun tahun lamanya. Adrian.
Usai sarapan Adrian langsung membawa bayinya keluar untuk berjemur. Setelah lima belas menit dia kembali ke ruang rawat Nabila yang sedang di periksa oleh dokter.
"Pak, hari ini tubuh Ibunya harus bisa ngadep kiri kanan ya. Kalau Ibunya tidak bisa bergerak sendiri bisa di bantu sama keluarga. Biar tubuhnya tidak kaku karena terlalu lama berbaring. "
Usai memeriksa Nabila dokter itu langsung berpamitan untuk memeriksa pasien lainnya.
__ADS_1
Andini memilih pulang bersama Fa'iz sebab ada Yuda yang ia tinggalkan di rumah.
Setelah kepulangan Andini, Adrian langsung mengambil baskom kecil yang berisi air hangat serta handuk kecil yang bersih untuk menyeka tubuh Nabila yang lengket.
"Bisa ngadep kiri gak. Biar di belakang juga di seka. "
Dengan perlahan Nabila mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun terasa berat dan kaku.
Nabila menggeleng. "Gak bisa, Kak. Susah. "
"Ke gerak dikit aja jahitanku berasa sakit. "
.
.
.
.
.
__ADS_1