
Ada satu orang dengan suasana hati yang senang, juga ada satu orang dengan suasana hati yang gundah. Terbiasa akan keberadaan orang tuanya membuat Nabila merasa asing dengan malam takbiran yang ia rasakan kali ini.
Kalau aku saja merasa gundah, lalu bagaimana dengan Kak Adrian yang setiap tahun lalu merayakan suasana lebaran jauh dari orang tuanya. Nabila.
"Kenapa melamun, hmm. " Ternyata sedari tadi Adrian memperhatikan Nabila yang diam dengan pandangan kosong.
Nabila sedikit terkejut, tapi dengan cepat dia mengulas senyuman. "Aku hanya memikirkan Mama dan Papa, Kak. "
"Seakan ada yang berbeda, sehingga aku merasa sedikit asing. "
"Kau ingin pulang. " Tanya Adrian yang sudah mengerti ke arah mana pembicaraan Nabila.
"Tidak, Kak. Kalau Kakak bisa berjauhan dengan orang tua, kenapa aku tidak. Hanya saja aku belum terbiasa. " Kilah Nabila. Sebenarnya dia sangat ingin pulang dan menikmati suasana lebaran bersama orang tuanya seperti yang lalu lalu. Namun Nabila tidak ingin egois.
"Pelan pelan kau akan terbiasa. " Maafkan aku yang kali ini egois. Adrian.
"Kak, aku merasa seperti tidak memiliki anak. " Gelak Nabila, sebab sedari tadi Fa'iz selalu di asuh oleh Ibu mertunya, Ibu hanya memberikan Fa'iz kepada Nabila untuk menyusui, setelah itu Fa'iz kembali ke tangan Ibu.
"Bukankah itu hal yang baik. "
__ADS_1
"Kau memiliki waktu lebih untuk beristirahat. " Kini Adrian mengajak Nabila untuk duduk bersantai di teras rumah sembari menikmati secangkir teh.
"Tapi aku merasa tidak enak karna Ibu pasti kelelahan menjaga Fa'iz yang selalu ingin di gendong. "
"Apa lagi berat badan Fa'iz yang sudah semakin berat. " Nabila saja sering merasa pegal kalau menggendong Fa'iz dalam kurun waktu hampir satu jam. Apa lagi Ibu yabg menjaga Fa'iz sedari tadi. Pasti setelah ini tangan Ibu akan kebas.
"Kau tidak lihat Ibu bergantian dengan Ayah untuk menggendong Fa'iz. " Pandangan Adrian mengarah kepada orang tuanya yang tengah berinteraksi dengan putranya.
"Ah, tetap saja, Kak. "
"Jangan merasa tidak enak. "
"Merekakan jarang terkumpul Fa'iz, jadi biarkan mereka menjaga Fa'iz selagi kita berada di sini. "
Hingga tak lama tampak Fa'iz sudah mulai rewel dan mengucek ngucek matanya yang mulai memerah. "Fa'iznya udah ngantuk nih kayanya. " Kini Ayah yang memberikan Fa'iz kepada Nabila.
"Uhhh, udah ngantuk ya kamu. Sini sini kita mimi dulu ya. " Seraya melangkah masuk kedalam rumah hingga kini Nabila sudah berada di dalam kamar yang berukuran dua kali tiga.
Nabila mengarahkan pandangannya ke sekeliling kamar yang tidak memiliki pintu itu. Sudah tidak ada lagi pakaian yang biasanya berserakan di lantai.
__ADS_1
Adrian menyusul Nabila, mengerti akan tatapan Nabila Adrian langsung mengambil kasur lipat yang tipis sebagai alas untuk mereka tidur. Setelah kasur di tata dan dilapisi sprei barulah Nabila membaringkan Fa'iz dan mulai menyusuinya dengan posisi miring.
"Panas ya, bentar. Aku ambil kipas angin dulu. " Ucap Adrian tatkala melihat Nabila yang sudah mulai berkeringat.
Tak butuh waktu lam Fa'iz pun terlelap karna ini memang sudah lewat jam tidurnya. Baru saja Nabila ingin memejamkan matanya justru dia di kejutkan dengan kehadiran Shavia yang tiba tiba.
"Yah, Adik Fa'iznya udah tidur. " Tampak raut kecewa membingkai wajahnya nan manis.
"Ayo, Via juga tidur ya. Besokkan harus bangun pagi. "
"Via mau tidur di mana. "
"Sama Mama di sini atau sama Nenek di luar. " Tanya Nabila.
.
.
.
__ADS_1
.
.